Trayek Oplet

Pasca reformasi , ketika ruang gerak untuk bermusik dengan tema-tema ekspresi kebudayaan justru digusur oleh kepentingan yang lebih pragmatis / hiburan . Dan ketika bangunan mall-mall dan apartemen baru yang “mengangkang angkuh” berubah drastis seperti layaknya “kuburan bertingkat” , sangking sepinya . Terlintas dalam benak berbagai persoalan ‘gelap’ berubah jadi tampak kian jelas .

Bahwa telah tiba era yang memberikan kesempatan bagi ‘perubahan’ yang luar biasa . Tak ada satu kekuatanpun yang mampu menghalangi hadirnya Momentum tersebut , sepertinya juga tak ada satu orangpun yang mampu merekayasa bangsa Indonesia untuk menciptakan situasi kondisi seperti itu . Yang terjadi adalah sebuah “proses” akumulatif yang dihasilkan dari ber-benturan-nya aplikasi-aplikasi yang tak terencana oleh sebuah sistem design yang seharusnya integral.

Hanya satu yang patut dipetik sebagai catatan besar sejarah perilaku karakter bangsa Indonesia . Bahwasanya potensi yang mampu memicu kekacauan / chaos tersebut tidak menarik minat rakyat Indonesia dari Sabang hingga Merauke , untuk beramai-ramai menyulut api perpecahan . Satu kalimat konkrit yang tak perlu diragukan lagi bahwa semangat untuk menjadi INDONESIA tetap tak tergoyahkan . Hal tersebutlah juga rupa-rupanya satu-satunya modal yang masih dimiliki bangsa ini . Tapi sampai kapan ya..?

Sebelum melanjutkan , saya akan kembali ke paragraph awal tulisan ini diatas .

Sebagai musisi saya mengalami betul kondisi yang sangat tidak bersahabat bagi ekspresi berkesenian tersebut . Tak lagi tersedia ruang yang cukup layak yang biasanya memfasilitasi kegiatan bermusik , baik itu dipanggung-panggung besar maupun di ruang-ruang rekaman seperti saat-saat sebelumnya. Pintu-pintu menuju lorong tersebut semuanya seolah ber-stiker “commercial only” . Atau bisa saya terjemahkan menjadi “up to 30 years old musician only” .

Pada saat yang bersamaan , datang secara berbondong-bondong investasi asing yang bercokol dan boleh bergerak secara leluasa guna menancapkan kebijakan industri ekonominya.., atas nama demokrasi ekonomi / pasar bebas terbuka . Kemudian secara berebutan mereka berkeinginan menguasai (“membeli”) hampir seluruh asset-asset master lagu-lagu dan musik Indonesia , baik yang belum pernah diedarkan oleh produsen lokal maupun yang sudah dipasaran luas. Setelah asset-asset tersebut dikuasai .., apa yang terjadi berikutnya adalah “mem-peti es-kan” semua karya-karya musik tersebut , sehingga tak ada lagi peredaran lagu-lagu seperti diatas , kecuali dibawah kontrol kekuasaan / hegemony industri mereka .

Bukan hanya medianya saja yang dikuasai (kaset / cd) namun bahkan si pelaku bisnis /pengelolanya (dulu disebut dengan istilah produser lokal) , semuanya direkrut dan dibeli untuk menjadi pegawai yang bekerja dibawah bendera-bendera besar mereka (asing) . Hm…., karena saya atau sebagian teman-teman yang lainnya (musisi) bukan barang yang bisa dibeli , maka ruang gerak bagi “ekspresi kesenian” lah yang mereka mampatkan hingga sama sekali tertutup . Tentu saja ada pengecualian … seandainya saja saya bersedia “kompromi” dengan strategi kepentingan bisnis mereka (kebutuhan pragmatis) tentu akan lain lagi halnya . (mustinya kali ya..)

Maka maklumlah saya bila pada akhirnya … hanya musisi belia yang muda dan imut-imut , yang disodori kesempatan dan fasilitas untuk bisa dinobatkan secara periodik sesuai design GBHN mereka , sebagai icon musik Indonesia , ‘yang dong’ . Sementara yang sudah dianggap tua sudah “ora dong..” lagi , hehehe apes dah.. :)

Untung saya sudah lahir lebih lama , jadi nggak terlalu pusing memikirkan “eksistensi” diri , hehehe !

Dipihak lain ,

Apa yang saya pahami dengan bertebarnya mall-mall dan apartement yang menyerupai barisan kuburan diatas adalah , kenyataan bahwa macetnya sirkulasi “mata uang” yang hanya dikuasai oleh segelintir kelompok / petualang bisnis real estate . Mereka-mereka yang notabene punya privilage untuk mendapatkan akses perkreditan berdasarkan KKN , saat itu tertumbuk ‘kena-batu’ nya . Setelah tak mampu mempertanggung-jawabkan kewajiban membayar kembali hutangnya , dengan gampang dan mudahnya seolah berkata kepada pemerintah Indonesia : “Silahkan disita saja tuh bangunan-bangunan yang ada” .

Tentu saja dialog kalimat diatas hanya sekedar kata ‘kiasan’ belaka , sebab sesunguhnya mereka sudah pada kabur semua atau dengan kata lain “mengemplang” uang rakyat lewat fasilitas negara .

Nah..fenomena yang hendak saya sampaikan disini adalah :

Ketika industri musik yang dikuasai oleh kapitalisasi asing yang ternyata tak berkorelasi dengan kepentingan “aspek kebudayaan bangsa” dan sementara itu “tuntutan investasi” mereka yang semakin tak terjangkau oleh daya beli masyarakat Indonesia , maka semoga saja tak lama lagi saya akan terlibat dalam barisan meng “amin-i” hengkangnya kapitalis-kapitalis lintah darat tersebut dari bumi Indonesia .. :)

Saya berharap akan semakin cepat bangkit industri-industri lokal / underground atau indie serta distro-distro anak-anak muda yang kreatif / tangguh dan kuat , yang harusnya segera “tanggap” menyikapi kesempatan tersebut . Sebab bila secara ekonomi industri musik bisa kembali menjadi mandiri tidak dikontrol dan ditekan oleh aturan bangsa lain , maka kesadaran untuk mengisi “muatan” atau kontent tema permasalahan-pun akan dapat lebih mudah untuk bisa dilakukan .

Kembali soal hal yang satunya , kita juga seolah melihat kembali pengulangan “perilaku” yang dulu berdampak ‘booming’nya kredit macet , atau uang negara yang tercecer . Kini seolah…mau kembali marak lagi . Bagaimana bisa dibilang tidak ?

… Ketika pemerintahan SBY menggelontorkan berbagai kredit bagi pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah dan sebagainya . Pada kenyataannya kita temui dilapangan bahwa kredit tersebut tak bisa tersalurkan dengan baik ke berbagai pihak yang ingin dicapai . Hal-hal teknis yang menjadi sebagian besar kendalanya adalah “ketidak-layakan” persyaratan bagi pengajuan kredit oleh si debitur (rakyat-rakyat) itu sendiri dimata dunia perbankan . Bahkan alih-alih oleh berbagai Daerah , dana tersebut di simpan/bungakan kembali di Bank Indonesia . (biar aman dan bermanfaat , sebab ada untungnya..katanya) dasar matre..

Kembali lagi …. kasus klasik berulang , bahwa hanya mereka yang memiliki privilage dan hanya mereka yang berkemampuan ekonomi kuat yang mampu menyerap kas negara / dana bagi kredit-kredit tersebut . Ironisnya kelompok tersebut masih juga tidak tertarik untuk mengembangkan ekonomi rakyat , mereka lebih tergiur mengikuti paham pasar bebas , dengan mengembangkan industri konsumtif yang “cepat saji” dan cepat balik modal plus keuntungan bagi kepentingan yang sejalan dan sehaluan dengan strategi kepentingan investasi asing lainnya . Selebihnya keuntungan yang di peroleh hanya layak disebut “fee” bagi kerja mereka sendiri (atas nama kelompok) yang telah mengabdi dengan baik pada pasar bebas , sama sekali tak ada kaitannya dengan keinginan negara untuk memberdayakan industri ekonomi bagi kesejahteraan rakyatnya sendiri .

Mereka tak tertarik untuk menggerakan industri milik bangsa sendiri yang bukan saja lebih mudah untuk bisa dipertanggung-jawabkan dihadapan masyarakat namun juga yang kelak akan mampu menghidupi masyarakat dan bangsanya itu sendiri . Mengapa bisa demikian.., sebab terlalu lama / bertele-tele dan …. ya kalau ada untungnya….Sementara bisnis yang ini lebih pasti dan jelas , katanya .. BAH!

Singkat kata , media yang sudah dikuasai (secara mindset & capital) disulap menjadi mesin rekayasa untuk melakukan penitrasi bagi kepentingan pasar bebas , dan dalam tempo yang seketika mereka berperan sangat agresif untuk menciptakan ketergantungan-ketergantungan bagi keinginan hasrat nafsu “manusiawi” kita semua .

Maka kini seperti saya katakan tadi diatas , seolah kembali lagi berduyun-duyun orang-orang yang mampu membeli , berbaris membeli apa yang bisa dibeli .

Menjadi pertanyaan bagi kita semua…… siapakah “mereka” tersebut..? Siapakah mereka yang notabene masih mampu membeli berbagai keinginan seperti “apartement mewah” atau barang-barang konsumtif produk merk luar negeri yang tersebar diseluruh pelosok mall-mall di kota besar Indonesia .

Mereka..kah yang bisa kita asumsikan sebagai representasi kesejahteraan rakyat Indonesia secara sesungguhnya ? Benarkah rakyat Indonesia kelasnya sudah kelas mengkonsumsi barang mewah tersebut? Karena itu pula sah-sah saja bila mau membeli apa saja atau menggunakan uangnya sendiri .

Lalu bila mereka memang representasi wujud rakyat Indonesia yang sudah mampu , siapakah gerangan mereka sebagian besar lainnya yang masih susah makan / susah sehat bahkan masih krisis intelektual / pendidikan yang mendasar .

Kini , konon dunia akan segera kembali terancam krisis dengan stadium / katagori ‘hebat’ , akibat terjadinya tragedi krisis keuangan di Amerika Serikat baru-baru ini . Sudah bisa dipastikan wilayah inipun tak akan terbebas dari hantaman “tsunami global ekonomi” tersebut . Lalu bila para debitor-debitor “opportunis pragmatis” tersebut (pelaku ekonomi Indonesia) tak mampu mengembalikan hutangnya kembali , karena “effect domino” atau apakah itu karena konsekwensi bisnis yang tidak realistis , misalnya .

Akankah mereka akan berkata lagi pada negara … “ya silahkan disita saja itu bangunan-bangunan yang ada…” Lalu Negara apakah akan meng-aktifkan lagi BPPN babak kedua dan seterusnya…

Dan apabila ‘booming’ kredit macet akan berulang kembali …. apa yang akan terjadi , masihkan seluruh masyarakat Indonesia akan bersikap sama seperti sebelum-sebelumnya… , semoga .

Saya hanya supir bagi oplet saya sendiri bukan ekonom apalagi pakar analisa , boleh saja kalau ada yang menganggap saya sok tau . Sebab saya memang ‘perlu tau’ agar nggak perlu nge-rasain kejeblos di got untuk kedua kalinya persis seperti dulu .

Sebagai supir oplet saya hanya minta diberi peta perjalanan yang jelas dan aman dari ancaman ‘okem jalanan’ serta jurang menghadang . Sementara oplet saya juga sudah butuh perawatan mendesak ..huh!

Untung saja masih kelihatan tuh ..jurang . Dasar…orang Indonesah masih saja bilang “untung” .

COMMENT ON MULTIPLY

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

10 Responses to “ Trayek Oplet ”

  1. apakah dari generasi jenengan ndak ada yang tertarik dengan jalur indie atau memang jalur itu sendiri mulai ndak murni lagi?

  2. Wah…pertanyaan saya sama persis dg Mas Hedi tsb diatas. Bgm Mas….?
    Anak2 saya itu pada ogah/tidak suka dg produk yg sering muncul di TV, malah mengoleksi produk jalur indie…jadi nampaknya pasar memang ada. Dan hal tersebut diulas panjang lebar di koran Kompas minggu tgl 21 Sep 08.
    Seperti saya ini…masih menunggu dg setia produk2 sampean.

  3. betul pak indra, musik yang ditawarkan sekarang ini sungguh sangat tak bermutu dan penuh dengan rasa muak… temanya hanya cinta dan cinta sedangkan musikalitasnya sekedar 3 jurus. saya sedang menginfluence anak2 saya dengan musik progressive dan classic rock yang indah dan bermusikalitas tinggi….. jadi inget dengan syair2nya God Bless, tidak melulu bicara cinta (itupun jarang) tapi tentang kehidupan…

    @mas Jockie
    saya salah seorang dari sekian juta pengagum anda…. koq ga pernah bikin album lagi? apa takut dibajak? atau nanti dihargai 1000 3buah? kwaaakkkk…..kwakaakkk…. seperti lagu mas dulu itu… atau gini aja mas, AMBIL SEPEDA TUA SAMBIL KELILING KOTA JANGAN BICARA TENTANG CINTA…. HARI INI AKU INGIN BAHAGIA…. aku lupa judul lagu itu, tapi masih terngiang deras di ingatanku…..
    Sukses untuk mas Jockie dan terus berkarya dan mudah2an selalu diberi kesehatan oleh Allah SWT…amin…..amin….

  4. Ha…ha…ha…itu lagu djudulnya ‘mesin kota’, album ‘jurang Pemisah’. Waktu denger lagu ini, anak saya bicara : oh…Chrisye ternyata bisa main rock djuga…..!

  5. Hedi said: apakah dari generasi jenengan ndak ada yang tertarik dengan jalur indie atau memang jalur itu sendiri mulai ndak murni lagi?

    –> wah..mustinya harusnya ada ..tapi saya kurang tau persis..siapa ya..kira2. Soal “kemurnian”… memang sih , sekarang ini indie2 yang ada sebagian besar hanya kepanjangan tangan ‘mayorLabel’ hehehe.. diijon kaya petani aja.. :)

    Tapi saya optimis suatu saat akan bisa benar2 murni .

  6. @mas Indrayana ,

    rasanya memang anak muda sekarang (yang lebih cerdas) sudah “mual” dengan musik mainstream ‘sayang2an’ atau ‘ai lop mi’an hehehe.

    Media “fisik” (kaset maupun cd) sedang berproses mentransformasikan fungsinya mencari bentuk / format yang lain . Sementara ini tehnologi ‘non fisik’ yang menjawab . (mp3 dsb)

    Nanti mas.., kalau situasi sudah benar2 kondusif (paling tdk menurut ukuran sy sendiri). Saya juga pengen mentuntaskan dan merilis semua karya lagu yang selama terus saya simpan di harddisk saya sendiri hehehe . Sekaligus sebagai informasi bahwa saya masih setia pada profesi dan terus berusaha untuk bekerja selagi masih bisa .

  7. @Tom_emersonLP ,

    haha…saya nggak pernah takut dibajak mas , wong saya (dalam tanda petik) sebenarnya membela rakyat kecil yang terpaksa menjadi “pembajak” . Mereka itu bukan “maling/pencuri hak cipta” , tetapi dibenturkan ditembok hingga terpaksa tidak punya pilihan lain untuk bekerja guna mencari nafkah bagi sekedar ‘selembar’ uang untuk menyambung hidupnya. (bukan pengen jadi kaya)

    Saya malah “mual” melihat selebritis / artis2 kita yang sok menegakkan hak cipta , tanpa memahami realita ‘low enforcement’ bagi keadilan ekonomi secara menyeluruh .

    Soal “bikin album” , saya masih terus bikin album mas . Memang nggak kedengeran karena memang “tidak rela” untuk saya edarkan sekarang . Daripada jadi bahan cemooh orang2 yang selalu mengukur sebuah karya dengan materi / “uang” .

  8. Indrayana said: Ha…ha…ha…itu lagu djudulnya ‘mesin kota’, album ‘jurang Pemisah’. Waktu denger lagu ini, anak saya bicara : oh…Chrisye ternyata bisa main rock djuga…..!

    –> wah..saya tersanjung lho…sampeyan masih ingat album2 lama saya… sengkyu ya mas ..!

  9. Wah…perasaan saya ber-bunga2, film Kantata mulai diputar di bioskop paling bergengsi ‘blitzmegaplex’ antara lain di Grand Indonesia, Jl. Thamrin. Beberapa waktu yg lalu koran Kompas Minggu telah mengulas film ini dan……..harus ditonton!
    Nonton yuk……

  10. Selamat menonton mas , semoga memberikan manfaat . amien

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara