Prihatin..!

Di kolom surat pembaca di sebuah majalah musik [Rolling Stones Indonesia] , saya terkesima lalu sekejap bisa membayangkan ‘kepedihan’ hati yang dirasakan oleh seorang anak yang ayahnya sudah tak ada lagi (almarhum) .

Surat terbuka tersebut sekaligus menjawab bagaimana kegelisahan saya yang selama ini di isyu kan , bahwa telah berlangsung ‘konfrontasi’ berjangka panjang antara kami berdua hingga akhir hayatnya .

Inilah salah satu dampak dari tidak adanya kesadaran diberbagai lapisan masyarakat , untuk segera membiasakan dirinya transparan / terbuka dan akuntabel disegala bidang . Paradigma unggah-ungguh yang feodalistik dan paternalistik harus segera dibuang jauh-jauh . Agar ‘setiap langkah keinginan kita’ bisa terbaca dengan jelas oleh orang lain , demikian pula sebaliknya .  Setiap ‘perilaku dan sikap’ orang lainpun akan mampu kita pahami dengan seutuhnya, tanpa menduga-duga dan berandai-andai .

Selama kualitas peradaban dalam pergaulan bermasyarakat kita masih serupa  , maka masih akan sangat mudah kita di-ombang-ambingkan oleh isyu-isyu yang menyesatkan atau bahkan digunakan sebagai ‘mainan’ bagi kepentingan tertentu.

Surat pembaca tersebut , ditulis oleh puteri tertua [koreksi: putri kedua] almarhum Chrisye .Selintas terbaca dengan sederhana , namun sungguh sarat dengan muatan ‘makna’ .

salam

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

16 Responses to “ Prihatin..! ”

  1. “….unggah-ungguh yang feodalistik dan paternalistik …..”.
    Hal tsb juga disinggung di dalam bukunya Mochtar Lubis “Manusia Indonesia” (1977) sebagai salah satu ‘kecirian’ yg sudah sedemikian ngoooyot……

  2. betul mas indrayana, akibatnya setiap tindakan seseorang selalu mengundang “kecurigaan” yang bisa berkembang kemana-mana. Coba.., kalau semuanya serba transparan , maka bila anda tidak suka atau terganggu oleh sikap saya misalnya , maka saya akan dengan gamblang menjelaskan maksud dan tujuan saya.

    Soal nantinya cocok apa tidak cocok itu masalah lain lagi bukan ?
    Tetapi yang pasti tidak mengundang “suudzon” sampai kepada fitnah jahat .

    Unggah-ungguh paternalis cukup dipakai diruang ‘budaya lokalitas’ masing2 bangsanya saja , untuk digunakan sebagai ‘pagar’ agar rasa hormat dan sopan santun adat ketimuran kita tidak rusak. Tapi tidak untuk digunakan diruang pergaulan antar bangsa…apalagi wilayah yang lebih luas dan universal dengan berbagai ragam permasalahannya .

  3. salam perkenalan ,

    mas JSOP , tingkah laku diatas kan terjadi dimana-mana bukan hanya didunia musik.Salut dengan daya kritis mas JSOP.

    Sukses selalu!!!

  4. lhaa yaa itu lho

  5. emang garis besar kepedihannya gimana sih mas??

  6. anda bisa baca dimultiply saya mas ,salam
    http://jsops.multiply.com/journal/item/188/Prihatin.._surat_pembaca_Rolling_Stones_Indonesia

  7. dari apa yang saya baca di multiply tsb, kesimpulan sy kesemuanya itu ternyata sbnry murni dibentuk oleh media industri tibakno yo mas, berarti biarpun saat itu belom ada media infotainment seperti sekarang, namun management konflik antar artis yang sengaja dibuat oleh orang-orang yang punya kepentingan sudah ada seperti realita yang berkembang seperti sekarang …Padahal kalo boleh bilang, saya sgt mendamba kolaborasi trilogi bisa ada lagi lo mas…

  8. Itulah pentingnya “melek-politik” atau sadar politik bagi masyarakat kita. Bahwa politik itu bukan sekedar hanya urusan “berebut kekuasaan” dalam terminologi ke partai-an dsb.

    Berdagang pun menggunakan strategi ber-politik , berbudaya-pun juga memerlukan strategi ber-politik .

    Bahkan bertetangga-pun kita wajib menggunakan strategi tersebut , agar bisa saling menghormati antar satu dan lainnya.

  9. Mas, tulisan di RS tsb malah bikin album BPB makin klasik karena kontroversi subyek/artis yg terlibat termasuk Erros Djarot (dgn adanya surat pembaca tsb). Tapi saya lebih tertarik tulisan ttg mas krn saya selama ini tahunya yg nyikat cincin sang pujangga Marah Rusli adalah alm. Dedy Stanzah,

  10. hahaha..yang nyikat ternyata saya ya mas :(
    itulah sejarah dan kenyataan hidup , bahwa berperilaku ‘layaknya’ maling pun saya juga pernah .

  11. Persoalan album BPB rusuh sekali mulai dari tuntutan Berlian Hutauruk sd persoalan surat pembaca kel.alm Chrisye. Belum lagi persoalan hukum master albumnya (pernah baca Deby Nasution menuntut ttg hak cipta “Angin Malam”).Sebenarnya master album itu milik siapa sekarang? Pernah baca di kompas Musica berani beli dgn harga tinggi sekali. Kalau musica berani mengedarkan lagi kayaknya akan banyak pihak yg menuntut ya Mas? yg untung ya pengacara dehhh

  12. numpang nge-link ke blog anda di blog saya, you’re my – pobably – idol :)

  13. @ken_hensly:

    Sebenarnya sudah bisa di-telusuri kan ? akar “troublemaker” nya..
    *cukup dijawab dalam hati saja..* hehe..

  14. berbuat baik tu sebenernya gampang mass…
    Nyang susah tu membuat kesan baik di mata orang-orang yang ndak suka sama kita.
    gampangnya gini mass…
    tarolah waktu itu (waktu Alm masih sakit) Mas JSOP punya duit 1 trilyun turah-turah. Trus duitnya disumbangin buat penyembuhan Alm. Padahal sudah seikhlas-ikhlasnya umat.
    Tapi tetep saja, orang nyang ndak suka sama njenengan pasti bilang….”sok pamerrr…mentang-mentang punya duit banyak…”
    nah apalagi kalo cuma sekedar (maaf kalo saya bilang sekedar) membesuk Alm waktu sakit…apa ndak lebih-lebih.
    ya tho ?
    susah memang massss…
    saya juga menyadari & mengalami hal yang hampir serupa….

  15. lho..bukannya terbalik mas , membuat “kesan” baik itu bukannya relatif lebih mudah daripada benar2 berbuat sesuatu yang baik ?
    Dijaman sekarang kesan baik bisa dipola lewat instrumen “pencitraan” yang bisa direkayasa bukan ?

    Kalau contoh kasus yg anda simpulkan diatas (orang2 yng memang punya tendensi curiga dsb) ….ya biarin aja…anggap saja mereka golongan kaum ‘sirik’ dan ‘dengki’. hehehe

  16. kalo njenengan ngomong gitu..
    berarti kesimpulan saya jadi berubah…

    SAMA-SAMA susahnya…

    whelhaaa dhaalhahhhhh

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara