oh..Pesawat terbangku

pesawat
Living in a capung plane adalah salah satu dari pilihan analogi sederhana, untuk memahami seperti apakah sebenarnya tatanan berperi-kehidupan disekitar kita saat ini .

Tatanan ideal yang dibutuhkan bagi keberlanjutan “Sebuah Sistem” yang mengatur/mengelola serta menjamin keamanan berlangsungnya satu kelompok masyarakat , sedikit banyak mirip dengan apa yang ada didalam benak saya, ketika ada seorang pilot sebuah pesawat komersil yang ditugasi untuk membawa para penumpang menuju tujuan.

Indonesia adalah sebuah Negara yang sudah jadi, ibarat sebuah pesawat terbang dia sudah terdiri dari berbagai persyaratan yang membuatnya bisa melayang dan bisa dikendalikan dengan baik. Struktur sebuah pesawat terbang terdiri dari berbagai aspek pendukung aerodinamika yang antara lain :

*Elevator untuk menetapkan posisi ketinggian maupun sebaliknya
*Aileron untuk mengarahkan tujuan (kiri maupun kekanan) melalui sayap
*Rudder juga untuk membelokkan pesawat melalui sirip tegak lurus di-bagian ekornya. Tentu masih banyak lagi kelengkapan pendukung lain seperti mesin dan lain sebagainya.

Hal-hal teknis diatas adalah penjelasan singkat secara ilmiah , mengapa sebuah benda yang disebut pesawat bisa terbang dan melayang dengan baik. Namun tidak cukup hanya dengan bisa terbang saja…dia juga harus bisa dikendalikan, agar bisa sampai pada tujuan yang dikehendaki. Berikut dibawah ini adalah aspek pendukung yang lainnya agar rencana serta jadwal penerbangan diatas bisa ter-selenggarakan dengan sempurna.

Dia disebut sebagai Jaringan alat komunikasi, yang terdiri dari:

*NDB , Non Directional Beacon
*VOR , (Very High Frequency) Omnidirectional Range
*GPS , Global positioning system
*ILS , Instrument landing system

Nah.. lalu apa dan bagaimana relasi serta hubungan ‘pesawat terbang’ diatas dengan Indonesia sebagai sebuah Negara. Beginilah menurut saya…(menurut saya lho..jangan marah kalau saya sok tau.., emberr)

Sekali lagi saya akan menyitir kalimat “planning-gran strategi” dipihak lain dengan yang saya sebut sebagai kebutuhan “pragmatis” .

Paragraf pertama : (konsep jangka panjang) yang disebut gran strategi , adalah sebuah “pilihan”…kemanakah kita menghendaki tujuan yang ingin dicapai. Bila tujuannya menyeberangi lautan hingga melintas antar benua, tentu tidak bisa mengharapkan pesawat dengan katagori ‘capung’ atau sejenis Cessna untuk bisa melakukannya. Selain dia hanya mampu memuat sejumlah penumpang yang sangat terbatas, pesawat tersebutpun tidak akan layak menjalani route yang jauh apalagi tantangan cuaca yang harus dihadapi. Dengan jumlah penumpang yang besar (banyak) tentu pilihan sesuai jaman-nya adalah pesawat bermesin jet dan besar seperti boeing-737 bahkan 747 atau airbus & jenis lainnya .

“Mau terbang antar benua koq naik ‘capung’ ” , apalagi mengajak orang sekampung.

Setelah pilihan2 tujuan dan jenis pesawat diatas sudah ditetapkan, maka langkah berikutnya adalah,

Paragraf kedua : Melengkapi peralatan bagi sarana berkomunikasinya (sistem navigasi). Sudahkah semua instrument radio komunikasinya bekerja dengan baik dan beres semua. Tak kalah penting lagi, sudahkah setiap daerah yang akan dilalui ter-identifikasi freqwensi gelombang radionya.

“Mau berkomunikasi koq bahasanya tidak sama ”

Pusing..kan? apalagi bagi anda yang awam dengan dunia teknis penerbangan , pasti membacanya sambil merengut-rengut dan me-ngernyitkan dahi …Silahkan merengut dan mengernyit…siapa suruh anda membaca artikel ini ..hehe…pisssss

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

7 Responses to “ oh..Pesawat terbangku ”

  1. bahasa ga sama barangkali ngga masalah mas, asal esensi yang hendak di tuju sama. sambil merengut, tulis komentar, “terusin dong mas!” hehe… :) , jangan lempar tulisan terus sembunyiin sisanya, sudah kadung mengeryitkan dahi nih mas, haha… :)

  2. Secara garis besar struktur aerodynamics pesawat dan tujuan atau destination saya ibaratkan sebagai ‘tatanan birokrasi’ dan ‘map’ sebagai kelengkapan terlaksananya jadwal penerbangan/rencana kedepan (konseptual / gran strategi)

    Sementara yang saya sebut dengan paragraf “pragmatis” (alat2 komunikasi dll) ibarat kesepakatan untuk menggunakan terminologi dan parameter yang sama dalam menjalin komunikasi diantara para wakil rakyat kepada rakyat / masyarakatnya sendiri.

    Sekarang ini, semua orang cenderung sibuk berdebat menterjemahkan makna demokrasi, jangan2 itu semua adalah kebingungan kita dalam menyepakati pengertian “satu bahasa” bagi kepentingan secara bersama.(contoh: partainya banyak sekali..,tapi nggak nyambung dengan realita ‘bahasa’ rakyatnya sendiri)

    Nah..Kapabilitas dan struktur pesawat (sebut:planning dan birokrasi) saja belum tuntas menjawab kebutuhan arah yang hendak dituju…, sementara kebutuhan pragmatis meng-identifikasi jaringan komunikasi dengan rakyat..dimana-mana masih sering’ ‘tulalit’..Lalu kapan mau take off nya?

    Kalau ada pilot yang nekat . menerbangkan pesawat (gini hari) asal “mumbul” tanpa kelengkapan alat2 komunikasi , tanpa kelayakan struktur aerodynamics….taruhan sama saya…. lima menit setelah mumbul dia akan nabrak pohon jambu..(jangankan gunung)

  3. itu saya namakan republik schizophrene = penyakit jiwa dengan kepribadian terbelah. otak mikir kekanan, tubuh keutara, mulut ke timur alias nggak nyambung….he…he…
    republik logocentrisme cuman logo atau simbol simbol jargon jargon kososng….lihat iklan para caleg atau apalh di TV, media lalu lihat direalitas kehidupan …nggak nyuambung…simple aja kita lihat di jalan di lalu lintas ..saling serobot, seenak udelnya mentang mentang mobilnya anu, pakai anu…nmana etikanya???
    atau musik schizosound…..

    wah yok opo jane tho bangsane dewe iku???

  4. Saya sih ndak bingung, pak’e…
    tapi kalopun kita mau terbang….masalahnya:
    yang jadi pilotnya itu SYAPPPPAAAAA????
    Ntar salah pilih, pesawat kita dibajak? atau gak taunya gak bisa nyetir pesawat ( wong biasa mbecak..e..e..e..)
    atauw…malah di tengah ketinggian sekian ribu feet, eee dia malahan loncat turun pake parasut dan lantas promosikan dirinya jadi pilot lagi di bawah…???
    lha ini yang saya lumayan bingun !!!!

  5. pilotnya…cari yang nggak schizophren..sehat jiwa raga..lho malah kayak pemilihan lurah…wah emboh ..??.Mas Yok siapa ya kirakira pilotnya…ha…ha…atau mas yok aja..

  6. @mas RAGAZYGA, wahh…cuwocok temenan ‘ki..istilah’e sampeyan..
    Pilot’e ..pilot uncal2an jumpalitan , engklak2an , nunging2an.. :)

  7. @mas Bambang, wah….kelamaan lagi mas.., nunggu saya punya duwit…nunggu saya punya jabatan….nunggu saya punya parte’.

    Mendingan sampeyan nunggu’in mpok mine’ tuh…..dia lagi persimpangan tuh mas..,lagi nyari “gandengan” baru.. hihihi

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara