Naif bukan Lugu


Bangsa yang maju tidak serta merta harus identik dengan tercapainya kemapanan yang bersifat materi ataupun ekonomi terlebih dahulu . Kesejahteraan hidup yang bersifat pragmatis akan hadir dengan sendirinya sebagai akibat atau konsekwensi dari rancang bangun sistem kehidupan yang relatif semakin baik bagi warganya sendiri.

Berbicara mengenai tatanan peri-kehidupan yang menaungi bangsa kita selama ini , ada satu hal yang tentunya kita sepakati secara bersama . Agar kita mampu segera keluar dari berbagai krisis yang membelunggu tak berkesudahan selama ini , demikianlah pula kata para ahli / pemerhati , yang juga turut saya amini .

Kita semua harus sepakat untuk “thinking out of the box” , kira-kira demikianlah bunyi kalimat konklusi dari berbagai analisa maupun teori yang acapkali menjadi “penutup” dari setiap diskusi maupun berbagai wacana yang sering saya temui. Namun bagaimana merinci ‘relasi’ setiap permasalahan agar bisa dirunut satu demi satu , agar satu masalah dengan masalah yang lainnya bisa melahirkan “aplikasi interaksi” bagi terciptanya sebuah penyelesaian kepentingan yang ter-integrasi , sehingga akhirnya semua permasalahan yang ada bisa menjadi integral .

Disanalah sebuah bangsa atau masyarakat bisa dikatakan sudah maju dan modern dan akan dengan sendirinya melahirkan pertumbuhan ekonomi bagi terciptanya kesejahteraan warga-warga bangsanya . Mari kita kembali berkaca pada diri kita masing-masing , sampai dimanakah posisi kita saat ini .

Sudah pernah saya katakan (subyektivitas) menurut saya , bahwa bangsa Indonesia selama ini hanya sibuk membuat ‘bendungan’ maupun saluran-saluran baru dalam menyikapi “banjir persoalan” yang datang bertubi-tubi . Kita semua dibuat panik lari tunggang langgang untuk lebih sigap dan harus semakin lebih cepat lagi dalam mengantisipasi datangnya “banjir masalah” tersebut . Pada kenyataannya semakin kita dengan pandai menemukan “metode-metode penyiasatan” (mengalihkan arah berkumpulnya banjir) , semakin luas pula areal “banjir baru” tersebut menggenangi wilayah lain yang tadinya justru aman-aman saja . Lalu seperti biasanya….puyeng dan ramai-ramai sibuk mencari kambing hitam untuk disembelih dibabak / periode pemerintahan berikutnya .

Saya akan berangkat dari wilayah kesenian ataupun aspek kebudayaan , ya…karena profesi saya memang sebagai pelakunya . Banyak orang bertanya pada saya , koq musik Indonesia nggak maju-maju , koq industri musik kita tidak punya kontribusi yang konkrit bagi terciptanya iklim sosial kehidupan yang lebih baik dan sebagainya . Saya katakan ya karena regulasi / aturan ber-ekonomi nya tidak mendukung terciptanya iklim tersebut . Misalnya masih berlangsungnya sistem monopoli (dengan terselubung) dan sebagainya . Seketika banyak orang dengan sinis dan nyinyir berbisik dibelakang punggung saya sambil berujar : “musik koq urusannya sama undang-undang dan sebagainya “. Kalau mau urusan perundangan ya …jadilah anggauta DPR sana…, begitu gremengannya terdengar sampai kuping saya. hehehe :)

Begitulah masyarakat kita , yang saya menyebutnya selalu berpikir mencermati persoalan hanya melulu ditataran “hilir sungai” hingga “muaranya” saja.  Mereka teramat jauh terlepas dari konteks “hulu” sungai yang menjadi awal penyebab lahirnya sebuah persoalan. Maka , saya selalu menempatkan mereka didalam otak kepala saya sebagai kaum “oportunis pragmatis” , alias orang-orang yang cuman numpang hidup sebagai orang Indonesia saja . (alis:cuman stempel)

Begitu pula seyogyanya dengan masalah ekonomi / hukum maupun politik , ada sebab selalu melahirkan sebuah akibat . Oleh karena itupula diperlukan sebuah strategi kebudayaan yang lebih realistis , dalam artian program kerja yang lebih berpihak pada kepentingan masyarakatnya sendiri , bila kita masih ingin hidup berlama-lama dengan sebutan Bangsa Indonesia .

Bukankah sebuah “akibat” yang  melahirnya teroris dan preman dengan suburnya ?
Bukankah sebuah “akibat” yang melahirkan perilaku korupsi dan sebagainya ?
Bukankah sebuah “akibat” yang melahirkan resistensi “kanan” yang ekstrim ?

Sudah saatnya kita berpikir dengan lebih cerdas , artinya bisa juga disebut “keluar” dari kotak hitam yang selama ini mengungkung gelap “matahati” kita semua . Bukalah jendela , agar sinar matahari bisa dengan terang membantu alat penglihatan kita . Jangan lagi hanya mengandalkan “rasa” yang akhirnya menjurus ke ilmu kebathinan dan hanya membuat “dukun-dukun” jadi semakin kaya dan sejahtera . Baik itu “dukun politik” , “dukun ekonomi” , maupun “dukun beranak” .

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

6 Responses to “ Naif bukan Lugu ”

  1. uuhh..sampeyan maksa saya mikir lebih serius nih.. sebab-akibat? sistem-korupsi, korupsi-melarat, melarat-teroris… aduhh.. banyak yg perlu dibenahi mas ya.. semoga sampeyan tetep bisa berbuat melalui bidang sampeyan mas ya.. eh mas, nggak pengen skali2 jd capres mas?? :D (guyon mas, tp kl serius ya gpp lho mas..he..he..)

  2. wah maaf mas , kalo artikel saya malah bikin sampeyan jadi puyeng sangking seriusnya . Mungkin memang lebih baik nggak perlu terlalu serius untuk menanggapi masaalah yang juga sangat serius . Saya juga sedang terus belajar koq mas …., santai tapi bukan o’on , ..hahaha

    Jadi capres???? , jadi kinjeng alias capung aja saya masih susah mas :)
    Tapi kalo urusan yang ‘jeng’…’jeng’ biarlah cuman saya dan istri saja yang tau . hahaha!

  3. Tapi kalo urusan yang ‘jeng’…’jeng’ biarlah cuman saya dan istri saja yang tau . hahaha!

    Ha ha..ha

  4. [ngenthup..kadhos kolojengking meniko lho mas]

  5. Bos, bukankah emang kebiasaan kita tuh, ngeliat hasil akhir…
    Bukan proses dari awal..

    Trus berpikir cerdas…mmmm tentu dgn menggunakan akal sehat..
    Sudahkah sehatkah akal kita?
    Mengandalkan rasa..krn sering ngomongnya “saya rasa….”

  6. Betul mas Benni , masyarakat kita sudah terbiasa “menempatkan bahasa kalimat” dengan keliru , sehingga tanpa disadari kita semua sudah menciptakan perilaku keliru (budaya) dalam bersosialisasi terhadap sesama. Mari kita elaborasi makna “saya rasa” tersebut .

    Dalam pemahaman saya , kalimat “saya rasa” muncul karena didorong semangat untuk saling menghormati lawan bicara bicara kita masing2.Maksudnya agar terdengar egaliter / nggak ‘minteri’ dan sebagainya, dibanding misalnya dengan menggunakan: “menurut saya”.

    Namun kita juga sering lupa bahwa toleransi atau basa-basi yang berlebihan (tdk pada tempatnya) malahan berpotensi melahirkan “ketidak-pastian” bersikap. Karena orang menjadi saling sungkan antar satu dan lainnya.

    Dalam paradigma masyarakat yang masih menganut paham/sistem monarki , hal tersebut sangat diperlukan…agar segala keputusan tentang kebijakan tetap ditangan “Yang Diper-Tuan Agung” , atau baginda Raja. Artinya demokrasi dan kebebasan bicara boleh-boleh saja….tapi hasil akhir tetap ada ditangan “penguasa” .

    Lalu apa artinya demokrasi yang seperti itu..?

    Begitu banyak permasalahan yang muncul karena “ke-tidak telitian” kita sebagai sebuah bangsa dalam menggunakan Bahasa Persatuan (bahasa Indonesia) dengan baik dan benar.

    Bisa dibayangkan “dampak” yang diakibatkan oleh bahasa2 gaul yang sekarang juga cenderung digunakan (ikut2an nge-tren) di wilayah2 publik/umum , oleh para tokoh masyarakat bahkan juga para pejabat dan birokrat kita.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara