Manifesto JSOP

Tadinya saya ingin menggunakan kalimat ‘Manifesto kebudayaan’ , namun agar tidak terbaca dengan kesan ‘bombastis’ layaknya kalimat megah yang agak-agak ‘over dosis’ maka cukup rasanya dengan mengganti memakai initial nama saya sendiri ..hehehe. Selain  terdengar ‘agak entengan’ namun juga tetap memiliki bobot subyektivitas yang cukup tinggi . Semoga bisa berkesan tetap netral serta benar-benar menyerupai sebuah pendapat individual yang lazim saya gunakan .

Bicara tentang rasa nasionalisme ke-Indonesiaan , jati diri dan lain-lain yang saat ini tengah booming melanda berbagai ruang diskusi ditengah masyarakat kita , saya selalu menyampaikan gagasan dan pikiran-pikiran yang siapa tau..eehh..ada manfaatnya serta bisa memberikan kontribusi yang positif bagi berkembang serta menjadi dinamisnya , topik bahasan tersebut diatas .

Banyak forum-forum diskusi yang saya temui acapkali hanya mewakili dua kepentingan yang saling bertolak belakang . Satu sisi dia mewakili kepentingan ‘romantisme’ masa lalu , disisi yang lainnya dia mewakili kepentingan masa depan dengan jargon postmodern dan kaum ‘ultrademokratis’ yang lebih mengacu pada keinginan menjadi global tanpa reserve .

Dari berbagai temuan diatas tersebut akhirnya lahir rasa ‘getun’ kalau dalam bahasa jawanya ‘rada2 kecewa’ , sebab ‘dua arah’ mata angin tersebut seringkali mengabaikan satu hal yang justru menurut saya sangat signifikan atau mendasar untuk tidak boleh dilupakan.

Yaitu sebuah kalimat universal : “Tidak ada hari ini tanpa masa lalu , serta tak akan ada masa depan tanpa adanya program kerja yang konkrit dihari ini “. Artinya bahwa kita semua sering lupa bahwa yang dibutuhkan adalah sebuah “kehendak” dimana HARUS merajut benang merah masa lalu untuk bisa connected lagi dengan realitas hari ini , untuk kemudian bisa digunakan sebagai strategi menghadapi hari esok yang ada didepan .

Nah..namun bagaimanakah mewujudkan relasi antar simpul-simpul permasalahan tersebut ? disinilah topik menjadi semakin menarik.

Manifesto JSOP :

Nasionalisme rasa kebangsaan serta kemandirian sebagai bangsa Indonesia , memang bukan lagi sekedar diukur dari keberadaan puncak-puncak budaya lokal bangsa-bangsa yang ada di Nusantara. Namun sinergi serta rasa kebersamaan yang mewakili berbagai kepentingan yang berkeadilan diantara mereka semua .

28 Oktober 1928 adalah sebuah peristiwa besar yang bersejarah ketika hampir seluruh perwakilan Pemuda yang tersebar di penjuru negeri ini mencanangkan sebuah tekad yang sama . Mengusir kaum penjajahan yang mengangkangi hak-hak hidup mereka untuk bisa menjadi Merdeka . Rasanya sama sekali belum sempat terpikir untuk menyusun rencana yang lebih detail hingga sampai pada rencana program pembangunan dan segala macamnya . Yang penting penjajah pergi dan Merdeka dulu , begitulah saya membayangkannya . Maaf sok teu’ ya..? biarin..! berilah kesempatan pada seniman bodoh ini untuk ber “sok teu” sejenak.., ah..terimakasih sebelum dan sesudahnya.

Berkali-kali pula saya ber-sok tau disana dengan mengatakan : mustinya setelah VOC / Hindia Belanda terusir pergi . program selanjutnya didalam menyusun / merumuskan konsep ber Satu Negara / Satu Bangsa dan Satu Bahasa tersebut , didahului dengan “DUDUK BERSAMA” dahulu untuk menafsirkan semangat konstitusi atau Falsafah Pancasila agar lebih konkret dan rinci dalam menterjemahkan berbagai aspek “KEADILAN” dan “KERAKYATAN” yang tercantum didalamnya .

Artinya harus dilalui dahulu ‘debatable’ , tarik menarik kepentingan dari setiap bangsa-bangsa yang duduk bersama tersebut untuk mencapai kesepakatan “Hidup rukun dan Damai” , karena konsep ber-keadilan sudah disepakati . Agar tidak akan pernah muncul ‘eksploitasi satu wilayah demi kepentingan wilayah lainnya’ dan sebagainya.

Namun begitulah sejarah akhirnya berjalan dan telah menorehkan berbagai warna tinta diatasnya . Ada yang berwarna perak ke-emasan namun tak luput juga hitam legam dan merah berdarah-darah turut terlibat didalamnya. Kita semua di hari ini dengan terpaksa dan harus ber-lapang dada menerima kenyataan tersebut diatas , bahwa itulah realitas perjalanan hidup kita semua sebagai sebuah Bangsa yang kita sebut Indonesia.

Namun pula , segera kita semua tersentak dihari-hari ini , disadarkan atau lebih tepatnya ‘dibangunkan’ agar segera melek mata , sebab hari ini dan esok tidak bisa di undur lagi datangnya . Diperlukan langkah-langkah darurat emergensi atau lebih tepatnya sebuah Strategi Budaya secara bersama untuk menghadapi tantangan menjadi ‘harus’ globalisasi .

Seperti apakah strategi yang seharusnya dibutuhkan tersebut ..? Nah… menjadi semakin menarik dan menantang , ketika semua orang berteriak-teriak mewakili kepentingan golongannya masing-masing. “Kita semua sudah satu” tak ada lagi “golongan-golongan yang meng eksklusifkan diri seperti jaman dulu” , demikian sesumbar slogan dan propaganda yang acapkali terdengar dikuping .

Bulsit! demikian kata kakek dan nenek saya bila mereka masih hidup mungkin…, bohong semua itu kalimat-kalimat diatas , imbuhnya (tentu saja , kecuali orang Aceh yang sudah tidak lagi berteriak sekeras dahulu lagi) . Begitulah kenyataan yang saya rasakan dan pahami juga… siapa yang bilang kita sudah Pancasilais ? / Indonesiais seperti yang diimpi-impikan dulu oleh para pendahulu kita dan sebagainya . Munafik..! kalau kita masih juga senang menutup mata .

Kembali kepada substansi artikel ini…lalu apakah yang bisa dan akan kita lakukan sekarang..? Menyusun kembali kemegahan-kemegahan feodalistik/paternalistik , sensasi kebangsawanan raja-raja jaman dulu untuk kembali digulirkan guna menjadi hantu-hantu yang melindungi jabatan-jabatan bagi peran para birokrat kita? , Bah!

Manifesto JSOP : Sumber malapetaka yang dihadapi bangsa Indonesia bukan issu Globalisasi maupun ancaman disintegrasi Bangsa Indonesia yang dianggap mengancam lewat sistem politik / pemilu dan sebagainya . Namun tidak adanya sebuah “Kehendak” bersama untuk mengatur dan mengendalikan Binatang Kapitalisasi Ekonomi yang menjarah semua ruang-ruang didalam kehidupan kita sebagai warga negara Indonesia yang berdaulat .

Pasar bebas / terbuka hendaknya tidak diasumsikan serta ditafsirkan sebagai “pintu rumah” kita yang bisa dimasuki siapa saja tanpa “kulonuwun” apalagi semena-mena mencomot semua harta didalam rumah kita , hanya karena yang masuk rumah kita tersebut adalah orang yang lebih kaya .

Hentikan pemujaan terhadap “materi” , kontrol kembali semua sistim industri ekonomi Bangsa ini sesuai dengan “cita rasa” sebagai sebuah bangsa hasil ramuan dari berbagai bangsa-bangsa di Nusantara lainnya. Jangan biarkan hingga issu “kesenjangan sosial” meledak dan terlanjur menimbulkan masalah rumit yang lebih besar lagi .

Kemarin dalam sebuah Dies Natalis di Universitas Diponegoro Semarang , saya merasa sangat terhormat bisa berkesempatan turut hadir dalam pencanangan sebuah pergerakan . Yang dinamakan Lembaga Kebudayaan Nasional . Hadir juga disana Presiden Republik Indonesia , Soesilo Bambang Yudhoyono .

Bagi saya apapun namanya serta betapapun sudah banyak , serta berkali-kali langkah-langkah pergerakan serupa yang pernah dicanangkan di tahun-tahun yang silam . Tetapi kesadaran untuk tetap berusaha menyelesaikan persoalan , tidak boleh berhenti dan menjadi MATI . Dia harus selalu hidup dan menyala membakar semangat “setiap kita” , agar tidak pernah boleh menyerah kalah kepada “Penindasan serta Penjajahan” dalam bentuk yang baru .

Merdeka!

COMMENT ON MULTIPLY

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

11 Responses to “ Manifesto JSOP ”

  1. MERDEKA BUNG!

  2. mas jsop,

    Rebut kembali kedaulatan ekonomi bangsa
    Salam

  3. Salam kenal bung apa mas yaaa…blognya luar biasa!

  4. Aah… mas, saya koq jadi ingat slogan yang terkenal di th 1960-an yg dicanangkan Pemimpin Besar Revolusi Paduka yg Mulia Bung Karno yaitu : “BERDIKARI…..”
    Masih relevant ya…..? Padahal itu puluhan tahun yg silam…….!!

  5. hahah..akhirnya kegelisahanmu tentang konsep bernegara ini ..bung tuangkan…bagus bung…ehhh sebelumnya selamat yaaa…saya baca artikel disalah koran nasional….tentang 25 kegend musik indonesia…dan anda masuk kedalam 25 tersebut…selamat….

  6. @mas Indra ; Berdikari nya justru harus direlevankan lagi hehe..lha wong nggak punya duit masa mau terus2an minta ‘belas kasihan’ .
    Paduka Yang Mulia nya ini yang harus dibasmi hehe emang di Mataram :)

  7. @mas gito,

    ah..itu kan hanya ‘istilah’ mas , belum menyentuh substansi yang bisa dibanggakan .

    salam

  8. Mas Gito itu bener lho …..sampean itu pancen pantas koq…..! Apalagi setelah mengamati tulisan2 sampean di blog ini…….

  9. Hehehe..mas Indrayana mari kita elaborasi kalimat “pantas” yang sampeyan ucapkan .

    1. Kita tidak/belum memiliki “lembaga kebudayaan” yang sahid/valid yang mampu mengukur parameter/peran kontribusi masyarakat dalam sebuah kebudayaan.

    2. RSI sebagai sebuah media komersial tentu orientasinya lebih merujuk pada visi industri perdagangan diwilayah media musik itu sendiri.

    Memang bisa saja peran swasta menjadi legitimate seperti yang terjadi pada Grammy Award maupun Oscar dan lain-lain . Namun perlu sebuah proses yang cukup panjang untuk bisa mencapai taraf/level seperti itu bukan? Karena itu saya juga biasa-biasa saja menanggapi anugrah tersebut , namun tentu saja tidak lupa juga ‘bersyukur’ atas apa yang diberikan pada saya .

    Kalau soal kegelisahan saya pada bangsa / ketatanegaraan , rasanya wajar2 saja ah…., saya hanya mengungkapkan “keresahan” yang orang lain masih merasa hal tersebut bukan urusannya . Mungkin masyarakat masih merasa itu urusan ‘pemerintah atau politik’ misalnya .

    Padahal tidak ada pemerintah dan tidak akan ada sistem politik , bila tanpa kita semua ada didalamnya kan ? Artinya ….kita2lah / masyarakat semua ini yang jadi kunci permasalahannya . Masyarakat harus lebih memiliki kesadaran punya hak politik , jangan meneruskan paradigma paternalis , yang taunya hanya menyerahkan kepada kaum “atasannya” saja .

  10. Kulo Nuwun bung, minggu lalu aku sempat ditegur oleh sesepuh bhw aku ini belum mengetahui budaya sebuah kota. Kok berani-beraninya menata acara yang bersifat budaya di sebuah radio.
    Wah, lgsg down deh…
    Aku merasa bahwa yang namanya budaya ini, berat sekali..dan seakan tidak boleh ada yang mengusiknya..tanpa mengetahui tentang budaya itu sendiri..
    Susahnya memahami sebuah budaya, budaya lokal, kearifan lokal…
    Atau ini juga merupakan produk budaya, bahwa anak muda gak boleh mempunyai dan membentuk budayanya sendiri..harus sesuai pakem dan unggah ungguh yang sesuai dgn ajaran…
    Matur nuwun…

  11. Itu salah satu problem yang masih menghinggapi masyarakat kita mas (terutama kaum sesepuhnya) Bahwa Budaya Indonesia masih ditafsirkan menurut puncak-puncak kejayaan kebudayaan lokal masing-masing bangsanya. Hingga akhirnya tergiring menjadi “eksklusif” dan resistentif dibalik kekuatan budaya lokal masing2 wilayahnya.

    Budaya lokal (puncak budayanya) memang harus dipertahankan ekslusif agar daulat tradisi yang membentuk karakter positif manusia Indonesianya bisa tetap terjaga. (sopan santun dan tata nilai ajaran yang mendasar)

    Namun memahami Kebudayaan Indonesia harus dilakukan melalui mekanisme “toleransi” antar “puncak-puncak” tersebut , bukan saling adu kekuatan atau dalam jumlah siapa yang lebih banyak dan dominan. Ini “PR” bangsa kita yang masih belum selesai .

    Karena itu , jika anda ingin membuat acara yg bersifat seperti diatas tersebut , haruslah lebih jelas dan detail…sasaran yang mana yang sedang anda tuju dan kerjakan . Agar tidak menjadi “sasaran tembak” kaum sesepuh tadi …heheehe.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara