Renungan Singkat

Hari ini saya termangu didepan beranda rumah diseberang jalan dipinggiran pedistrian , jongkok diatas rumput mendengar celoteh dikejauhan serta menyaksikan kerumunan lima orang anak kecil yang sedang bermain dengan riak air kali yang coklat dan keruh .

Sejenak terlintas bayangan masa kanak-kanak saya saat berada di Jawa Tengah . Ketika itu saya tinggal di Semarang dan sering mengunjungi Purwokerto . Dua kota yang saya ‘akrabi’ kalinya untuk juga bermain ‘selancar kampung’ bahkan berenang & mandi-mandi . Di Semarang lokasinya di sebuah Dam Banjir Kanal , kalau di Purwokerto di sebuah kali yang alami yang turun dari pegunungan sekitarnya.

Saat itu sepertinya kondisinya relatif sama dengan apa yang ada didalam benak segerombolan anak kecil dihadapan saya saat ini. Yaitu antara lain ‘kesadaran’ serta keinginan untuk ‘menggauli’ alam secara maksimal . Apa saja…., baik itu benama gunung / laut / hutan / persawahan dan perkebunan bahkan kali tersebut…, selalu menjadi ‘magnet’ dan daya tarik yang menggelora bagi bocah se-usia tersebut .

Terlihat sepele dan seolah tak bermakna apa-apa bagi sebagian orang yang hidup dijaman yang semakin ‘keras’ ini. Mungkin dianggapnya ‘permainan dengan alam’ tersebut hanya paradigma yang lumrah dilakukan oleh kaum miskin yang secara ekonomi tak mampu berenang di swimming pool dan sebagainya . Sejenak saya merenung diri lagi…ngelamun disana.

Bagaimana mungkin bisa dibangkitkan kemandirian pribadi bagi pengabdian pada bangsa dan negara atau kepada masyaratnya , bila setiap individu yang ada asing kepada lingkungan hidup disekitarnya sendiri . Itulah sekelebat bisikan angin yang mampir dibenak saya saat ini . Ya…bagaimana mungkin kita yang selalu berteriak tentang demokrasi dan menuntut perbaikan disetiap bidang bagi kualitas kehidupan bersama , bila kepada alam saja kita tak pernah berusaha menjalin sebuah ‘persahabatan’ yang sejati .

Pemandanganku hari ini sungguh membuka pikiran yang gelap dan hati yang ‘gundah’ karena himpitan beban persoalan hidup yang semakin menumpuk dan yang semakin tak sempat terjadwal penyelesaiannya .

Disebuah acara wisuda seminggu yang lalu bagi anak kedua saya , Amien Rais sebagai Tokoh pendidikan dalam orasi ‘ilmiah’ dan kata sambutannya mengatakan : “Adik-adik…dengan berat hati saya harus mengatakan..bahwa masa depan kalian…tidak begitu menggembirakan…, banyak tantangan berat yang akan kalian hadapi dan sebagainya…”

Seberapa jauhkah generasi muda kaum intelektual kita tersebut mampu memahami kalimat ‘tantangan’ termaksud? Sungguh….betapa sangat “fundamental” persoalan kita sebagai sebuah bangsa…saat ini .

Mungkin kalimat sederhana yang tepat dan bisa mewakili semua aspek persoalan adalah : Kita semakin tidak bersahabat dengan realitas keberadaan kita sendiri sebagai manusia kepada alam ..dan sebagai manusia kepada sesama manusia lain disekitar kita . Kita semakin tersekat / terpisah dan berpotensi untuk semakin keluar terpecah dari kelompok / komunitas keberadaan kita sebelumnya .

Menjadi individu yang “mandiri” yang tak bergantung lagi pada semangat kolektivitas hidup bersama . Saling beradu , bersaing namun dalam bingkai format yang salah ..dan bukan yang semestinya . Kita berjuang tapi memperjuangkan sesuatu yang absurd , klise dan hanya sebatas berteriak berjuang dalam megahnya kalimat-kalimat yang keluar secara akademis dari bibir-bibir dan mulut yang nerocos seperti mesin robot.

Merasa sudah terhormat dan menyandang martabat bila sudah memiliki berbagai gelar ‘kedudukan’ / ‘sarjanaan’ atau ke-ilmuan dan sebagainya , sementara gelar “kemanusiaan” yang manusiawi sebagai gelar bagi salah satu penghuni planet diantara berbagai jenis penghuni yang lainnya semakin terkikis tersingkir.

Kita dipacu untuk menjadi lebih asing dari kelompok babi dan hewan ternak , diantara sesama kelompok hewan lainnya yang masih menikmati kehidupan bebas dialam semesta ini .

Ampunilah saya Tuhan .

COMMENT ON MULTIPLY

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

21 Responses to “ Renungan Singkat ”

  1. Salam kenal mas , blog mas sungguh inspiratif .

    Sekuntum.

  2. “sementara gelar “kemanusiaan” yang manusiawi sebagai gelar bagi salah satu penghuni planet diantara berbagai jenis penghuni yang lainnya semakin terkikis tersingkir”

    > Mas Yokie, Semakin terkikisnya penghuni lain akan menimbulkan sebuah ketidakseimbangan alam, akibatnya bencana ada dimana-mana termasuk perilaku penghuni bernama manusia itu sendiri..

    Salam, artikel-artikelnya selalu ditunggu mas..

  3. hehe..mbak sekuntum terimakasih , salam kenal lagi ya

  4. Mas Askari apa kabar ,
    Sekarang kita sedang menikmati dampak ke-tidak seimbangan tersebut ya mas…, gila…suhu panas di Jakarta akhir2 ini:(

  5. mas…punya sampeyan boleh saya link ke blog saya???

  6. monggoh aja , silahkan mas

  7. Apa kabar mas, sudah lama saya tidak online semakin banyak pencerahan bisa say peroleh di jsop.net

    keep writting mas,salam

  8. Betul Mas, kadang saya merasa seolah alam bisa berbicara, lewat bau rumput dan getahnya, lewat goyangan daunnya, lewat suara air yang mengalir. Ketika saya tidak sengaja mengamati alam, pasti saya selalu teringat masa kecil, ketika saya begitu intens mengenali setiap tetumbuhan, hewan ternak dan serangga kebun, dengan segala seluk-beluknya. Saya cukup sedih karena anak-anak saya tidak lagi mengenali lingkungan seperti yang saya rasakan dulu. Bukan salah mereka, tapi karena kerangka global yang sudah membentuk demikian.
    Masa depan generasi penerus tampaknya memang tidak terlalu menggembirakan, tapi setidaknya kita masih bisa berharap di ‘kehidupan berikutnya’. Semoga.

  9. Hanya ‘itu’ kan harapan yang masih tersisa mas :(

  10. Maha Guru music Indonesia, yth.
    Sebenarnya saya trenyuh terhadap kondisi badan panjenengan. Mas Jockey yang dulu gagah! sekarang abis gitu… Lewat tangan dingin mas jockey banyak maha karya lagu tercipta!!! Saya benar2 takjub & terkesima sama mas, waktu dalam proses penciptaan lagu mas selalu sangar dengan kedisiplinannya! tapi setelah mas buka blogs ini, wah… wah… bisa tampil konyol layaknya tokoh srimulat. ok mas salam kenal aja…

  11. Mas Jockey …. Terus terang saya bukan ahli bermain music tapi feeling saya sangat peka banget terhadap kualitas sebuah music. Seumur-umur saya hidup di negeri ini. Saya baru merasakan music yang dicipta mas Jocklah yang paling berkualitas!!!

    Sebenarnya saya kangen, mas bisa duet lagi dengan eet syachranie…. Belum ada lagi music sesempurna itu hingga sekarang!!! ambil contoh :
    1. Bianglala-nya Mel Shandy
    2. Airmata-Iwan Fals/Kantata Taqwa
    3. Album Godbless Maret’89

    Kapan mas kembali berkarya sehebat itu kembali?????

  12. @mas deddy,

    “Mas Jockey yang dulu gagah! sekarang abis gitu

    a.InsyaAllah dulu cuman ‘gagah’ diluarnya sekarang mudah2an dalemnya ikutan hehehe.. Kalo fisik kan urusannya dengan ‘usia’ mas , mohon dimaklumi kan?

    b.Saya dulu mmg pengen jadi ‘pelawak’ sayang kurang lucu mas.. :)

    c.lho..saya juga kangen lho u/ bisa main bareng eet lagi….abis sekarang beliau sibuk ‘down to earth’ sendirian sih…hihihi.

  13. Mas Jock saya sedih banget… setelah GOD BLESS tanpa Mas Jock! tanpa Mas Teddy, apalagi tanpa EET… Piye mas masih kuat pora ngerock lagi bawain lagu2 ini ??? :-D

    1. Nyanyian badainya Mel Shandy
    2. Trauma, Musisi, Sang Jagoan, – God Bless

    oya mas, kemana tuch mas teddy????? Wah badanya malah kebalikannya mas jockey ……..

    Sumpah… Mas bertiga inilah Masternya ROCK Indonesia!!!!

  14. ah..anda berlebihan mas .

  15. salam jumpa lagi mas jock….

    Wah… sepertinya saya gak ada habis2nya memberikan apresiasi kepada mas ni!!! Ya sebatas mas berkarya di ruang rocknroll aja yach, karena sebatas itu yang saya tau :-)

    Begini mas, saya bener2 heran waktu di kurun sekitar tahun 87 sampai dgn 90an gitu. Inspirasi mas begitu SUBUR-SUBURnya!!! bayangin aja dari proyek Hesti Briza, Mel Shandy, 2 album Godbless, Swami lalu klimaknya Kantata Taqwa. Dalam waktu secepat itu bisa membuat karya2 besar!!! Kok bisa yaaaaaaa????? Antara Godbless album Raksasa dgn album Colection Godbless waktunya kan berdekatan??? lalu antara swami dengan Kantata??? Gimana sih mas jalan ceritanya,boleh dong cerita dikit….

  16. Salam juga mas Deddy,

    Bisa nggak sampeyan copy&past ‘request’ anda tersebut ke “musik page” . Sepertinya lebih ‘pas’ kita ngomomgin-nya disana deh..:)

    ok’ trims ya.

  17. Oya mas, berkat anda juga lhoh!!! Bisa melahirkan Gitaris Rock Besar yang gak kalah dengan gitaris2 luar. Yaitu EET SYACHRANIE … Kalo menurut mas, Soundnya kok bisa sehebat itu kenapa yach??? Jujur aja ya mas,di negeri ini sampai sekarang belum ada gitaris macam dia muncul lagi kan???

    Ayo dong mas, ajak dia kerja bareng lagi, bikin lagu yang SEMPURNA lagi!!! Apa susahnya buat mas kalo cuma nyari produser,tinggal call Setiawan Djodi atau Log Zelebhour, beres kan mas???

  18. Assalamualaikum, ikutan gabung dan share ya mas JSOP. mudahan sehat dan semakin bijaksana di usia yang sudah tidak muda lagi (takut, bilang tua he he. tp semangat tetap muda mas ya. nanya nih, ada musisi atau grup muda yang mau diorbitin nggak dalam waktu dekat ini?

  19. hehe .. koq orbit sih mas… saya kan bukan peng-orbit hehehe..
    terimakasih udah mampir ,salam

  20. hallo om yockie..mencoba merenungi tulisan2 seorang musisi menyikapi kehidupan..hehe..ternyata asyik juga,bisa jadi sumber inspirasi kami yang muda2,bisa jadi pondasi semangat dari yang mengalami lebih dahulu..Ditunggu om tulisan2 berikutnya om..

  21. Ass wr wb,

    Mas, klo ada waktu tlg komentari lagu2 kami, semua tentang sosial & kritik sosial ( masih belajar ). Lagu-lagunya ada di : http://www.imeem.com/bintangandjeckmat

    Saran dari Mas Yockie sangat kami harapkan.

    Matur sembah nuwun Mas.

    Wassalam,
    Bintang

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara