Beda ‘Mashab’

teory
Yes..we can, kata Obama yang warga negara Amerika .
Bersama kita bisa.., kata orang Indonesia .

Dua struktur kalimat yang mempunyai arti sama namun berbeda dalam pelaksanaannya.

Obama and friends berdebat untuk satu tujuan yang sama, yakni mengabdi pada ‘tuan’ yang sama atau sebut : Konstitusi Negara. Dalam perdebatan selalu akan muncul pihak yang disebut lawan politik atau kelompok oposisinya. Sampai disini, judul artikel diatas masih belum bisa dikatakan berbeda dalam artian yang sebenarnya.

Namun ketika sebutan ‘lawan politik’ berkembang dan maknanya dipahami sebagai ‘musuh politik’ , maka disinilah letak substansi perbedaan yang sebenarnya.

Hillary Clinton, berdebat mati2an untuk merebut jabatan/kedudukan sebagai pemimpin negara. Namun ketika dia kalah dalam pemilihan..,maka pengabdian kepada konstitusi negara tetap harus dilanjutkan lewat berbagai cara yang saat ini sudah dibuktikannya. Jadi pada intinya mereka ‘perang mulut’ untuk satu tujuan yang sama, yaitu membela kepentingan Negara. Yang artinya, pengabdian sebagai warga negara kepada negaranya adalah sesuatu yang mutlak dan (harus) inheren dalam diri setiap individu manusia Amerika.

Mari kita tengok apa yang terjadi di negeri kita…, “Bersama kita bisa” , demikian katanya. Lawan politik atau sebut kaum oposisi, lebih menterjemahkan kelompok lain diseberangnya sebagai ‘musuh’ yang harus disingkirkan dari ‘politik menata negara’. Tentu saja mereka akan saling tersenyum manis ketika berhadap-hadapan dan berperilaku layaknya kelompok profesi politik yang profesional dan sudah sangat beradab. Tetapi dibalik segala penampilan mereka tersebut, terhunus terselubung berbagai jenis ‘senjata tajam’ yang siap menerkam masing-masing lawannya politiknya.

Ironisnya lagi…., bila terjadi saatnya ‘perang politik’ secara terbuka..korbannya bukanlah diantara mereka yang saling berseteru tadi, namun masyarakat / rakyatnya yang relatif tidak tahu apa-apa perihal ‘slogan-slogan’ dan “Kalimat-Kalimat Besar” hingar-bingar yang selalu mereka gembar-gemborkan antara satu terhadap yang lainnya.

Di Amerika ekspresi dari “referendum” (kehendak) rakyatnya selalu secara kontinyu diwujudkan melalui partisipasi langsung, yang secara fisik ditunjukkan lewat berbondong-bondongnya masyarakat untuk mendukung tokoh yang di’jago’kannya. Di Indonesia, harus ada ‘kocek’ untuk menggerakkan orang untuk bisa berbondong-bondong mendukung calon pemimpin-nya .

Tapi hal tersebut baru akan kita saksikan lagi, di negeri ini, sebentar lagi, saat pemilu didepan mata kita semua sudah berlangsung .

Namun saat ini, ada lagi sebuah terobosan politik yang konon katanya dilakukan oleh orang2 yang sangat beradab dan mengabdi pada Negara serta sangat mencintai segenap rakyatnya tersebut.

Belum lagi signal ‘debat politik’ dihalalkan konstitusi (pemilu), peluit dan ‘genderang perang’ politik terbuka sudah ditabuh & ditiupkan antara sang wakil terhadap pemimpinnya sendiri. Kelompok yang katanya sangat profesional dan beradab tersebut, telah sekali lagi mengabaikan nasib dan kepentingan masyarakatnya sendiri yang membutuhkan pemerintahan stabil yang jangan lagi sekedar ‘coba-coba’ atau melakukan ‘crash program’ melulu.

Mashab nya berbeda…, tak usah lah saya melebar kemana-mana..Anda saja sendiri-sendiri menterjemahkannya sesuai apa kata hati nurani. Akankah anda nanti juga berbondong-bondong terlibat dalam barisan huru-hara diatas , atau sebaliknya anda semua akan mencoba untuk belajar berperilaku sebagaimana masyarakat beradab yang sebenarnya.

salam hangat dari rakyat biasa ,
(ini juga saya ngakunya sih gitu)

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

12 Responses to “ Beda ‘Mashab’ ”

  1. ach….partai2 bedebah itu lagi2 sumber kericuhan saja!!!

  2. wah…sabar sabar..hehehe

  3. emang bangsa kita kan uda ketinggalan 3,5 abad mas!!!! masih belajar terus tentang cara berdemokrasi…. Lulusnya kapan ya mas, dari dulu kok belajar terus???? Padal uda banyak tercetak Sarjana2 dinegeri ini, Hehehe….

  4. yang salah bukan gelar sarjananya kali…, cuman ilmu bagi jurusan kesarjanaan tsb yang banyak nggak nyambung dengan kebutuhan jaman kedepan.

  5. dinegra NKRI para poli-TIKUSkan tidak ada yang pernah belajar berdemokrasi tp rakyat terus yang disuruh belajar makanya hasil ya kayak begini..saling menghujat dikoran & TV,Saling caci,saling menjelekkan tapi begitu korupsi ya bersama-sama, mas. he..he..he

  6. Mereka belajar sih belajar mas…, justru sangking ‘tikusnya’ maka pelajaran ilmu demokrasi dimanfaatkan hanya sebatas untuk membangun image bagi celah tempat mereka ‘menelikung’ dengan liciknya. Namanya saja sudah tikus…maka ketika jumlahnya banyak ya “poly-tikus” lah sebutan nya.

  7. jelata melata
    beda mazhab, beda komitmen (juga sih…)
    mereka ingin selalu menyejahterakan rakyatnya
    tapi di sini rakyat harus (yang) menyejahterakan mereka
    di sana, semua untuk rakyat dari birokrat
    di sini, semua dari rakyat untuk borokrat
    jadi siapa yang lebih kaya rakyat atau pejabat?

  8. Mereka bilangnya (ngakunya) sih ‘rakyat’ juga mas :(

  9. ya bener rakyat…= rak-us ya.. tamak…!

  10. Saya koq semakin merasa sedih , perilaku mereka dalam membenarkan segala macam metode dan cara , untuk mempopulerkan diri semakin menjadi-jadi .

    Memang betul , bahwa menjelang pemilu adalah saatnya mengumpulkan simpati bagi dukungan suara .

    Tapi tidakkah mereka punya cara lain lagi , yang sesuai dengan konteks kompetensinya ,serta lebih intelek dan bermartabat .

    Sementara hampir seluruh pedagang2 yang bergerak di media teve juga “keasyikan” sendiri , menjadikan momentum ini hanya sebagai program “reality” yang dianggap paling laris. Seperti tontonan mengadu jangkrik saja.

  11. Maklum pak…kejar tayang! 9 april je….hehehe!

  12. Sinting juga ya.., ketika kapital adalah kekuasaan .
    Siapa punya duit dialah yang punya corong berita
    Siapa yang punya alat corong berita dialah sang penguasa sebenarnya
    Kalau begitu .. ya tinggal pilih saja “presiden / wakil rakyat” yang sekedar tenar walau isi kepalanya encer

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara