Lastri..oh Lastri..

Inilah sebuah contoh kasus yang sedang populer , beberapa hari belakangan di negeri ini. Yaitu maraknya pro dan kontra tentang pelarangan dan dukungan bagi berlangsungnya proses pembuatan film Lastri , oleh masyarakat kita sendiri . Sungguh berbeda 180 derajat dengan kondisi dijaman ORBA , dimana pelarangan selalu datang dari pihak ‘penguasa’ yang sedang bertahta . Kini di era ‘demokratisasi’ pelarangan justru bisa datang dari siapa saja yang pengen ‘melarang’ , bisa atas nama apa saja . (kelompok agama / politik / suku / adat dan sebagainya)

Oke’lah saya akan langsung ber-opini dari sudut pandang saya sendiri , sebagai seniman dan warga negara.

Alam keterbukaan yang ditandai dengan bebasnya segala bentuk masuknya berbagai informasi , baik itu dari perspektif informasi hiburan , informasi reality , informasi tehnologi , informasi budaya serapan dan lainnya lewat berbagai media (khususnya televisi) telah melahirkan paradigma baru bagi perilaku masyarakat Indonesia yang tadinya  cukup ‘nrimo’ atau pasrah saja , seperti apa kata penguasa pemerintahnya . Kini sekonyong-konyong semuanya merasa punya hak untuk meng-atas namakan  “hak azasi”  . Ataupun demi berbagai alasan serta kepentingan .

Semakin nyata sudah , bahwa bangsa Indonesia sedang tergagap-gagap menyesuaikan dirinya dalam era globalisasi. Dalam hal apa saja diberbagai sisi / lini ber-perikehidupan , kita semua bingung dan terkesan menabrak-nabrak tembok karena tidak disediakannya saluran-saluran bagi berjalannya berbagai ‘peraturan’ .

Dibidang politik , otonomi daerah sudah menunjukkan ‘taring’nya untuk semakin mau berdiri seenak pusar perutnya sendiri dalam menentukan sikap dalam berbangsa satu , sebagai Bangsa Indonesia. Diperburuk lagi oleh gencarnya partai-partai politik baru yang asal jadi bahkan asal berpolitik .

Dibidang ekonomi , tidak mandirinya sistem berekonomi sejak jaman ORBA telah ikut menyeret bangsa Indonesia kepusaran krisis global “kapitalis liberal” yang selama ini di bangga-banggakan .

Dibidang budaya , penganiayaan terhadap kearifan-kearifan lokal lewat penetrasi yang dilakukan berbagai media kapitalis telah terbukti melahirkan kerusakan-kerusakan moral agen-agen perubahan bangsanya .

Lastri..oh Lastri.., inilah salah satu dampak akumulasi dari blunder yang diciptakan oleh ke-tidak siap-annya bangsa Indonesia mengantisipasi globalisasi. Semua ‘impact’ yang diakibatkan oleh berbagai perubahan-perubahan diatas disikapi secara reaksioner . Over reaktif…demikianlah saya menyebut hampir seluruh tatanan masyarakat kita dalam menyikapi berbagai hal diatas.

Jelas…. bahwa ini sudah sebuah “ancaman” yang seharusnya bisa kita katagorikan “serius” bagi keutuhan dan persatuan hidup sebagai sebuah bangsa dan dalam sebuah negara yang kita cintai bersama .

Sampai kapan pemerintah resmi sekarang ini lebih ‘tanggap’ dan harus berani mengambil sikap yang “TEGAS” untuk menjaga keutuhan masyarakat dan bangsanya sendiri . Sebagai warga-negara kita hanya mampu mengatakan : ” Inilah tugas kalian untuk segera mengatasinya !”

Gejolak dan berbagai benturan yang terjadi di masyarakat , tidak bisa sekedar diserahkan pada “dinamika sosial” yang dibiarkan berkembang dengan sendirinya ditengah masyarakat , dan oleh masyarakatnya sendiri . Dimanapun diseluruh muka bumi ini , selalu ada proteksi /  aturan / political will yang bertugas melindungi kepentingan bangsanya sendiri .

Pemerintah harus berani bersikap tegas , walau tampak tidak ‘populer’ bagi upaya mempertahankan kekuasaan pada periode berikutnya . Sudah saatnya bangsa ini diajak berpikir untuk merencanakan tatanan kehidupannya 25 tahun bahkan 100 tahunpun kedepan . Bukan lagi per-lima tahunan.

salam.

About the Author

jsop

Bukan jurnalis bukan pejabat bukan juga politikus apalagi tentara....wong cuman seniman. Ibarat cermin bagi elok rupa maupun cermin bagi buruk rupa. Jangan membaca tulisan seniman bila tampilan buruk rupa anda enggan dibaca.

11 Responses to “ Lastri..oh Lastri.. ”

  1. kenapa sih bung Eros keliatan memaksakan kehendak gitu mas????

  2. ye’…mana saya tau mas ..hehehe , mari tanyakan pada ebiet g ade .. :)

  3. jujur, aku gak ngerti ..Lastri itu siapa bos? dan seperti apa cerita singkatnya ?

  4. Kalau menurut Pak Jockie, ini suatu kemunduran atau kemajuan menuju kedewasaan berpikir bangsa ini ?
    Nyuwun sewu ikut nimbrung lagi, tapi kalau ndak ada ‘nggopek’ juga boleh. He……he….. Peace Pak !

  5. benni said: jujur, aku gak ngerti ..Lastri itu siapa bos? dan seperti apa cerita singkatnya ?

    –> setahuku dia simbok yang jual pecel lele di prapatan malioboro wetan kuwi lho..

  6. gomby said: Kalau menurut Pak Jockie, ini suatu kemunduran atau kemajuan menuju kedewasaan berpikir bangsa ini ?
    Nyuwun sewu ikut nimbrung lagi, tapi kalau ndak ada ‘nggopek’ juga boleh. He……he….. Peace Pak !

    –>hehehe menurut saya sih.., ini bukan soal kemunduran atau kemajuan berpikir bangsa Indonesia (baca : masyarakatnya)
    Tetapi bukti bahwa undang-undang dan sistem perundangan serta udang2 yang banyak bersembunyi dibalik batu…hehehee…*bingung sendiri nih nerusinnya…*

    Pokoke’ peraturanlah yang nggak jelas…alias ora dong blassss

    tapi buntutnya itu lho…koq “nggopek” juga nggak pa2… lha mbok sampeyan yang ngasih saya nggopek…koq malah saya yang dimintain…(opo tumon ‘ki)

  7. wuoowww…..la reformasi yang ditelurkan mahasiswa jadi kelak – kelok….malah kepleset. aku setuju dgn om jocky…di jaman orba dulu pelarang muncul dari rezim, skr malah antar masyarakat. wuoww…piye ki. ndilalah yg lagi kena “apes” film lastri..padahal didalamnya ada terobosan kawula muda yang berani memproduseri.
    apa kbr om jocky dengan kantata?swami?suket?dalbo ? kpn konser lagi ?

  8. suruh eros syuting di belitong aja aman……………..jelas2 negara komunis kaya cina maju kok ditakutin si

  9. saya sempet mikir , kenapa eros nggak syuting di perbatasan papua aja ya..? sebelah timurnya Wamena .Pasti lebih aman…adem lagi udaranya..hehehe.

  10. Nyang bikin saya tertarik dari pembikinan film ini, bukan dari setting waktu yang katanya bernuansa komunism, bukan pula dari artisnya yang skarang kelilit kasus penganiayaan (katanya).
    Nyang bikin saya tertarik justru tulisan nyang tercetak di kaos para pendukung film ini pada waktu konprensi pers.

    LASTRI
    (tulisan “LAST” warna putih – kalo ga salah – “RI”nya pake warna merah)

    mungkin gara2 itu, mereka nyang koar-koar ndak setuju pembikinan film ini menolak pembikinan film ini dilanjutkan.
    (sekali lagi mungkin) merak ndak mau LAST-RI bener-bener kejadian. Akhir dari republik ini…republik nyang mereka cintai karena gampang diprovokasi…gampang digertak…gampang…pokoknya segala gampang lahhh…

    andaikata boleh usul…mbok ya judulnya diganti saja…
    NEXTRI

    malah lebih bikin orang penasaran to…republik ini bakal jadi apa…

    ini sekedar usul loh yaa….
    digubris ya sukurrr…
    ndak digubris ya ndak papa..
    lah wong nulisnya aja ngawur kok…

  11. “(tulisan “LAST” warna putih – kalo ga salah – “RI”nya pake warna merah)

    wah..saya baru tau tuh….kalo ada begini2an.., menurut saya sih..(subyektivitas saya lho..). Ngapain juga sih menggunakan strategi marketing dengan menyentuh wilayah2 yang masih rawan . Apapun alasan & pembenarannya (kebebasan atau pencerahan dsb) . Seharusnya kan lebih cerdas meletakkan “mana” yang bisa diterapkan dan mana yg belum bisa .

    Pemaksaan-pemaksaan kehendak selalu akan berakibat lahirnya resistensi dengan kadar pemaksaan kehendak yang serupa .

Leave a Reply

Currently you have JavaScript disabled. In order to post comments, please make sure JavaScript and Cookies are enabled, and reload the page. Click here for instructions on how to enable JavaScript in your browser.

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <blockquote cite=""> <code> <em> <strong>