Seperti jaman batu

primitif

Sastra yang mandeg berakibat pada perspektif sudut pandang manusia cenderung menjadi semakin cupet . Kesusasteraan yang tak berperan dalam dialektika ruang-ruang kehidupan…., bahasa komunikasi hanya sebatas diperuntukkan bagi ruang “pikiran pendek” dan kalimat-kalimat ‘slank’ yang verbal

Ketika sastra benar-benar tidak memberikan kontribusinya bagi roda peradaban , lahirlah kata kiasan yang hanya berfungsi untuk memenuhi kebutuhan klangenan. Atau bahkan ditempatkan di wilayah ‘imaginer’ yang acapkali dianggap tak ada relevansinya dengan aspek praktis pragmatis yang juga dibutuhkan bagi jawaban persoalan jaman.

Tengoklah berbagai gaya bahasa pikiran yang selalu ditampilkan oleh para pemimpin saat ini. Hampir sebahagian besar kalimat-kalimat mereka kesulitan menemukan korelasi dengan falsafah hidup masyarakatnya sendiri . Mereka para pemimpin itu selalu bicara dalam program ber-skala besar dan berjangkauan jauh , namun bergeraknya tampak jelas berjalan secara parsial dan tak ada jaminan bahwa bangunan struktur yang satu akan saling mendukung bangunan struktur berikutnya .

Dan ketika program satu dengan sesama yang lainnya saling berhadap-hadapan , berbagai upaya undang-undang aturan yang baru mereka ciptakan , menghindari pergeseran keras yang ber-resiko hingga berdampak benturan . Begitulah seterusnya yang terjadi secara berulang , sehingga kekeliruan demi kekeliruan yang kerapkali muncul kerapkali juga memicu lahirnya rasa frustasi .

Berbicara lantang tentang langkah kedepan … melesat jauh ingin terbang keatas , tanpa menjaga benang merah berkesinambungan , ditambah lagi kesulitan menemukan simpul-simpul untuk merangkai berbagai masalah , ibarat burung pungguk yang sedang stress merindukan sang rembulan.

Mungkin ibarat minyak pelumas bagi jalannya sebuah mesin , kesusasteraan adalah oli cair agar pipa-pipa dan berbagai materi yang terbuat dari materi logam tidak mudah fatique apalagi menjadi karatan . Seperti karatannya isi kepala sebagian besar para pemimpin kita.

Bah..! apa hubungannya kalimat metafor (kayak puisi aja) dengan bahasa formal praktis dan jelas yang dikebutuhan negarawan atau pemimpin dalam pidatonya …, demikian mereka berkata . Seorang pemimpin harus bicara di tataran padat singkat dan jelas tidak bertele-tele , agar seluruh jajarannya bisa langsung bekerja dengan baik ….. , demikian pula yang selalu mereka ucapkan.

Hm..mereka memang masa bodoh dengan berbagai ‘logam’ yang karatan didalam kepala mereka , mereka memang robot-robot pintar yang kehilangan converter nya .
BuaaAH..! itu pula kata saya. Robot koq dipakai dijaman batu.

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

2 Responses to “ Seperti jaman batu ”

  1. Bang…., sedih pilu getir liat masyarakat robot seperti ini.Tak ada lagikah upaya bisa dilakukan untuk menyadarkan. Ya Tuhan.. pada siapa lagi kami mengadu selain kepada_Mu.

    salam prihatin

  2. yaaah.. kalau sedih mungkin juga sedihan saya mbak hehe.. ‘canda ah
    thanks ya

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara