Mesin Rekayasa Budaya

se1
Renungan Budaya di Emperan Pinggir Jalan

Keteraturan dan ke-taat-an tidak datang dari langit apalagi turun secara tiba-tiba.
Keharmonisan tatanan hidup sekelompok masyarakat tidak diperoleh secara otomatis apalagi gratis. Saya akan mencoba mengupas secara mendasar apa-apa saja yang saya yakini menjadi biang keladi ‘kebisingan’ disekeliling hidup kita . Tentu dengan gaya bahasa saya yang jauh dari kalkulasi2 teknis/ akademis , asumsi-asumsi ilmiah lazimnya orasi para cendikiawan yang gemar disebut pengamat (di koran & teve) ‘selebritis intelektual’ . Ataupun murni berangkat dari sandaran Sastra Jawa lewat Penerawangan Ronggowarsito sekitar sejarah kisah Raden Widjaya di kerajaan Majapahit .

Saya adalah ‘cermin’ bukan buku sejarah , bukan perangkat aparat , bukan juga dukun. Coretan ini juga bukan coba2 ingin ‘meramal’ , tak perlu terlalu dipikirkan sampai yang membaca jadi ‘klotokan’ . Namun bisa menjadi sebuah peringatan….itupun kalau ada yang merasa diperingati…kalau tidak ada pun ya terserah… Bukankah kita semua menanggung sendiri-sendiri segala akibat yang ‘mengantre’ di loket akherat nanti. Ok saya mulai… eng..ing..enggg….!

Negara Kesatuan Republik Indonesia…, sudah kah kau tuntas ?

Belum…, paling tidak ini menurut versi saya sendiri. Sebagai sebuah negara yang merdeka dari jajahan sinyo hindia Belanda dan kapitan Jepang memang bisa dikatakan Merdeka. Namun sebagai Negara Kesatuan yang mempersatukan berbagai wilayah-wilayah dari Sabang sampai Marauke dibawah kendali administrasi satu pemerintahan Republik .., sepertinya masih banyak tugas PPKI (Panitya Persiapan Kemerdekaan Ind) yang masih tercecer dan belum juga dituntaskan sampai dengan hari ini.

Negara kesatuan Republik Indonesia bukan hanya bertanggung jawab secara administratif , namun seyogyanya juga wajib menampung dan mewakili aspek-aspek kepentingan budaya lokal / tradisi (local wisdom) yang heterogen dari masing-masing bangsanya . Itu pada intinya , nah mari kita tengok ..nggak usah jauh2 cukup dari era peralihan kekuasaan Soekarno ke jaman Orba oleh Soeharto.

Soekarno menggunakan pendekatan Demokrasi terpimpin , untuk meredam “gejolak” agar tidak meluas lalu menjadi seperti bola api liar yang bisa membakar apa saja, yang diterjangnya.

Begitu pula dengan penerusnya yang memakai istilah ‘musyawarah & mufakat’ , sepertinya Orba tahu betul…, bagaimana caranya mengelola ‘kebersamaan’ yang belum tuntas dan terasa bisa sering menjadi ganjalan tersebut. Yakni dengan memproklamirkan eksistensi pemimpin pemerintahannya layaknya figur seorang Raja dalam mengatur seluruh wilayah otoritas kerajaannya. Tentu hal tersebut lekat dengan tudingan ‘tangan besi’ / otoriter dan lain-lain. Namun sebenarnya itu sungguh sebuah hal yang sangat wajar dan normal , bila ditengok dari sudut pandang pemerintahan yang menjunjung tinggi sistem Monarki.

Orba tahu betul…betapa rumit dan sulitnya menata dialog bahkan debatable yang harus diselenggarakan antar masing-masing tradisi otonom yang tersebar di-seantero Nusantara ini. Berapa banyak raja-raja lokal / tetua-tetua adat lokal / hukum2 adat lokal yang harus diletakkan diatas meja, lalu digulirkan secara bersama untuk dapat diharapkan saling tarik menarik kepentingan , hingga akhirnya tercapai sebuah kesepakatan yang disebut ‘Persetujuan menjadi Bangsa Indonesia”. “Bhineka Tunggal Ika”

Terlalu lama…dan bertele-tele , begitu mungkin pikirnya ya..? (maaf saya nggak ada disana sih… masih anak kecil, harap maklum) . Maka menjadi maklum adanya jika beliau langsung “terpaksa” menggunakan besi yang bisa dikokang dan meletup mengeluarkan asap dan timah panas untuk meredam gejolak-gejolak yang pasti akan timbul bila masalah tersebut dibiarkan saja.

Terbukti memang Soeharto adalah arsitek politik yang ulung dan berkatagori ‘Excellent’ . Dia tidak hanya memikirkan Indonesia dalam jangka waktu lima tahunan saja…namun mungkin saja 100 (seratus) tahunan kedepan..(siapa yang tahu?) . Sebab dia juga menggalang kaderisasi politiknya dengan cara yang sungguh luar biasa. Sebut dari mulai Rt /Rw /Camat/Lurah / petani (kelompencapir)…pokoknya seluruh jaringan masyarakat sipil . Apalagi masyarakat yang bekerja dibawah instansi pemerintahan…, jangan lagi ditanya. Nenek-nenek juga tau..kan? (kecuali yang sudah jompo pikun..:( hikz

Benarkah Soeharto memikul ‘dosa’ politik..? hm..akhirnya saya berpikir “belum tentu juga” …, (ini versi saya) Apabila rancangan strategi politiknya tidak kandas di jegal “issue korupsi” , maka bisa saja mungkin begitulah cara seharusnya untuk mengelola masyarakat di Indonesia .Paling tidak untuk sampai pada periode jangka waktu tertentu, hingga benar2 siap menjalani sistem demokrasi yang baru, yang lebih ideal “sempurna” . Sesuai selera & kesepakatan bangsa-bangsa itu sendiri.

Hari ini….sepuluh tahun lebih pasca era reformasi 1998….Pembiaran-pembiaran dan cara-cara yang ditempuh oleh kaum ‘reformis’ (ngakunya) , masih saja berkelit / bersilat lidah bertahan demi melanggengkan kekuasaan . Segala upaya dilakukan demi “Keabsahan dan ke-halal-an” termasuk bongkar pasang Undang-Undang Dasar agar sesuai dengan cita rasa yang dikehendaki sesuai selera ‘mereka’ sendiri …(agak2 asem pedas sedikit kecut) . Negara Kesuatuan Republik Indonesia adalah Satu , tetapi menyebut bangsa Indonesia itu…masih banyak kepentingan lokal yang belum terwakili , jadi belum bisa dikatakan sudah “Satu” . Mereka sangat ‘alergi’ bila diajak menengok kebelakang , tentang bertumpuknya hutang-hutang Konstitusi Proklamasi Kemerdekaan yang masih ‘pending’ melulu tidak dibayar-bayarkan.

Apa yang ada dalam benak kita semua..? Apakah anda berpikir bahwa perilaku poly-tikus yang mewabah sekarang ini tidak ada kaitan dan korelasinya dengan “industri politik” Orba jaman doeloe?

Apakah anda berpikir bahwa tokoh-tokoh yang ‘jibaku’ mempertahankan kursinya atau ingin merebut kursi orang lainnya itu , adalah mereka-mereka yang tulus mewakili kesepakatan ‘meja bulat ataupun lonjong’ disaat-saat menjelang Kemerdekaan doeloe? Apakah anda juga berpikir , bahwa tokoh-tokoh politik tersebut ingin menjunjung tinggi daulat hukum negara yang melindungi daulat hukum adat bagi bangsa-bangsa yang ber-aneka ragam itu ?

Kini, semakin sering kita melihat di teve ..kejadian demi kejadian diberbagai daerah, diberbagai wilayah yang kerap bergolak dan cenderung berperilaku anarkis serta brutal …, apa yang ada dalam pikiran kita semua? Masyarakat liarkah mereka semua itu? Masyarakat belum beradabkah mereka semua? Ataukah jangan-jangan itu adalah ekspresi kecewa dari masyarakat lokal yang ingin menuntut kembali hak-hak atas kedaulatan para leluhur dahulu.

Itulah yang saya maksudkan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia ..belum tuntas , paling tidak dari pendekatan secara kultur dan budaya. Karena itu pula lidah ini tidak begitu mudah mengucapkan “Kebudayaan Indonesia” , sebab memang itu saya anggap belumlah cukup mewakili perilaku kebudayaan masyarakat di seluruh wilayah Indonesia. Lain lagi bila saya menyebut Kebudayaan Tanah Jawa /Tanah Bali /Tanah Batak /Tanah Bugis dan banyak lagi lainnya , itu jauh lebih konkrit .

Saatnya teropong saya alihkan , kali ini fokus saya tujukan kearah perilaku orang-orang yang berisik sibuk berceloteh tentang Negara Kesatuan , dan yang serasa sudah mewakili harapan masyarakat bangsa-bangsa tersebut diatas. Mereka berebut citra / image penampilan serta berhutang duit kekiri-kekanan pun mereka lakukan , guna mendapatkan posisi dan jabatan. (toh nanti setelah menjabat mudah dicari cara untuk melunasi)

Itu sah “legal”…, dan konstitusional…, jawabnya . Sebuah sistem pemerintahan republik yang demokratis memang wajib mencari dan menggunakan cara-cara apa saja asal ‘halal’ dan tidak korupsi (definisinya? mereka yg menentukan sendiri) . Itu lumrah…, sergahnya. Lihatlah contoh di Philipina sampai Amerika atau bahkan di negara-negara lain diseluruh penjuru dunia.

Mereka lupa atau takabur..bahwa aplikasi permasalahan politik percontohan tersebut tidak sama dengan yang seperti terjadi di Indonesia. Beda aplikasi beda sejarah …otomatis sulit untuk bisa menemukan hipotesa / padanan yang sama. Mereka juga seolah tidak menyadari… bahwa tidak ada di muka bumi ini ada sebuah wilayah yang multikultural sebanyak seperti yang ada di Indonesia.

Kali ini saya memang ‘Suudzon’ , [maaf Tuhan] saya harus mengakui hal tersebut… bahwa mereka hanyalah segolongan kecil masyarakat oportunis-pragmatis yang hanya memikirkan dirinya sendiri saja. Asal bisa disebut “sudah bekerja / bukan penganggur” . Oh..maaf sekali lagi saya salah… bukan dirinya sendiri saja , namun juga kerabat , golongan politik dan keluarga masing-masing.

Maafkan saya yang ketiga kalinya.. , bila kuping anda tidak berkenan dengan ‘gerendengan’ saya . Hal ini semata saya lakukan agar saya tidak menyimpan dendam & amarah yang bisa menjadikan saya anarkis dan tidak demokratis , atau bahkan dianggap cuek diam saja.., tidak peduli pada nasib bangsa dan negara saya sendiri . Saya cinta Indonesia , bung… Beginilah cara saya mencintai Ibu Pertiwi .

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

16 Responses to “ Mesin Rekayasa Budaya ”

  1. Sebenarnya sistem konstitusi kita ini dirusak sama Poly-Tikus yang selalu mengatasnamakan rakyat dan merasa mewakili suara rakyat,padahal itu dilakukan disaat ia membutuhkan sesuatu yang sedang ia tuju begitu sudah sudah duduk dikursi empuk ya mengatasnamkan kepentingan pribadidan golongan, dan para Poly-Tikus itu selalu mengacu mazhab2x diluar seperti di AS sono,padahal masyarakat kita sendiri saja sudah berbeda karakternya makanya hasil dr reformasi yg sudah berumur 10th ya seperti sekarang ini,Korupsi merajalela,provokator dimana-mana dgn mengatasnakan kepentingan rakyat. Yang lebih hebat lagi Para Pemimpin & Poly-Tikus kita selalu meberikan tontonan yang lucu terhadap perilaku & ucapannya..mungkin lebih lucu dari Srimulat.

  2. Banyak kepentingan bermain-main dengan ibu pertiwi. Eksperimen demi eksperimen dilakukan mereka demi sebuah tujuan pribadi ataupun golongan. Tidak berhasil hari ini, susun strategi baru & coba lagi. Istilah kerennya Trial and error. Contoh2nya gamblang di depan mata kita setiap hari, ada yang berbaju agama namun memaksakan kehendak dan mereka berupaya untuk mengebiri atau ekstrimnya setahap demi setahap menghancurkan budaya asli dan menggantinya jadi budaya Arab. Konyolnya masyarakat kita bingung atau tidak bisa membedakan mana agama, mana budaya, mana politik. Ada lagi demi jabatan 5 tahun mereka mengorbankan rakyat demi tercapainya tujuan jangka pendek.
    Negara yang selalu aku cintai ini kenapa tidak kunjung berubah kearah yang lebih baik bahkan malah menuju kehancuran. Ironisnya anak bangsa sendiri yang menghancurkannya, disadari ataupun tidak.
    Akhir kata, Quo Vadis Indonesia …

  3. Untuk anak (bangsa) kok coba-coba…?

    Mas Kus…blog-nya kuwereeeeenn suangethhh!! (ponari sweat hahaha!)
    mbok mampir….

  4. jefri said: Poly-Tikus itu selalu mengacu mazhab2x diluar seperti di AS sono,padahal masyarakat kita sendiri saja sudah berbeda karakternya

    –> ini salah satu pemicu kesemrawutannya mas .

  5. Sony Kusbiono said: ada yang berbaju agama namun memaksakan kehendak dan mereka berupaya untuk mengebiri atau ekstrimnya setahap demi setahap menghancurkan budaya asli dan menggantinya jadi budaya Arab. Konyolnya masyarakat kita bingung atau tidak bisa membedakan mana agama, mana budaya, mana politik.

    –> bener mas Sony , mereka seperti memahami agama itu adalah perintah Tuhan, sementara saya memahaminya Tuhan itulah “Sang” Agama itu sendiri . Tuhan adalah Maha Pencipta dan Maha Kekuasaan serta Maha Kedamaian yang Maha Sempurna.

    Menjadi aneh bin ajaib…ketika orang saling menghujat atas nama agama…? semakin jelas yang beriman dan kurang beriman itu siapa. Bukan karena faktor memakai kupluk / sarung dan sebagainya bukan?

    (argh..sudahlah..saya tidak suka mendiskusikan masalah ini…, hehehe bukan bidang saya, maaf..)

  6. salahkan saja gajah mada
    pake sok nyatukan nusantara
    wong kita masih pengen sendiri-sendiri
    wong kita ini sangat bisa mandiri

    salahkan saja palapa
    kenapa munyer terus di atas sana
    sementara belanda ketawa-tawa
    sukurin lo katanya ngotot merdeka

  7. Hahaha.. saya barusan nonton di teve , dubes belanda bicara .
    Secara ‘de jure’ mereka itu baru mengakui NKRI 2005 lalu..hahaha, lalu selama ini mereka menganggap kita ini siapa..?

    saya deketin teve agar yakin nggak salah denger..alamaaaak

  8. Baru pas 60 tahun…kita baru diakui jadi bangsa!
    OALAH…!
    ENDONESYA…ENDONESYAAA!!!!
    NASYYYIIIPPP….

  9. masih inlander

  10. HARI GENEEEE jadi inlandeeeer????

  11. lha..apa sampeyan sudah merasa jadi wong londo tho mas ?

  12. londo lokal…hahahahaha!!!!
    mestinya kalo ada hi-lander kita juga bikin hi-londo dong ya pak?

  13. Tapi ntar dulu mas.., tadi siang saya juga ngobrol ngalor-ngidul sama beberapa teman..,biasalah…., saya menyebutnya “obrolan sok tau” ditengah-tengah kebingungan hehe.. Jangan2 emang belande nyokorin kita ya..hahaha..
    “sok teu sih kalian…nggak ngajak orang indo untuk ber-partisi-sapi membentuk NKRI”… jadinya ya gitu deh…rasain hahaha..

  14. itu fakta koq mas…lha wong kanal di jakarta (oud batavia)saja kan dulu sudah didesain mirip batavia (nang londo)dan dirapikan sama governoor-nya saat itu…eee setelah merdeka…ya namanya bangsa habis dijajah lha apa aja sing bekas jajahan dia pikir jelek…dilibas…habis! loji dibikin kampung, jadi padat buanget, sungai (kali maksudnya) dijadikan buangan sampah ( padahal ciliwung dulune opaik tenan lho pak’e!),trus lahan buat kantoor ee malah buat perumahan, lha zona pemukiman dibikin lapangan, trus grid-grid kota (planologi punya) udah kagak jelas dimane ( sama aja nyari keris mpu gandring deh! )
    ujung2nya: BANJIR.
    Sementara di sono, cucu2 ex-kumpeni senyam-senyum ketawa2 ngliat hasil karya mbah2nya dirombak org2 ex-inlader yg sotoy-nya mingta ampiung!
    Plus sekarang tambah ketawa keras ngliat kita: masih sempet nurut sama babe2 mereka lewat IGGI tempo hari! HUAHAHAAAAAHAHAHAHAHAH!!!!!

  15. ya.. emang bener sih , kita memang pernah punya pengalaman sejarah seperti itu . Menurut sampeyan kondisi sekarang ini apakah sudah hasil dari ‘koreksi’ masa lalu mas?

  16. sampurasun’..numpang menuhin commnet mas.he2..mas jsop,oke jg tu tulisan..pandangan sejarah dan antropologisny kental sekali..
    mas,menurut ku (maaf mas, agak sok ngerti gini….he2) bangsa kita tengah mengalami evolusi dalam rangka menemukan bentuk ideal keindonesiaannya (meskipun sy sediri masih bingung dgn pertanyaan ‘ap sih indonesia?’) dan ini membutuhkan waktu yang sangat panjang..mungkin ratusan tahun ato lebih (meskipun sy bisa jadi pesimis, selama bom waktu yang terpendam di ratusan suku dan budaya tidak segera dijinakan)..menurut mas,mungkinkan indonesia harus seperti uni-soviet?

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara