Gank Ponari vs Gank SuperMan

superman
Ponari si CilikMan dari Kabupaten Jombang Jawa Timur . Atau SuperMan dari Kabupaten Ngamerika LuarBaratdaya . Keduanya bagai petarung tinju kelas berat dunia yang sedang ‘in’ hari ini.

BTW/FYI: Didalam lemari sang “Dalang-Wayang” , juga sudah tersimpan adegan tentang cerita Kapitalisme neoliberal dan Sosialisme “kiri / komunis?” , yang sudah berabad-abad lamanya bertempur untuk saling menghancurkan , antar kubu satu sama lainnya.

Kembali ke Ponari ,

Fenomena Ponari adalah fenomena masyarakat yang sedang ‘sakit jiwa’ karena terlalu lama mengidap sindrom euforia yang kronis plus akut plus kronis plus akut lagi. Demikian juga sama halnya dengan yang terjadi pada masyarakat yang berada disisi seberangnya.

Masyarakat Ponaris , adalah masyarakat tradisional yang masih percaya pada hal-hal yang “mistis” (kepercayaan tradisi/takhayul/mitos) percaya pada lambang-lambang tertentu sebagai wali atau perwakilan Kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa diatas planet bumi (sepertinya Tuhan dianggap punya puskesmas bahkan sampai koperasi simpan pinjam) .

Sebaliknya Masyarakat SuperMan , adalah masyarakat yang juga sama sakitnya , yaitu dengan gelap mata memuja-muja simbol produk kapitalisme yang menyerukan slogan-slogan modernitas kekinian : “Lewat tehnologi mujarab kami menolong memajukan peradaban , demi kemanusiaan” , sambil manasin es di kutub .

Dipihak yang lainnya lagi ,

Kapitalisme neoliberal adalah sebuah ideologi yang menganut paham demokratis individual . Demokrasi yang bersandar pada persamaan hak bagi masing-masing orang atas dasar kemampuan daya persaingan diantara pihak-pihak yang bersangkutan. Artinya harus ‘punya’ dulu baru bersaing , kalau ‘belum punya’ ya jangan coba-coba bersaing , tersingkirlah sana…

Sedangkan Sosialisme Demokratis adalah ideologi yang mengedepankan kesetaraan bagi seluruh aspek hak-hak hidup antar sesama manusia dan juga antar manusia dengan alamnya . Yang kemudian.., konon oleh lawan diseberangnya berhasil di “stigmaisasi-burukkan” dengan idiom “komunis dan sarang korupsi” , sebuah judul bagi julukan menakutkan serta paling dihindari oleh semua orang dimuka bumi ini , terutama ketika ia ingin bisa disebut modern…,saat itu.

Saya tidak tertarik untuk memperpanjang persoalan ‘tegang-tegangan’ antara Ponaris kultural melawan SuperMan-Mania . Buang-buang waktu dan tak ada manfaatnya sama sekali . Tetapi membahas topik dibawahnya , sungguh sangat menarik , serta yakin akan bermanfaat bagi kelanjutan hidup saya esok . Soalnya mau Pemilu nih..

BANGSA INDONESIA memang ibarat anak kecil yang baru mau belajar berdiri . Paling tidak terukur dari semenjak Kemerdekaannya di proklamirkan . Wajar apabila sebagai figur seorang anak yang sedang menjalani proses belajar, acapkali kakinya tersandung batu kiri dan kekanan. Bahkan pernah juga tersungkur hingga kepalanya terjerembab terperosok kueh “nabi” Sulaiman

Suka maupun tidak , bangsa Indonesia yang terepresentasi sebagai anak kecil tersebut juga terkenal dengan sifat ‘ndableg’ serta keras kepala bukan kepalang.
Tetapi bukankah memang begitu lazimnya..? Mana ada anak kecil yang tidak melewati fase/periode ndableg dalam perkembangannya menuju alam yang lebih dewasa untuk berpikir.

Singkat kata , setelah menjalani dengan kesadaran sendiri (atau mungkin juga coba-coba) untuk mengendarai ideologi kapitalis liberal diatas , maka benjol-lah kepala bagian depan maupun bagian belakang sebagai hasilnya . Untung masih benjol.., kata si amir dan si Muntu (sambil mengunyah pisang yang dibawa si ibu dari pasar)

Lalu dalam perjalanannya kemudian , si anak kecil yang bernama Indonesia tersebut mulailah bisa meniti merayap tembok secara pelan-pelan , walaupun masih sempoyongan . Mungkin masih pusing karena terlalu sering kepalanya terbentur kaca transparan yang sering digunakan sebagai penyekat ruang di hotel-hotel berbintang . Tidak ada alasan untuk menyerah dan jatuh terlentang tak berdaya , demikian gigihnya dia menjalani hari demi hari berikutnya..

Kejadian yang paling penting adalah ketika si anak kecil Indonesia tersebut mulai fasih membaca buku bacaan . Dibacanya buku sejarah warisan kakek dan neneknya yang selama ini hanya tergeletak sebagai pajangan / penghias lemari buku didalam ruang library (biar kalau dilihat orang tampak intelek dan berpendidikan) . Terkejut , geleng-geleng kepala , manggut-manggut dan seolah sudah langsung menyerap pengalaman profesor-profesor doktor dari negeri seberang , ketika dia tau bahwa ternyata…., leluhurnya dahulu bersepakat dan berjuang untuk menegakkan ideologi sosialisme yang demokratis . Sebuah ideologi yang oleh orang-orang ber-titel cerdas dari negeri seberang diakui , bahwa ini adalah kesepakatan dunia yang harus dijalankan di abad sekarang guna menyelamatkan peradaban manusia dari kehancuran. Sebuah ideologi yang selama ini dia pahami sebagai musuh dalam selimut yang harus dibinasakan….nah..lo

Bahkan ketika ada sebuah buku bacaan luar negeri terkenal , dengan tertatih-tatih dan tergagap dia berusaha menterjemahkan ” We Are All Socialists Now” , maka semakin mantuk-mantuk saja kepalanya diangguk-anggukkan .

Menjadi masalah yang serius / krusial , ketika kita menyadari bahwa si anak kecil tersebut…masih tetap anak abg dan berkatagori bocah , belum dewasa. Artinya .., masih mengusung sifat ndableg / keras kepala dan cenderung spekulatif serampangan . Apalagi ketika disadari kemudian , bahwa perilakunya di masa lalu telah menjadikannya terlanjur tersekap & tersandera oleh hutang-hutang hasil strategi tipuan kapitalisme liberal. Bahkan management untuk mengelola rumah tangga sekalipun sudah mengesahkan berbagai jabatan atas dasar filosofi serta ideologi tadi , ada yang jadi satpam kapitalis / supir kapitalis / tukang kebon kapitalis/ koki dapur kapitalis/ dan lain sebagainya .

“Nah..lo , nah..lo…anak orang dikecengin… ”
“Nah..lo , nah..lo…anak orang dikecengin… ”

begitulah suara-suara dari bocah tetangga riuh rendah terdengar masuk kekupingnya..

Jadi….apa yang terpenting dalam memilih para caleg di Pemilu 2009 nanti..? Padahal kita belum juga menentukan pilihan mau kearah yang mana dalam menentukan tujuan. Yang pasti tidak boleh diam , pasrah menyerah , lalu kalah .., pusing ya…saya juga pusing koq , karena itu pula saya bertanya pada anda.., arghh.. egp (eh..haram itu..!) Nggak nyambung ..ya? Ya disambung-sambungin aja . Cerewet ya..? Biarin..!

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

10 Responses to “ Gank Ponari vs Gank SuperMan ”

  1. Alah mas…mau milih apaan juga…
    phaling-phaling ntar dikibulin lagi….
    tanya deh…: BERANI KONTRAK POLITIK GAK!?!?!?!
    saya berani taruhan pasti jawabannya gak jauh dari yg ini nih…:
    “BERANI karena anu..anuanuanuanu….blablabla”
    “ndak..eee gini..saya rasa…eeee..gini…lho”
    “ya.”
    “ANDA INI SIAPA KOQ BERANI2NYA NGATUR CALON PEJABAT SPT SAYA??”
    “Tidak!! kami tidak mau diperintah oleh rak…eee mau deh..anda rakyat ya..eee?”
    “apa itu kontrak politik????????!!!”
    “anda siapa ya…?”
    “ANDA DULU MAJU BARU SAYA..BERANI GAK?BERANI GAK?JGN NGOMONG AJA!”
    “zzzzzzzz……zzzzz……..zzzz.zz.zzzzzz..zzzz”

  2. kekeke.. tidur mas?

  3. iya neh..habis capek juga nungguin jawaban para beliau itu di channel Swara…e ee e ta’ pantengin di luar deket parkir malah ngeloyor lewat pintu belakang…hohoho…ngabur mas mereka…digendong superman yang difoto itu lho!

  4. ah.. sedikit sekali dari mereka yang mau transparan dan mau menjawab pertanyaan2 diluar sorotan kamera publikasi .

    Masalahnya bukan sesuatu yang mereka anggap ‘rahasia’ atau apa. Tetapi mereka memang nggak tau apa-apa bila ditanyakan apa sebenarnya konsep real jangka panjang mereka . Kecuali sekedar bagaimana caranya masyarakat menaruh simpati .

  5. Lho justru di situ letak rahasianya..pak’e…
    Ssssssssstttt jangan bilang siapa2 ya : Saya ndak ngerti apa-apa lho!

    saya ndak bilang tapi mereka udah tau…hati2 mas..”laskar2″ sdg mengintai sampeyan

  6. Mas Yockie, bener, konsep jangka panjang mereka juga jelas,at first menaruh simpati pribadi iya, itu yang akan jadi dasar konsep jangka panjang bagi anak cucu(nya) sendiri, karena mendapat “simpati” – Simpanan Sampai Mati.
    Dengerin EVOLUSI-nya asik juga.Apalagi kalau malam ( bisa zzz…zzz..zz hee.hee) Kapan bikin Prog-Rock kayak dulu lagi atau yang agak jazz-rock kayak Bila Damaipun TIba ?

  7. Terimakasih idenya mas.., nanti saya coba2 lagi deh. :)

  8. laskar ? ahmad dhani maksudnya,pak? wah…dia nggak suka sama saya…wong drummernya yang sekarang softrock buanget…huehehehahahahaha!

  9. kalo kita masuk golongan mana mas?? Ponaris apa SuperMan?? kok kayak2nya kita tu percampurannya nya..”SuperPonaris” gt,,hehehe

    Indonesia,skarang memang masih ABG,,masih “centil-centil”nya..produk2 minta dari luar negeri,bermerek..televisi jadi tuhannya,termakan oleh iklan..pengennya biar terlihat cantik,biar up to date sama perkembangan dunia tapi kalo “orang2″ yang lebih tua bilang “NORAK” karena kita cuma jadi korban “plokothoan” kaum2 SuperMan.

    tapi Indonesia bukan cuma berkepribadian satu lho denger2,,soalnya juga kadang2 masih percaya mistik..jutaan ponaris ada di Indonesia sampe2 kata SasuS ni,capress pada minta dukungan alam gaib juga biar jadi pres(emangnya ada pemilu jg di alam gaib?)..jadi lebih tepatnya Indoneia itu “ABG modern bin norak yang masih nyimpen kemenyan dibawah kolong”

    kalo baca buku kan harusnya dari depan ke belakang,tp dasar Indonesia berjiwa revolusioner,kita baca dari belakang ke depan..umpama bangun rumah kita mulai dari atap baru terakhir pondasinya..kalo rumah gak bisa berdiri gampang,salahin aja rakyatnya(padahal rakyat gak tau apa2)

    jarene pakdhe Kartolo, “rasah muluk2 gawe misi mlaku nang mbulan,bangunen ae rumah sakit sing akeh..lha wong rakyate podho loro kok..”

  10. hehe.. sengkyu azizou

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara