Ancaman Global

Globalisasi semakin menjadi ancaman yang nyata bagi wilayah-wilayah yang bergerak lamban dalam menyesuaikan dirinya . Globalisasi menuntut efisiensi disegala bidang , efisiensi yang mampu menciptakan sistim birokrasi yang ramping dan tidak bertele-tele serta lentur dan mampu bergerak cepat mengantisipasi perubahan yang diperlukan .

Jaman berubah dan tunduk kepada kebutuhan-kebutuhan yang bersifat praktis dan instan . Tindakan antisipatif dan cepat lebih diutamakan daripada berkumpul dulu untuk merenung guna mengolah pikiran .

Pertahanan bagi ketahanan sebuah wilayah tidak lagi tunduk dibawah kekuasaan yang lahir dari landasan struktur sosiokultural masyarakat lokalnya . Namun berpindah tangan pada kekuasaan materi yang ter-representasi lewat jaringan kekuasaan koorporasi raksasa dunia .

Lagi…, sebuah cermin besar menghampiri dan hadir dihadapan , pantulannya menyadarkan kita semua tentang keberadaan dan posisi kita sebagai sebuah bangsa .

Masihkan kita akan saling berebut dalam ruangan kotak-kotak kecil yang semakin tercerai berai dari peti besarnya . Masihkah kita akan duduk-duduk manis sambil menuang secangkir kopi ketika matahari muncul di ufuk setiap paginya . Dan seolah berpikir …tak akan terjadi apa-apa yang akan mengkhawatirkan tatanan kehidupan kita sebagai sebuah negara bangsa-bangsa .

Siapa bilang kita aman-aman saja…siapa bilang globalisasi pasti akan membawa kita lebih sejahtera dengan berbagai macam gaya dan apapun caranya .

Hanya kumpulan burung-burung onta yang gemar menyembunyikan kepalanya kedalam tumpukan pasir , yang dengan naif mengharapkan turunnya dewa-dewa keadilan dari kahyangan untuk membantu dan menolong mereka .

Kita sudah terancam..dan akan semakin terancam bila masih saja duduk dan diam ditempat , atau seolah sungguh sibuk namun hanya berputar-putar dijalur kotak-kotak hitam labirin . Bah!

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

8 Responses to “ Ancaman Global ”

  1. Mas JSOP , Pilkada emang kadal , ngabis2an duit aja.Tapi pemilu…??? gimana tanggapan sampeyan.Banyak golput blak2an tuh,apa sampeyan ikutan juga :)

  2. mas, yang membuat pilkada menjadi seperti ‘pilkadal’, kan karena segala aturannya tidak dipersiapkan secara menyeluruh terlebih dahulu ya.., mungkin juga karena ‘kita’ sudah terdesak oleh tuntutan jaman serta ‘waktu’. (sudah harus sprint 200 meter) sementara kemampuan baru bisa ‘merangkak’ 10 meteran :(

    Soal golput , kalau menurut saya mah nggak ada manfaatnya. Kalau kita protes pada situasi , namun tidak turut berpartisipasi kan sama saja artinya dengan memberi ‘ruang gerak’ semakin leluasa bagi mereka yang kita protes tersebut.

    Terkecuali yang golput ada 200 juta penduduk .., nah itu baru signifikan hehehehe..(referendum seperti mimpi disiang hari bolong saya)

    Referendum yang saya maksud bukan kita men-delegitimasi konstitusi Kemerdekaan lho.., namun menata ulang kesepakatan dalam berbangsa satu . Jadi tidak boleh keluar dari “mindset” kesatuan sebagai bangsa Indonesia.

  3. Salam
    Bagaimana klo bangsa ini disimpan saja di kotak pandora he..he.. *hancur minah* :D

  4. salam mbak,
    Saya juga pernah ‘mewacanakan’ mbok ya semacam disewakan aja dulu hihihi..seperti hongkong saat disewain sama inggris..hihihi saya langsung di cap “gak nasionalis” sama temen2. Padahal cuman pengen ngajak berpikir secara ‘utuh / menyeluruh dan realistik’ .Saya juga jelas pasti menolak diperintah bangsa lain dsb.

    Tetapi paling tidak kan , ibarat “pengamat sepak bola” , kita bisa melihat peta lapangan dan kualitas para pemainnya secara global . Tidak hanya mikirin barisan penyerangnya saja . Baru gitu aja langsung ‘gak nasionalis’ ..payah dah

  5. globalisasi hanya menjadi istilah saja..
    tanpa diimbangi kemampuan individu untuk bersaing…dan kemauan individu untuk berubah…
    semua bergerak maju dan berubah cepat, hanya kadang kita saja tidak berubah dan tidak mengubah cara pandang kita..

  6. ahh..aku tak misuhisasi , mbok menawi luweh kajen

  7. Demokrasi aja kita masih rancu tapi kita udah berlagak siap ber globalisasi..ntik kalo badai pengangguran makin menggunung gimana?? siapa yang salah??

    memang kadang lawak paling lucu itu sistem di negara kita mas,bikin tertawa sampai nangis. gayanya selangit,siap buat apa saja katanya,,tapi proyek2 dalam negeri aja masih terbengkalai gitu kok mau sok2 ikut globalisasi..yang ada ya GOMBALISASI!!

    Udah deh selama “masyarakat adil dan makmur” masih sekedar semboyan..jangan aneh2.. Rakyat mungkin masih bisa tahan menunggu-atau mungkin sudah bosan bermimpi- tapi mbok ya yang diatas-yang kita kasih amanat- tu tau diri,,gak perlu gengsi!

    Kita bisa saja bersikap pragmatis: dengan menerima cacat demokrasi dan menganggapnya sesuatu yang tak terelakkan dan kita terima kelebihannya (dengan kata lain menutup mata kita). Kita terus berjalan dan mulai ber globalisasi.Mungkin sikap ini bikin hati kita tenang tapi sulit untuk menyembuhkan luka di dada akibat demokrasi salah kaprah.

    kan mending jiwa sehat daripada raganya kaya…yo po ra mas??

  8. bener mas, jiwa sehat itu jiwa kuat yg bisa melawan ke-pongah-an asing yg semena-mena. Raga yang reyot walaupun seolah ‘kaya’ ..ya pasti rapuh dengan sendirinya dan tinggal dicemplungin kali ciliwung aja :(

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara