Cakrawala Hidup

Seperti sudah terduga ketika saya menulis artikel ‘Trayek Oplet’ , perihal ke-khawatiran kita semua yang akan segera terimbas dampak krisis ‘Ulah Kapitalis’ di negeri seberang sana . Hari-hari belakangan ini  gejalanya mulai terasa ‘senep’ mengganjal dibalik pusar / udel , rasanya .

Beginilah jadinya , ibarat habitat wilayah kehidupan ‘siput’ didataran rendah yang menghadapi meluapnya sungai akibat banjir karena terjadi pe-ngerasan tanah sebagai penyerap air hujan di lereng-lereng bukit dan di gunung-gunung .

Tak ada teori tehnologi secanggih apapun untuk memerintahkan agar hujan bisa turun lebih ‘teratur’ dan ‘toleran’ bagi dataran-dataran rendah yang menjadi korbannya . Memangnya DIA bisa dibayar pake’ duit? Begitulah kira-kira analogi saya bagi kita semua , makhluk manusia yang menjadi takabur dan jumawa ketika merasa mampu menggunakan kepintaran isi otak hingga secara tidak sadar sudah melampui batas wilayah / garis dimarkasi Hukum Alam.

Duit atau uang menjadi berhala yang disembah bagaikan mengabdi pada dewa-dewa yang rakus dan serakah . Alat tukar tersebut sudah semakin jauh berjarak dengan fungsi sosialnya bagi kerukunan hidup seluruh umat manusia didunia . Dan kini Hukum Alam sudah tak sudi ‘dianggap’ mengabdi pada korporat-korporat di Amerika , si penghisap darah negara-negara dunia ketiga / keempat sampai ke.ke..entah berhentinya dibilangan angka berapa…Persis seperti dongeng perilaku “Drakula” yang atap rumahnya ambruk dan peti matinya keropos karena dimakan rayap , sehingga cahaya matahari lolos menembus menusuk persis di tengah-tengah jantungnya. Maka…kelojotanlah dia….

Kini bisa kita bayangkan.. ketika tak ada sepeser pun uang disaku celana atau didalam dompet kita , kira-kira seperti apakah perlakuan orang lain kepada kita? . Anda masih berharap masih ada belas kasih tanpa pamrih yang akan ditunjukkan dan diberikan pada kita oleh ‘manusia-manusia’ lain disekitar kita? BAH!

Namun baiklah , saya kembali pada hukum alam yang mengajarkan saya mampu bertahan hidup selama kurun waktu 54 tahun , bahwa hidup bukan untuk dibuat ngomel dan ngomyang tanpa berkesudahan . Mengeluh dan nge-gerundel adalah sebuah “intro” dari awal sebuah komposisi aransemen lagu yang seharusnya semakin dahsyat ngomelnya akan semakin bermakna pula nantinya ‘isi kandungan’ sebuah aransemen atau lagu yang akan tercipta , begitulah kenyataan yang terjadi selama ini .

Hukum alam selalu SETIA tanpa pamrih , tak pernah berbohong dan tak bisa dikibuli manusia , betapapun canggihnya otak atau “ngganteng / cantik” nya orang tersebut .

Kita semua masing-masing mulai hari-hari ini akan berhadapan dengan konsekwensi atau tantangan persoalan sesuai tugas dan fungsi sosial kita sebagai individu seorang manusia . Hari Raya Lebaran kebetulan baru saja mengawali peristiwa besar bagi kita semua ini.., semoga hal tersebut menambah ‘makna terkandung’ yang akan memperkuat daya tahan dan daya juang kita masing-masing .

Begitu pula dengan tantangan-tantangan yang selalu “baru” datang pada diri saya sebagai seniman pemusik . Saya berkewajiban untuk tetap setia menyelesaikan tugas saya dengan sebaik-baiknya , mengaransemen musik bahkan membuat lagu baru . Tak ada urusannya dengan ‘orang lain’ yang harus memberikan sambutan atau ‘bertepuk tangan’ dahulu , baik…sebelum saya memulainya maupun sesudahnya .

COMMENT ON MULTIPLY

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

10 Responses to “ Cakrawala Hidup ”

  1. Lho…sampean temenan tah…..? dua paragraph terakhir iku nganti ta’ woco pindo…………. Selamet bekerdja deh….!!

  2. hehe..koyo guyon yo mas . Yang pasti musiknya nggak bisa dibikin rock progresive apalagi hipmetal :)

  3. Tak tithe’ni wiwit mbiyen sampean isa nggawe musik yg sehalus kapas s.d sekasar batukarang……….oh seniman…ha…ha…ha…..

  4. wah mantap tenan “proyek”-nya, pak :D

  5. Wuihhh.. ta tunggu hasile mas. Tapi kpn konser bareng kantata mas…di tv kemaren kayanya pemanasan yo…tinggal actionnya yg ditunggu nih..

  6. @mas Indrayana,

    wong lanang iso seneng karo wong wedhok kan amargo sing alus lan lunyu2 iku tho..? Mosok iyo seh ono sing seneng karo cah wedhok sing ‘brangasan’ hehehe..

    Nanging..pas kudu maju perang..yo kudu jengki’an noo…ojo ngagem jarik’an..opo maneh sanggulan pisan… wah!..gampang digawe titisan ambek musuh…iku. :)

  7. hedi said:wah mantap tenan “proyek”-nya, pak

    –> mantap? …hehehe
    a. mantap secara hasil kerjanya (estetika) , belum terbukti..kan?
    b. mantap secara fasilitas? , ya nggak juga tuh…biasa2 aja . Kan anda tau , saya bukan orang yang doyan ‘aji mumpung’.
    c. mantap secara prestisius? , hm..ya mau nggak mau itu ada juga sih…sebab SBY secara status sebagai Presiden aja kan? tapi dari perspektif kerja seni dimata saya kan…sangat ‘subyektif’ .

    Justru tantangan saya , bisa nggak saya membuat struktur notasi yang ada menjadi lebih ‘kaya’ atau paling tidak terdengar menjadi ‘anggun’ .

  8. big happy said: Wuihhh.. ta tunggu hasile mas. Tapi kpn konser bareng kantata mas…di tv kemaren kayanya pemanasan yo…tinggal actionnya yg ditunggu nih..

    –> masturnuuwun mas , soal Kantata konsernya kapan…wah saya sebetulnya juga merasa adanya kebutuhan tsb. Namun sepertinya filosifi ber ‘kantata’ diantara kami berlima..harus di refresh dulu mas . Sulit bila kita mau berkumpul lagi tapi tidak bisa meng “nol” kan diri dulu lagi hehe.!

  9. Wah … ditunggu hasilnya Mas. Saya baca teman-teman lama di GB juga lagi kerja studio ya. Ntar sekali beli dua album kan mantep Mas.
    Ditunggu banget “Isyarat” release resminya.

  10. hehe.. thanks mas

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara