Warning

Lagi…, sebuah peringatan bagi kita semua sebagai masyarakat yang hidup di abad modern dan terbuka . Lagi-lagi… perilaku paternalistik dari masih ‘kuat’ nya sisa-sisa alam pikiran feodalistik dalam diri kita semua .

Masyarakat yang dengan mudahnya ‘tergiring’ dalam keberpihakan-keberpihakan atas nama toleransi sempit yang ber-identitaskan kelompok . Baik itu kelompok profesi , kelompok politik bahkan sampai pada kelompok suku maupun agama .

Orang dengan mudah akan meletakkan sebuah “jarak / gap” bila lawan bicara kita tidak sesuai dengan harapan dalam pemikiran-pemikiran kita . Lalu dengan gampangnya pula mengatakan bahwa yang bersangkutan adalah ‘kroni’ bagi golongan lain yang tidak sepaham dengan cita-cita bagi rencana di kehidupan kita sebagai sebuah Bangsa .

Bagi masyarakat yang ‘intelektualitas’ nya masih terkungkung alam feodalistik yang tergolong seperti diatas , maka sangatlah mudah di-ciptakan issue berdasarkan sentimen antar sesama , baik itu sentimen ‘ras’ / suku ataupun sebuah kepentingan kedalam isi otak kepala mereka .

Secara sederhana saya akan ber-analogi , misalkan kata saya adalah seorang musisi .. maka ada sebuah kehendak ‘naluri publik’ yang menuntut bahwa saya haruslah mewakili golongan / genre musik yang mereka sukai , tentu yang sesuai dengan selera mereka . Ketika saya ber opini dalam wilayah ‘politis’ pun , maka saya haruslah pula masuk dalam kriteria / golongan politik yang sedang ‘mainstream’ , yang lagi ‘on’ disaat ini .

Ketika masyarakat tersebut sedang meng ‘kultus individukan’ seseorang maupun sebuah aliran , maka pantang hukumnya bagi saya untuk boleh “bersebrangan” dengan pola pikiran yang searah tersebut . Sebuah keyakinan absurd yang hanya bersandar pada ‘mitos-mitos’ atau romantisme ‘kecengengan’ .

Bagaimana caranya bisa menjadi bagian dari peradaban masyarakat di belahan dunia lain yang relatif lebih maju ? Bila kita masih terus-terusan menggunakan “kacamata kuda” tersebut . Seolah-olah sudah menjadi demokratis dan modern dalam memperdebatkan argumentasi (walau terbatas dalam hati sekalipun)…, namun ketika simpul kesepahaman tidak tercapai , maka “vonis sentimen” seperti yang saya katakan diatas dengan mudah menjadi solusi / pilihan satu-satunya bagi jalan keluar .

Kemudian dengan suburnya ‘barisan-barisan’ massa tersebut bisa diciptakan oleh kalangan lain yang jauh lebih “cerdas” , untuk mendukung terlaksananya  sebuah ‘master plan’ bagi suksesnya “agenda” golongan mereka sendiri . Menjadi masalah serius dan berbahaya ketika “kalangan lain” tersebut adalah terdiri dari orang-orang yang hanya ingin berebut menduduki kursi-kursi kekuasaan dan sekedar menjadikan masyarakat ‘massa’ diatas sebagai ‘mainan catur’ yang menghiasi meja kerjanya .

Hati-hati…dan semakinlah mawaskan diri ! …., itulah upaya yang selalu saya camkan dalam benak saya sendiri disetiap saat , agar saya selalu berdiri diatas sandaran ‘kaki’ saya sendiri . Begitulah seyogyanya harapan tulus saya kepada orang lain yang menjadi bagian dari masyarakat dilingkungan saya . InsyaAllah…..Tuhan akan selalu menolong kaum ciptaan-Nya yang mau berusaha …., terkecuali bagi mereka yang memang ndableg!

Salam.

COMMENT ON MULTIPLY

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

2 Responses to “ Warning ”

  1. Eh..Mas (sambil bisik2)….apakah hal tsb diatas memang bagian dari attitude bangsa Indonesia …? se-tidak2nya sebagian besar dari masyarakat kita..?

  2. Bukankah rasanya ada 2 arus yang ‘nggak nyambung’ mas..?

    a. arus “atas” [kelompok orang pintar dan mapan]
    b. arus “bawah” [kelompok masyarakat lugu dan polos]

    Sementara kelompok ‘tengah’ yang diharapkan menjadi “agen perubahan” sibuk dengan urusan ‘hedonism’ .

    Jadi sepertinya yang terjadi adalah “pembodohan berlanjut” atas kelompok a kepada b diatas. Semakin bodoh ‘b’ nya , semakin mudah kan ngaturnya..?

    Tenang mas Indrayana , nggak perlu bisik2..”petrus” udah nggak ada kan? Ada juga barisan “petruk” yang mau coba2 pengen jadi raja . Baik raja-raja kecil sampai raja yang paling besar , kalau bisa :)

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara