Dunia Virtual

Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Hari Raya Idul Fitri namun ada satu hal yang sungguh memprihatinkan hati serta rasanya perlu juga kita waspadai secara bersama . Yaitu sudah semakin bias-nya makna Idul Fitri seiring dengan semakin absurdnya ‘nilai-nilai’ luhur yang sebatas hanya dijadikan simbol semata oleh masyarakat ‘modern’ di Indonesia .

Pada sholat Idhul Fitri tahun yang silam , masih hangat dalam ingatan saya ketika saya menulis dalam sebuah artikel betapa area mesjid-pun sudah menjadi lahan bagi beroperasinya dunia perdagangan . ketika itu saya menceritakan bagaimana suasana disekitar lapangan tempat ibadah yang dipenuhi dengan poster serta spanduk berbagai iklan .

Alhamdullialh…tahun ini sudah tidak nampak lagi slogan-slogan beserta tampilan selebritis yang menganggu pemandangan , saat saya pagi tadi melakukan sholat berjamaah . Semoga ini bukan sebuah kebetulan , namun memang hasil dari sebuah kesadaran dari para pengelola mesjid tersebut .

Namun ada hal baru lagi yang terasa semakin mengusik hati kali ini , yakni makna serta intisari dari Hari Raya Lebaran itu sendiri yang sepertinya semakin lama semakin mendekati paradigma ‘virtual’ . Kalimat virtual disini adalah maksud hati saya untuk mencari padanan atau kata lain dari “seolah-olah” . Bahwa sebuah persoalan cukup diselesaikan hanya dengan sebuah “judul” .

Mengapa semakin banyak orang bersembahyang namun juga semakin banyak juga orang yang melanggar nilai-nilai yang diajarkan . Semakin banyak kyai namun juga semakin banyak orang yang korupsi atau sok suci . Semakin banyak peraturan dibuat namun juga semakin banyak pelanggaran yang dilakukan .

Kita semakin digiring dalam sebuah pembenaran perilaku , bahwa Hari Raya Lebaran adalah hari besar yang harus dirayakan umat yang ber-Agama Islam dan secara otomatis adalah saatnya bagi mereka untuk saling memaafkan . Hingga kerapkali muncul anekdot guyonan “sekarang maafin ye’…besok kita bikin dosa lagi dst”

Dalam pemahaman saya , sebulan berpuasa hingga Idul Fitri adalah saatnya kita mempersiapkan kembali mental serta jiwa raga , agar hitungan sebelas bulan berikutnya kita sudah lebih kuat dan tabah dalam menghadapi berbagai godaan yang selalu datang setiap harinya . Lebaran Idul Fitri adalah ‘kemenangan’ bagi kita sendiri “bila” kita benar-benar sudah berhasil melewati masa cobaan sebulan tersebut. Itupun hanya kita sendiri (bila masih tau diri) dan tentunya Tuhan Yang Maha Mengetahui tingkat keberhasilan tersebut , tak ada satu orangpun diantara sesama kita yang bisa memberikan penilaian bahwa anda sudah menang / berhasil dan sebagainya.

Lalu bagaimana bisa , ritual tersebut menjadi paradigma “virtual” seolah-olah dosa dan kesalahan kita pasti akan dimaafkan oleh teman-teman ataupun masyarakat lainnya yang pernah ter-sakiti oleh kita dan sebagainya? Bukankah Rasululloh SAW sendiri hanya memberikan contoh pada saat Lebaran , dimana beliau hanya mengucapkan,”taqabbalallahu minaa wa minka”, yang maknanya “Semoga Allah SWT menerima amal kami dan amal Anda.”

Tak ada ajaran maupun hadist yang mengatakan “inilah saatnya kita bermaaf-maafan”

Sekali lagi tak ada maksud hati saya untuk tidak menghormati Hari Raya Idul Fitri tersebut , namun sekali lagi ini menjadi kegelisahan kalbu , ketika paradigma “virtual / seolah-olah” sudah semakin jauh  meng-kontaminasi ajaran Agama itu sendiri .

Mengapa tidak ada upaya sedikitpun juga dari berbagai tokoh-tokoh besar di-negeri ini untuk meletakkan hal-hal tersebut sesuai porsi , dan perkaranya didudukan ditempat yang sebenarnya agar tidak rancu seperti layaknya kerancuan dan betapa ambigunya hukum dan perundangan dinegara kita .

Bahwa perilaku saling bermaaf-maafan di bulan Rhamadhan adalah paradigma BUDAYA masyarakat / bangsa Indonesia . Bukan budaya yang dibawa atau sesuai hadist para Nabi-Nabi kita serta kitab suci Al Quran dalam berbagai ajarannya . Tak ada yang salah dengan saling memaafkan , namun bukan hanya dibulan itu saja perilaku tersebut wajib terus dilakukan , lalu dibulan kemudiannya seolah boleh-boleh saja dilupakan lagi .

Mari kita jaga “perilaku” BUDAYA Indonesia tersebut agar bisa berfungsi dalam 12 bulan disetiap tahunnya , bukan hanya sebulan itu saja . Dan mari kita asah terus kepekaan nurani kita masing-masing , bahwa di bulan puasa hingga Lebaran adalah saatnya untuk “latihan” guna mempertajam ke Takwa-an kita kepada Sang Maha Pencipta itu sendiri .

Artikel ini saya tulis hanya sebagai sebuah harapan , agar jangan kita mem “virtual” kan nilai-nilai tradisi apalagi sampai semakin jauh melenceng mem-virtual-kan ajaran agama .

Selamat hari Raya Idul Fitri , dan saya juga akan mulai memohon maaf pada anda semua , disetiap saat dimana saya merasa perlu meminta maaf pada anda . Berbahagialah hati yang tak perlu terluka membaca tulisan ini , semoga .

COMMENT ON MULITIPLY

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

21 Responses to “ Dunia Virtual ”

  1. mudah-mudahan lebaran tahun ini tidak virtual, selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin, Pak.

  2. Masa ‘pelatihan’ usai sekarang memasuki masa ‘praktek’…..!

  3. Maaf lahir bathin bang semoga tidak cuman sekali saja minta

  4. Orang-orang memang harus dibangunkan dari tidurnya ,kata bung Erros Djarot ketika bersama bung jsop di tv.one kemaren . Berperilaku santun dan saling memaafkan adalah karakter bangsa Indonesia sudah dari semenjak dahulu kala.Sekarang koq malah mau dijadikan seolah-olah baru jadi “moment sakral”.Sementara moment sakralnya (beribadah) malah dijadikan sekedar upacara.

    Tulisan bung sangat inspiratif dan mencerahkan , terimakasih bung jsop!

  5. Mas jsop
    MAAF LAHIR BATHIN , semoga terus giat menulis. salam hormat

  6. Hedi said: mudah-mudahan lebaran tahun ini tidak virtual, selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin, Pak.

    –>hehe..selamat juga mas & maaf lahir bathin .

  7. Indrayana said: Masa ‘pelatihan’ usai sekarang memasuki masa ‘praktek’…..!

    –> iya mas..masa latihan terus.., nggak perang2 . :)

  8. fransdon said: Maaf lahir bathin bang semoga tidak cuman sekali saja minta

    –> yo’i mas,mudah2an mas .

  9. anak bangsa said: Orang-orang memang harus dibangunkan dari tidurnya ,kata bung Erros Djarot ketika bersama bung jsop di tv.one kemaren . Berperilaku santun dan saling memaafkan adalah karakter bangsa Indonesia sudah dari semenjak dahulu kala.Sekarang koq malah mau dijadikan seolah-olah baru jadi “moment sakral”.Sementara moment sakralnya (beribadah) malah dijadikan sekedar upacara.

    Tulisan bung sangat inspiratif dan mencerahkan , terimakasih bung jsop!

    –> kenyataan harus dikabarkan ya mas :)

  10. andara said: Mas jsop
    MAAF LAHIR BATHIN , semoga terus giat menulis. salam hormat

    –> Maaf lahir bathin mbak

  11. harga mohon maaf itu paling mahal cuman Rp.350,-
    lha wong cuman lewat SMS hehee..[termasuk saya]
    semoga kawasan agama tidak menjadi kawasan komersial lagi..

    —> masih mending Ben…sekarang sudah ada yang cuman ‘dalam hati’ aja , katanya :”yang penting niatnya” dan Tuhan kan tau kalau saya memaafkan ….hehehe..preeeekk!

  12. segalanya sudah bercampur baur ya mas… :)
    hanya yang dipermukaan yang dipahami, sedang yang mendalam…., hmmm masih sedikit… :)
    teori selalu banyak dan praktek sedikit… :)
    yah sepertinya seperti itulah dunia kita saat ini mas :)
    begitulah realitasnya nampaknya
    untuk saat ini saya hanya bisa berdoa semoga akan ada perubahan ke arah yang lebih baik… :)
    yang sedikit, yang sudah satu langkah kedepan, yang diharapkan untuk terus menyuarakan perbaikan2 perilaku dalam masyarakat kita, intelektual sejati yang tak bisa dibeli…! yang tak takut dengan kesulitan2 yang menghadang, seperti RAJAWALI!
    salam,

    Taqabbalallahu minna wa minkum
    Shiyamana wa shiyamakum
    Minal ‘Aidin wal Faizin
    mohon maaf lahir dan bathin
    Kullu ‘Aamin wa antum Bikhair
    Semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah swt
    dan semoga dosa-dosa kita diampuni oleh Allah swt…
    amin…

  13. Mas Zulkarmen , yang terdegradasi adalah ‘maknanya’ , sementara perilaku budayanya seolah-olah masih dijunjung tinggi. Budaya memaafkan sendiri bila tanpa muatan “spiritual” sama saja bo’ong kan..? Mana ada orang bisa memaafkan satu sama lainnya kalau tidak bersandar pada ajaran-ajaran agama . (agama apa saja)

    Yang terjadi adalah itung-itungan untung / rugi , atau bahkan ‘ saling balas dendam’ . Paling bagus cuman sebatas “basa-basi” saja .

    Dan ketika nilai-nilai ber-etika dalam ber-agama diterjang ‘hedonism’
    (*hasrat dan nafsu keinginan yang tak ingin di-halang2i olah paham/dogma apa saja*) atas nama kebebasan dan hak azasi misalnya , maka “budaya” hanya tinggal perilaku sebatas ‘upacara’ pemantes aja .

    Maaf lahir bathin .

  14. Sugeng Riyadin mas Yockie, ngaturaken sedaya kalepatan nyuwun pangapunten..

  15. Selamat Idul Fitri mas, maaf lahir batin… betul juga yang sampeyan bilang…cuman ngomong aja padahal hati kita masih tidur…kayak mas willy bilang.. Kesadaran adalah matahari…semoga Idul Fitri ini jadi matahari buat hati kita. Eh mas..filmnya kantata nanti bisa didownload nggak??? soalnya di kampung saya itu gak ada tempat buat nonton filmnya… piye mas?

  16. @Dino , sami-sami Dino..wah pake ‘boso’ segala :)
    Apa kabarnya Dino..masih tinggal di Bdg kan? apa udah transmigrasi ke Jkt?

  17. Big Happy said: Selamat Idul Fitri mas, maaf lahir batin… betul juga yang sampeyan bilang…cuman ngomong aja padahal hati kita masih tidur…kayak mas willy bilang.. Kesadaran adalah matahari…semoga Idul Fitri ini jadi matahari buat hati kita. Eh mas..filmnya kantata nanti bisa didownload nggak??? soalnya di kampung saya itu gak ada tempat buat nonton filmnya… piye mas?

    –> wah..pertama saya mau tanya dulu mas , koq nickname sampeyan “big hepi” ..emang ada yang “litel-litel hepi” ..gitu..? hehehe..

    Soal peredaran Film Kantata saya masih nggak jelas mas..nantinya bisa didonlod atau nggak & sebagainya . Maaf lahir bathin deh ya..

  18. “Taqabbalallahu minaa wa minkum”

  19. @soesheila ,

    InsyaAllah mas .

  20. Alhamdulillah sae mas, sehat. Skrg masih di gunung, mencoba mencari suasana yang tenang utk berkreasi. Lumayan sodara punya studio, sekalian berkebun :)). Jadi ntar ke Bandung ada bahan buat dikerjain, sepertinya bulan depan balik lagi ke Bandung, Jkt terlalu panas, kurang kondusif buat berkreasi. :)

    Salam,

    Dino

  21. bener mas..Saya juga terasa udah ‘nggak betah’ tinggal disekitar JKT. Sumuk dan Sumpek . Bukannya Bandung juga sudah sama aja :(

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara