Birokrasi ‘kopral’ [plus]

birokrasi

Jilid #1

Jilid #1 [+]

Pada artikel Birokrasi kopral saya menjanjikan tulisan artikel “Kopral pailul” . Namun rasanya masih kurang tuntas saya menceritakan kisah2 dibalik Birokrasi kopral sebelumnya . Kini akan saya lengkapi kisah-kisah tersebut dengan dongeng nina bobo babak berikutnya , semoga menghibur hati yang sedang lara.., halaaah

-0-

Konon pasca proses recording selesai tuntas , kami mempersiapkan segala sesuatunya (design cover/judul/distribution dsb) untuk bisa beredar di tengah masyarakat dalam bingkai media cd sebagaimana lazimnya. Serta tugas-tugas lain yang harus saya hadapi seperti mempersiapkan live konser / pergelaran memeriahkan acara peresmian [lounching] bagi album tersebut .

Saya bersama team-work bolak balik menghadiri jadwal rapat di kantor kelurahan , untuk menerangkan berbagai konsep-konsep [round-down] dihadapan berbagai camat / rw maupun rt masing-masing wilayah . Topik bahasan yang dibicarakan bukan hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan artistik seperti lumrahnya diskusi dan rapat yang sering terjadi di ruang-ruang kreatif EO.

Namun lebih mengkerucut membicarakan tata-cara dan prosedur protokoler yang biasa diterapkan , misalnya seperti ketika pak lurah hadir dalam meresmikan acara pemberian subsidi pupuk bagi pak tani atau bila ada tetangganya yang sedang punya hajat sunatan dan lain-lain.

Tentu saja ‘senep’perut ini …hehehe , setiap kali harus menjawab pertanyaan2 yang nggak bermutu . Sulit dijelaskan secara rinci dan mustahil bisa diurai secara ilmiah keinginan2 berbagai perangkat kelurahan tersebut untuk bisa dipahami dengan akal yang agak2 sehat… gitu lho. Namun….syarat mutlak agar pak lurah harus tampil di atas panggung dan memberikan pidato sambutan layaknya “orasi budaya” , adalah permintaan yang tidak bisa saya tolak .Walaupun dengan hati berat saya kudu meng-iyakan sebagai tanda setuju.

“H-1″

Sungguh diluar dugaan…, ternyata justru pak lurah sendiri yang menolak untuk tampil layaknya pejabat kesiangan yang sedang “tebar pesona” . Alhamdullilah… saya bersyukur untuk itu , sebab sejauh pengamatan yang saya alami selama ini dan berdasarkan kewajaran-kewajaran yang ada…, akan menjadi aneh bin ajaib bila ruang berkesenian dicampur-adukkan dengan ruang profesi pak lurah sebagai kepala desa yang membawahi para camat dan rt/rw itu.

Saya menyaksikan secara sekelebat wajah-wajah para camat dan rt/rw yang celingukan tampak kebingungan , entah bingung beneran atau entah belagak bingung saya juga tidak tau.
Maka tak berselang lama kemudian…tuntaslah acara rapat-merapat di kantor kelurahan yang bikin puyeng kepala itu , legaaaa rasanya..

Eh..Tetapi rupanya badai belum berlalu…, masih juga kebobolan…
Pada hari ‘H’ saat pertunjukan per-ngamenan saya dan kawan2 berlangsung , nun jauh dari panggung dari tempat saya mencet piano.., ternyata pak camat rt/rw tersebut mengerahkan barisan pemuda karang tarunanya tanpa sepengetahuan saya….mereka mengepung area hose mixer (front) dan mengomandani juru senter serta juru kamera saya dengan berbagai instruksi-instruksi ‘telak’ yang cukup memporak-porandakan skenario artistik yang sudah di konsep dan di rencanakan secara tertulis sejak awal.

Kalimat2 “the commandos” seperti “jangan ada warna merah…jangan ada warna kuning” meluluh lantakkan isi kepala juru senter saya…. Pantesan saja..! diawal-awal per-ngamenan saya dan kawan2 tadi…yang ada di dalam hasil rekaman video…, atsmosfir di atas stage lumayan gelap semrawut dan rada2 nggak keruan fokusnya. Terutama area dimana posisi saya dan si paino bertengger…. bureeemm..asli.

Apa boleh buat…tahi kambing memang bulat-bulat.! “the show must go on” gitu kate’ orang betawi tempo doeloe… Tapi tunggu dulu.., ini belum selesai juga..(beneran deh..swear! bukan mengada-ada) masih ada lagi kelakuan para ahli2 birokrasi tersebut yang lagi-lagi menjengkelkan kalbu (biar dramatis…pake istilah “kalbu”) . Kali ini perihal intervensi mereka pada masalah visualisasi video clip yang sebelum itu sedang direncanakan dan sebagian lagi sedang digarap .

Video clip sesi pertama , (hasil pemikiran/gagasan seluruh team kreatif) ….. sutradara / story board dan directingnya diambil alih oleh para pakar-pakar ‘genius’ tadi . Mereka membaca script kami lalu berasumsi..bahwa skenario kami tidak mencerminkan kehendak cerita lagu yang dikehendaki pak lurah , …wah…hebattt… hebat sekali… sungguh cerdas sekali orang2 itu dalam memahami visualisasi ekspresi lewat ruang disiplin cinematography ….

Karena jengkel bukan kepalang….saya diamkan saja…terseraahhh…silahkan buat sendiri, gitu pikir saya. Lalu bekerjalah team video gabungan para pakar dadakan diatas …sibuk bukan main merekam gambar2 saat kami semua sedang latihan bersama orkestra di Kuningan. Hm….lalu dengan susah payah…dan berat hati…..saya harus menjelaskan kepada kawan2 kreatif untuk memahami situasi dan kondisi yang sedang berkembang….agar sabar dan memaklumi…. alhamdullilah… mereka semua akhirnya bisa mengerti tanpa merasa sakit hati. (yg penting pada saya secara pribadi).

Dan ketika hasil video clip sesi pertama tersebut memang amburadul kayak siaran Aneka Ria Safari TVRI….barulah mereka belingsatan sendiri seperti cacing kepanasan , kebingungan bagaimana caranya mengatasi persoalan tehnis , untuk bisa dipertanggung jawabkan dihadapan pak lurah kelak (sebagai preview). Lalu mereka menghubungi juru kamera saya dan menyatakan agar dibantu untuk diberikan materi-materi visual saat ketika kami sedang latihan maupun saat live-konsernya di JHCC , untuk dijadikan insert-insert bagi karya genius-nya tadi.

“Emohh..rasakno dhewe saiki…kapokmu kapan..” begitu jawaban saya kepada juru kamera saya , ketika dia minta pendapat saya soal itu. Sampai detik inipun saya masih nggak tau bagaimana nasibnya biaya sebegitu besar yang telah dikeluarkan untuk pembuatan sesi pertama video clip tersebut . (ngilunya hati… ketika dunia kesenian kekurangan atensi dan biaya…dipihak lain ada orang yang dengan pongahnya membuang dengan sia-sia) Hanya untuk proyek “cari-muka”.

Video clip yang kedua..yang dibuat oleh Rizal Mantovani …rupanya bernasib baik.., mungkin akibat sadar telah melakukan kecerobohan maka kali ini para ahli tersebut diam seribu bahasa dan hanya manggut-manggut ketika menyaksikan preview-nya. Tak ada protes tak ada suara kecuali mantuk-mantuk layaknya seperti badut.

Namun jangan dipikir semuanya sudah berjalan secara mulus dan ideal dikemudian hari…, ternyata sindrom tersebut kambuh lagi….kali ini menimpa karya video clip berikutnya yang dibuat oleh dua orang sineas muda ber-inisial “A” dan “I” . Entah apa lagi alasannya dan apa substansi ilmu yang mereka miliki….koq bisa2 nya… lagi-lagi mengkritisi karya orang yang memang sudah belajar dan disekolahkan untuk bikin video dan film. Heran…saya dibuatnya…
siapa yang pinter dan siapa yang bodoh menjadi jungkir balik nggak keruanan.

Namun karena saya sudah terlanjur ‘desperate’ untuk bisa mengharapkan mereka kembali kejalan yang benar :( maka saya hanya berharap kepada kawan-kawan video maker muda kita agar berani mengikuti jejak saya sebelumnya. Katakan dengan tegas: “jangan intervensi wilayah seni” , seperti ketika mereka sok mengkritisi preview arransemen musik saya , dulu..

Saya kabari wakilnya pak lurah yang mengurusi bidang klenengan…perihal problematik ini , lagi2 tak ada berita yang jelas dan pasti . Sepertinya memang sudah terbiasa …. pembagian wilayah kerja ….atau jangan2 pembagian wilayah konspirasi… . Saya hanya berharap….sangat-sangat berharap agar pak lurah sendiri ….demi kebaikannya sendiri mau menengok keluar jendela dan menyaksikan , betapa perangkatnya yang sering ‘minteri’ tersebut , telah melahirkan image yang jelas tidak baik bagi diri pak lurah sendiri.

Meluangkan waktu bagi hal-hal yang tampak sepele…dari hal-hal yang kecil (detail).., dari sanalah orang bisa menilai kualitas kemampuan seseorang dengan baik.., bukankah begitu?

Arghhh..koq saya sekarang yang keminter yo?…, yo ben , gantian tooh..

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

8 Responses to “ Birokrasi ‘kopral’ [plus] ”

  1. koprale sopo cak..

  2. kopral djono pakde’ sing mbiyek dagang sate

  3. Nang Indonesia iki, sing ‘keminter’ karo sing ‘pinter tenanan’ akheh endhi sih…Mas? 50:50 / 75:25/ 90:10 …..he…he…he…..tebak2an kaleeee……..!

  4. wah udah lama nggak buka situs mas Yock, ternyata sudah lanjutan kopral jono, ternyata masih katro juga kelakuan kopral jono ya mas.

  5. - mas indrayana , 90 : 10 ketok2’e mas

  6. - jefry , tambah katro mas :(

  7. repot yo mas tibakno prosese???
    nggawene lagu iso happy,lha trus mari ngono senep goro2 kopral2,,hahahaa

    rt/rw lurah mung pajangan mas,,sumpah gk ono fungsine..

    aku pas meh nggawe paspor kae yo ngono mas,,nang rt/rw dijawab lagi sholat nang masjid,tak enteni nang masjid eh wong’e ra gelem tanda tangan soale jarene wis “after hour”(beeehhh,,jan megelne,gayane koyo sekjen PBB,padahal rt-ne koncoku balbalan lho..)
    engkel2an akhire gelem tanda tangan!!
    budhal aku nang lurah..
    beehh,,koyo artis holywood,,dijawab sekertarise lagi maen badminton..tak enteni 2 jam,akhire ketemu tapi raine sengak..gk gelem melayani..alasane aku gk sopan!! (goro2ne aku ra muni permisi pas ketemu de’e..beeehh jan kolonial)
    ujung2e gelem tanda tngan tapi kudu ono “uang damai”
    akhire duit hasil dadi “jukir”ku tak untel2 tak remet2 (padahal isine 500an karo 1000,,jumlahe ra sampek 5000 hahahaa)tapi goro2ne ketok’e gede dijupuk karo de’e..

    repot2 panas2 mlaku,,sing diadepi wong2 sengak!!!

  8. - aZiZou

    haha.. senep polll

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara