Aku binun..!

nyomet

Persoalan hari ini adalah persoalan pragmatis yang harus dihadapi dan disikapi dengan cara-cara yang sesuai dengan kebutuhan hari ini. Pertahankan segala sesuatu yang sudah baik , benahi kekurangan-kekurangannya dan tinggalkan perilaku-perilaku yang buruk serta yang sudah terbukti selalu merugikan kita semua .

Begitulah ’slogan’ yang disepakati oleh masyarakat Indonesia umumnya dalam menjalankan semangat “Perubahan” guna mewujudkan harapan dan cita-cita nya kedepan.

Namun bagaimana menciptakan ‘relasi’ yang dapat menghubungkan ‘pragmatisme’ tindakan diatas agar sesuai dan empiris dengan kehendak gran strategi secara konseptual , demi kepentingan sebuah masyarakat atau sebutan bangsa yang “Satu” .

Satu contoh yang kasat mata adalah hadirnya paham demokrasi yang kaya dalam jumlah dan kuantitas , namun teramat sangat miskin dalam kualitas . Atau bahkan budaya ‘rating’ , yang hanya melahirkan “badut-badut” pesolek tanpa intelektualitas memadai .

Mungkinkah sebuah bangsa akan bisa disebut maju dan modern , bila langkah-langkah yang dilakukan hanya sekedar menyikapi kebutuhan-kebutuhan pragmatisme hari ini , tanpa ada korelasinya dengan “konsep” yang telah dirancang (*sudah atau belum*) secara integral / sistemik dan holistik .

Mari kita tanyakan pada politisi-politisi beserta barisan partai-partai politiknya…, pasti jawabannya “emang gw pikirin.!”

Ah..jangankan bertanya pada politisi , pada diri kita sendiri aja..jangan-jangan juga sama aja .
Lalu..?

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

8 Responses to “ Aku binun..! ”

  1. Di sini saya masih menaruh dan berharap pada Anda. Mumpung masih punya gairah seni dan masih ada daya. Minimal lewat kesenian itu.Kata orang. tapi buat saya seni bukanlah minimal. Percaya ya?
    Seni tetap memainkan peranan penting. Adakah buah nangka manis tanpa getah kalau seni dianggap getah ekononi-politik?
    Enaknya, senangnya jadi seniman. Bisa menyusup ke hati siapapun. Hati bebal yang tak bisa ditegur oleh agama terkadang bisa ditembus oleh seni. Dan di situlah mas Jocky mestinya terus bergiat. Bersyukur adalah penting sebab hanya dengan cara itulah (kata alm bapak saya) kita bisa melakoni hidup dan berbuat baik.
    Mas Jocky, saya kangen dengan lirik dan nuansa musik Anda. Saya belum kembali mendengarnya. Saya menunggu konsep baru menghadapi banyak kepalsuan simulakra sekarang ini. televisi adalah bagian terpenting yang mungkin bisa dijadikan fokus persoalan Anda. Masuklah ke televisi terus, susupkan pesan-pesan hidup yang baik di tengah pesolek simulakra itu. Kita kecam televisi, sekaligus kita manfaatkan. Itulah strategi agar kita tak frustasi.
    Saran saya, pakai artis-artis baru hasil didikan Anda sendiri. Yang mau menyanyi dan mengorbit dengan jiwa.

  2. InsyaAllah saya akan melakukan apa yang bisa saya lakukan mas.

  3. Ikut bingung sekaligus prihatin juga.
    Badut-badut ‘berwawasan dangkal’ yang berani berkoar atas nama ‘rakyat’…menyedihkan. Benar kata Pak Jockie, mungkin saya juga seorang badut, tapi setidaknya, saya tidak akan mengorbankan kepentingan orang banyak…semoga…

  4. Semua berawal dari ‘rumah’, ‘rumah’ akan mendidik anak, dan anak akan mensosialisasikannya di ‘sekolah’, lalu di ‘masyarakat’ ia dan kawan-kawannya (yang selaras dan sewaras dengannya)akan juga mengeksternalkan hibrid-hibrid dan bibit-bibit ‘kebiasaan’ baru yang pada gilirannya akan muncul pranata dan ‘kebudayaan’ baru juga, yang kelak akhirnya ‘peradaban’ baru ( kapan?…mbuuh? tergantung masing-masing rumah dan daya serta gaya kepemimpinan tiap ‘rumah kecil’ dan ‘rumah yg lebih besar’)

  5. @mas gomby, kita bisa jadi memang dibuat bingung ya mas , tapi yang lebih penting semoga nggak ikutan linglung hehe.. :)

  6. RAGAZYGA said: Semua berawal dari ‘rumah’, ‘rumah’ akan mendidik anak, dan anak akan mensosialisasikannya di ’sekolah’, lalu di ‘masyarakat’ ia dan kawan-kawannya (yang selaras dan sewaras dengannya)akan juga mengeksternalkan hibrid-hibrid dan bibit-bibit ‘kebiasaan’ baru yang pada gilirannya akan muncul pranata dan ‘kebudayaan’ baru juga, yang kelak akhirnya ‘peradaban’ baru ( kapan?…mbuuh? tergantung masing-masing rumah dan daya serta gaya kepemimpinan tiap ‘rumah kecil’ dan ‘rumah yg lebih besar’)

    –> nah..ini substansinya ya mas

  7. ah lama nggak dolan ke pertelonnya mas yock, msh selalu menerbitkan matahari ya mas…maturnuwun lho mas, tulisannya slalu mengingatkan kita :D

  8. apa kabar mas , lama tidak kelihatan :)

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara