Sosialisasi Evolusi

latihan
Album musik instrumentalia semacam evolusi memang tidak dapat diperlakukan sebagaimana layaknya industri memperlakukan musik dan lagu-lagu mainstream yang ada sekarang ini . Diperlukan kerja yang lebih keras serta dukungan dari berbagai pihak agar sosialisasi musik instrumentalia bisa ditempuh lewat upaya-upaya yang maksimal.

Disisi yang lain , kita memahami bagaimana tingkat kesulitan untuk menyelenggarakan konser-konser yang berkesinambungan dan utuh yang melibatkan lebih dari 130 orang pemusik diatas stage, disetiap pergelarannya . Biaya..itulah kata kuncinya .

Beruntung konser tanggal 11 Januari yang lalu , atas partispasi dari seluruh pendukung acara maka biaya yang tidak logis diatas bisa ditekan dengan semangat solidaritas berkesenian dan bebannya dipikul sama rata secara bersama diatas pundak para pendukung acara.

Saya memohon doa dan restu teman-teman semua , agar sosialisasi kerja kreatif tersebut bisa tuntas dengan cara kami bisa melanjutkan program konser berikutnya. InsyaAllah bisa berjalan diberbagai tempat nantinya , Amien.

salam,
jsop

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

31 Responses to “ Sosialisasi Evolusi ”

  1. gitu ya pak? mau konser lagi, wah top, semoga lancar

  2. Kata2x “BIAYA” kadang menjadi klise bagi para penyelenggara konser/pagelaran musik seperti “Evolusi” yang hitungan produksinya rugi(padahal sudah mengeruk keuntungan bertahun-tahun di RI),jd tidak mau berkorban untuk pagelaran seperti itu. Jd hanya promotor tertentu yang mau menyelenggarakannya slah satunya “SETIAWAN JODI”. Semoga sukses untuk lanjutan konser “EVOLUSI”nya.

  3. mudah2 an ya mas…., tahun 70’an ketika mengupayakan musik pop agar bisa rada intelek’ ..saya hanya berhadapan dengan ‘sinisme’ industri mainstream yang masih “tradisional” dan masyarakat yg belum terbiasa.

    ditahun 80’an, ketika kami berusaha agar musik ‘rock’ bisa diterima dikuping orang Indonesia , demikian juga kurang lebih handicapnya .

    Di-tahun2 berikutnya…, langkah jadi terasa lebih berat dari sebelumnya.Sebab semakin kuat kepentingan industri yang harus disikapi. (globalisasi dan strategi kepentingan modal asing)

    Namun itu semua dilalui dng langkah yg relatif (terasa) ‘ringan’ , ‘nothing to lose’ .. sebab kami berangkat dari kesadaran “nol” (tdk terbeban oleh julukan / predikat / interest pribadi dsb)

    Hari ini tantangannya terasa lebih berat , sebab hadirnya ‘politisasi’ atau intervensi issue politik ke wilayah berkesenian. Disisi lain kekuatan kepentingan industri mainstream juga semakin kokoh cengkramannya.

    Serta faktor yang paling menjadi tantangan adalah proses “meng-nol-kan” diri.., tidak semudah dilakukan seperti di masa2 lalu !

  4. @hedi, yah… mohon doa’nya aja deh..hehehe.Selama hayat masih dikandung badan..’katanya sehh begitu ya’ :)

  5. maju tak gentar mengusir penjajah!!!

  6. Hati-hati aja ya mas…. uda mendekati masa-masa caleg/capres/cawapres dengan segala macam hiruk pikuknya!!! Jangan sampai album evolusi “terpolusi” ya?????

  7. trilogi, minimal nggak mudur ya mas :)

  8. @mas deddy, bener mas.. harus lebih ati2 sekaligus pembelajaran juga buat saya menyikapi keadaan .Doain aje ye’…selamet dijalan hehehe..

  9. ya kita trus berjuang mas, aku dukung mas !!, masak dari dulu seniman udah dikalahin dijadikan batu pijakan untuk sukses orang lain…moga bisa sampai ke salatiga mas konsernya tapi nggak pakai hujan ya…supaya nggak kerokan lagi..

  10. Walah, lupa sebulan gak buka website Mas Jocky.
    ya…ya…tadi saya main ke kantor penerbitan. Sambil melihat tumpukan buku-buku baru yang baru datang dari percetakan,saya perhatikan jenis-jenis buku biografi mini para artis Barat.
    Sambil menikmati buku baru yg halus-halus dan caem covernya itu saya dan mathori al elwa, penyair, mantan editornya Emha Ainun Najib itu ngobrolin kemukinan nulis buku group musik.
    “Kalau god bless piye?” tanyaku pada kang mathori.
    “Ya, bisa juga itu. Cobalah kamu gali pelan-pelan.Tapi enggak usah mikir pasar dulu, malah mumet. Nulis aja dulu…”
    “ya…ya….betul Kang. Nulis saja dulu ya. Ngomong2, sudah ada buku tentang God Bless belum ya?” tanya saya.
    “Wah enggak tahu aku…”sahut mathori.
    “Ya sudah, coba ya.Aku usahakan. tapi kamu yg ngedit nanti ya?”
    Mathori, “siap…”
    Ha, saya senang sama editan mathori ini. Sekalipun orangnya tampangnya enggak serius tapi untuk urusan kejelian dan penghalusan bahasa saya sudah merasakan kualitasnya.Hehe…dia ngedit buku Ternak Kelinci saya, saya pun merasa puas. Hanya sedikit error, dan selalu mengerti maunya penulis.

    Mas Jocky, ah….saya merasa perlu menceritakan hal ini. Ide kecil terkadang bisa jadi sesuatu yang penting dikemudian hari. Saya siap seandainya konsekuensi pasar mengharuskan saya tidak mendapatkan royalti banyak. Sebagai penulis kadang saya harus nekad, tak usah ngurusin berapa jumlah buku. Dan untuk god bless, rasanya saya ingin menuliskan hal itu.
    Siapa yang mau nerbitin dengan pembiayaan ya?
    akh, tak usah dipikir. kalau nekad-nekadan soal penerbitan (asal buku sudah) jadi juga tidak terlalu sulit, apalagi kalau cuma cetak 1000, atau 1700eks.

    Yang penting nanti kalau buku sudah terbit harus ada yang promo ke komunitas godbless lama. barangkali mau membeli coretan-coretan saya yang awam tentang god bless…..
    Begitu mas jocky, ini yang ada dibenak saya malam ini….

    salaman
    faiz, bandung

    –> wah… sulit ngejawabnya nih mas..

  11. bambang dwiatmoko said : ya kita trus berjuang mas, aku dukung mas !!, masak dari dulu seniman udah dikalahin dijadikan batu pijakan untuk sukses orang lain…moga bisa sampai ke salatiga mas konsernya tapi nggak pakai hujan ya…supaya nggak kerokan lagi..

    –> tenang mas..kalau sampai salatiga saya nggak akan lupa lagi bawa sarung dari terpal, biar nggak masuk angin lagi hehehe..

  12. hehe…ya sulit.
    intinya nanti saya riset saya dulu. habis itu saya tentuin tema, lalu angel. Cuma kalau nulisnya serius memang harus riset serius. saya belum terbayang kalau garap penulisan ini tanpa modal untuk wawancara 5 personel godbless ditambah sumber-sumber lain. Ongkos transport dan komunikasi saja dipastikan sudah seabrek…hihi…
    saya akan memulai dari hal yg mampu dan mungkin saja…
    doakan.

    faiz

  13. 1. Kuyakin Sampai Disana : cocok jadi pembuka, megah, aransemen dan interpretasi musikal cocok dengan tema yang diusung
    2. Rinduku Padamu : manis tapi tetap megah, oboe-nya pas betul, walau chord nggak terlalu progresif, tapi perpindahan2 nada dasarnya bikin manis. SBY pasti suka bgt
    3. Mengarungi Keberkahan Tuhan : intronya saya suka bgt, warna Ebiet-nya cukup kental, biarpun chord2nya sederhana, tapi melodi dan pilihan sound kena dengan tema, mengingatkan pada Alm. Billy Budiardjo
    4. Mentari Bersinar : efektif jadi miliknya Pak Idris Sardi
    5. Dendang di Malam Purnama : saya belum dengar lagu aslinya, tapi apa di CD tracknya nggak ketukar dengan “Kawan” ?, beatnya nyeleneh sendiri di album ini hehehe
    6. Kawan : idem, apa nggak ketukar dengan track 5? saya suka track ini, biarpun formatnya lain sendiri, cuma belum kebayang lagu aslinya kayak gimana
    7. Hening : biarpun aransemennya nggak ruwet dan mengalir, tapi ini salah satu track yang paling saya suka, seksi piano, tiup dan stringnya pas dalam pembentukan ambiance
    8. Kuasa Tuhan : saya bayangkan cocok juga jadi sound track film petualangan anak-anak hehehe, tapi suara Natasha kok kedengaran nggak full spectrum Mas, apa disengaja?
    9. Untukmu Anak Manis : lagunya memang manis, dibawakan oleh maestro-maestro yang bermain dengan efektif dan bersih tanpa perlu berakrobat di sana sini
    10. Selamat Berjuang : interpretasi musikal yang cocok dengan judul, seperti merangkum tema satu album, pas untuk track penutup

    Semula saya agak kecewa dengan kualitas mastering sewaktu pertama kali didengar di audio mobil. Sewaktu disetel di sistem audio stasioner, baru keluar spektrum yang lengkap.

    TTD
    Kopral Jojon

  14. Mas Kopral jojon (JS) hehe, maturnuwun mas reviewnya. Koreksi Lagu 4 mas, itu cello (Dimawan) sedangkan lagu 5 dan 6 memang tertukar (keburu tercetak di periode pertama) maaf :) Lagu ‘dendang…’ memang agak nge-nJazzy ya mas..biar inget sam saimun dikit hehehe..

    Segala kekurangan audio digital mohon dimaklumi sekaligus dimaafkan ..maklum kuping ini masih rindu analog. Jadi pengabdian saya pada digital (keniscayaan) masih ‘setengah-setengah’haha…

    salam

  15. Ndak apa-apa Mas, kayaknya hidup yang realistis memang musti banyak kompromi :). Kuping saya juga termasuk kuping yang lebih kompatibel sama sistem analog kok. Cuma memang saya amati kalau sound-sound string yang alami suka ‘kurang gimana gitu’ kalau disetel di sistem audio minimalis seadanya seperti audio mobil. Apalagi kalau sudah jadi mp3.
    Pekerjaan Mas Indra Q, seperti biasanya bagus sekali, seperti yang dikerjakannya untuk Opick.

    Masih ditunggu kompilasi yang ada ‘Isyarat’-nya Mas, hehehe

  16. Kebayang deh nikmatnya kalau bisa nonton live-nya track 1,2,3 dan 10, saat tata akustik concert hall sudah ikut memberikan andil untuk efek suara, dan spektrum frekuensi 20-20kHz bisa tertangkap penuh di kuping, dan setiap level pada rentang intensitas suara 0-90dB bisa didengar secara penuh.
    Tapi yang paling saya suka di album ini, yang paling touchy, malah track 7 hehehe…

  17. Nanti InsyaAllah ada dvd nya mas.., (bisa saya kirim ke sampeyan)
    Track 7 memang banyak penggemarnya mas :)

  18. Mas Yock sambil evolusinya berjalan, kapan nih kantata bergema lagi karena mendekati pemilihan presiden harus ada pencerahan bagi rakyat-rakyat dari orang-orang macam Om Willy,Mas Jody,M’Jabo,Bang’Iwan dan Mas Yock….

  19. Syiip… lah Mas. Ntar lewat email aja yaa requestnya.
    Satu lagi, salut deh sama SBY. Ternyata bisa bikin lagu yang jauh lebih mutu daripada musisi bo’ong-bo’ongan mutakhir yang modalnya cuma chord tiga jurus, gitar dan sound effect mahal (padahal yang kepake distorsi doang, terus dicopy paste lagi hehehe), lirik nggak mutu, tampang dan gosip.

  20. @mas jefry, belum ketemu jalannya mas…, Mudah2an bisa ya..:)

  21. @mas JS, gitu ya mas? ada yang bo’ong2 an rupanya..? hihihi

  22. Ada Mas, apalagi yang cuma nongkrong di belakang orgen tunggal, nyetel playback doang hihihi…

    Selamat, anda sudah bisa menghargai karya Presiden NKRI dengan cara yang sangat layak!

    Track 3 itu lho … kok terasa makin touchy.
    Secara saya penggemar berat Ebiet, dan saya merasa anda mempertahankan warna Ebiet di situ.

  23. track 3? , hehe.. saya dari awal mula juga sdh merasakan hal yg serupa mas :) Notasi lagunya sederhana , tapi justru kesederhanaanya tsb yang membuat akhirnya tidak ‘sederhana’. (ruh nya kuat)

  24. Malam ini baru kesempatan nyetel……….. ohhhh…. megah banget…..sepertinya tidak ada atmosfer Yockie di th 70-80an…bener2 evolusiiiiii……..!!
    Terima kasih Mas….kembali anda mewarnai musik Indonesia pada saat yang pas.
    Siang tadi saya baca majalah Tempo yg menulis dua halaman penuh bahwa Erros Djarot sebentar lagi akan meluncurkan album baru dengan warna yang “menantang pasar”…………….

  25. lohh…mas Indra baru denger sekarang..toh, wah…saya di anaktirikan ya….dengernya samson sama peterpan melulu yaaa.. hihihi

  26. mas, bikin lagi gak??????????????
    kalo gak awasSSSSSSSSSSSSSSS!!!!!!!!!!!!!!!
    ntar ane duluin bikin REVOLUSI, lho!!!!

  27. wah..ngancem.. :P

  28. Mas, saya udah kirim email untuk request DVDnya lewat email (centrin) :)

  29. Sudah saya terima mas, salam

  30. Akhirnya saya dengar juga versi aslinya.
    Mas Yockie apakah anda punya tujuan “politis” dalam kacamata artis? Maksud saya, “begini lho mestinya aransemen yang benar”.
    Secara contohnya rearansemen BPB yang menurut saya gagal total.

  31. hehe.. sudah denger aslinya mas..:)

    Kalau toh saya punya agenda semacam itu.. saya jamin “nggak-ngaruh” mas .. haha. Orang Indonesia itu cuek dengan katagori kronis .

    btw, maturnuwun masih ada yang mau memperhatikan hal tersebut … walau lewat hitungan jari sebelah tangan saja …nggak sampai :)

    Hidup harus berjalan terus ya mas , salam

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara