Bangsa ‘beradab..?’

abg-modern

Syahdan hikayat nenek moyang ..konon masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai ragam bangsa-bangsa yang beradab dan sangat menjunjung tinggi nilai-nilai luhur serta semua makhluk  hidup ciptaan Tuhan Yang Maha .

Disatu hari ketika saya sedang mengendarai mobil , disebuah lampu merah persimpangan jalan saya berhenti…menunggu giliran untuk jalan kembali. Pemandangan disana sungguh memuakkan ….!

Tampak beberapa peminta-minta [pengemis modern] berjajar duduk diatas kursi kayunya (dingklik) berjarak sekitar 10 meteran antara satu dengan yang lainnya. Mencoba menarik perhatian dan simpati setiap pengemudi agar rela memberikan lembaran ataupun recehan uangnya.

Dan yang disuruh menerima uang sukarela tersebut adalah se-ekor monyet yang lehernya diikat tali , serta wajahnya yang ditutupi topeng . Ada yang berupa topeng robot sampai topeng wajah para punakawan wayang orang. Mereka menarik-narik leher monyet tersebut ketika si monyet tampak diam ‘keletihan’ , agar monyet tersebut berdiri lagi dan berjalan mondar-mandir layaknya seorang kusir yang sedang mengendalikan kuda.

Tidak kurang dari 5 orang pekerja sirkus biadab diatas berderet dipinggir jalan , seolah tak merasa punya salah dan dosa apa-apa .

Saya tidak tega untuk mengambil picture tersebut melalui handphone saya , tapi saya rela memotret disebelah kiri saya ketika ada dua orang abg peminta-minta sedang leyeh-leyeh istirahat dibawah pohon … sementara teman yang satunya sedang asik mencet-mencet sms di hp nya .

Salah satu potret sosial masyarakat kita , mengaku beradab namun berperilaku biadab . Dan yang satunya lagi berharap mendapatkan uang dengan cara yang paling gampang , sambil memamerkan ketololannya menjadi budak tehnologi.  puih..!

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

8 Responses to “ Bangsa ‘beradab..?’ ”

  1. Itu di daerah Jkt sebelah mana Mas….? Hal yg mirip pernah saya lihat di sekitar kawasan Kelapa Gading yg menggunakan monyet sebagai penarik simpati.
    Di Bogor pun saya pernah melihat peminta2 yg sedang ‘istirahat’ ber-main2 dg HP.

  2. mas Indrayana , lokasi foto diatas menjelang persimpangan Harmoni (dari arah tomang). Sementara yang “sirkus biadab” disekitar PI (rumah orang2 kaya) mungkin si pawang berasumsi orang kaya seneng dengan hiburan yang “ajaib2″

  3. hmmm itu profesi, sih. jadi dianggap “kerja” sama mereka dan parahnya nggak peduli itu kerja yg baik (apalagi bener) atau enggak.

  4. Cermin babe2 kita di sono.Karena mereka tdk punya kesempatan memeras & menjajah sesama manusia—

  5. anda menggunakan cermin kaca spion “komperehensif / holistik” ya ..mas :)

  6. Ada yang bilang, manusia harus ‘berada’ dahulu supaya bisa dan mampu ‘beradab’. Ini tentu sinis dan keliru, gak logis pun belagu.
    Jadi,untuk jadi manusia yang ‘beradab’ gak perlulah sampai harus ‘berada’ dulu, tapi paling tidak ya..’beradat’artinya seia dan setia pada adat kemanusiaannya (nurani atau sunatullah)
    Lha kalo monyet dijadikan gembel padahal tampange wis elek pake ditutupin segala karo topeng, yo opo see? apa kita mau jadi juragannya monyet gitu? apa bos-e beruk?
    Satu pertanyaan mas, ngomong2 topeng si mongkey sing malang kuwi gambar apa tho..? jangan bilang kalo gambar topengnya adalah gambar manusia….UEDAAAAAAAAAAANNN!!!!
    “monyet disuruh ngemis nyamar pake topeng’e manusia…?!?!”
    HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    MARI MEMANUSIAKAN MONYET LAGI (BAGIAN KEDUA)

  7. Mungkin emang seperti itu kondisinya sekarang ini mas..,
    *kulo tak ngilo rumien* ..lha kan beneerr…ketheek jee’..!

  8. yo wis…poro kethek…muni-ooooo!!!!
    Kethek jejaden + kethek2 :AKUUUUUUUUUUURRRRRRRR!!!!
    (SETUJUUUUUUUUUUUU!!!!!!!!!!!!!)

    Dicuplik dari SIDANG UMUM PARA KETHEK,
    di Gedung MP(K)R (Majelis PermusyaWARASAN Kethek Ragunan
    ( btw,koor aduhai tadi ( SETUUUUJUUU!!!! )keren kali mas buat intro lagu macam ‘pangeran brengsek’atau mgkn lagu berikutnya?)
    HAHAHAHOHOHOHO…Setujuuuuu!!!!

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara