Sikap Politik

Secara sederhana saya gambarkan , setidaknya ada tiga [3] buah pilar pendukung kelompok masyarakat untuk mendirikan tegaknya sistem ber-kehidupan dalam ber-Bangsa dan ber-Negara secara demokratis .
a. Kelompok masyarakat terpilih yang disebut Pengendali Kekuasaan
b. Kelompok oposisi yang bertugas meng-kritisi kebijakan yang dianggap keliru.
c. Kelompok sipil [Non Goverment] yang berfungsi menggerakkan roda perekonomian
Kelompok opisisi dapat saya sebut sebagai kelompok masyarakat yang sarat dengan berbagai agenda kepentingan untuk merebut kekuasaan itu sendiri . Sebagaimana dimandatkan dalam tatanan yang demokratis bahwa ‘kekuasaan’ tidak boleh terkooptasi oleh kemapanan yang bersifat ‘status quo’.
Kelompok sipil yang belum berdaya , hanya akan menggantungkan nasib baik atau buruk nya kepada hasil “perseteruan” dua kelompok masyarakat diatas . [pemerintah vs oposisi] . Masyarakat tak berdaya tersebut tak lebih dari barisan bebek-bebek yang mudah digiring ke-kiri maupun ke-kanan , bahkan terjerumuskan situasi keadaan .
Sebagai seniman yang merupakan bagian dari masyarakat sipil , kami seringkali memang berperan lebih vocal dibandingkan komponen profesi masyarakat sipil yang lainnya . Bukan berarti kami merasa lebih berani bersuara atau bahkan disebut lebih militan , namun semata karena kami dibekali instrumen kebudayaan yang bisa mem-bahasakan berbagai keresahan-keresahan dan kegelisahan , menjadi sebuah bahasa kalimat yang mudah dimengerti oleh seluruh komponen masyarakat bangsa itu sendiri [egalitarian].
Dapat disimpulkan bahwa tugas serta peranan kami hanya sebatas turut serta bersama seluruh komponen bangsa yang se-utuhnya untuk “membangunkan” , agar kelompok masyarakat sipil tersebut segera berdaya sebagaimana seharusnya [civil society - civilization] dalam bahasa lain masyarakat madani .
Ironisnya , di alam kondisi yang seperti sekarang ini kami acapkali di-salah mengerti dan di-salah pahami oleh berbagai kalangan yang ada , serta didorong agar masuk dalam “debatable praktis” untuk terlibat secara langsung dalam tarik-menarik kepentingan dua hal diatas. Dan ketika ada segelintir kelompok seniman yang larut dan hanyut dalam gelombang espektasi tersebut diatas , tak ada kata lain yang bisa terucap dari dalam hati selain ..”miris” . Saya miris dan ngilu melihat teman-teman yang semustinya bisa berperan aktif sesuai domain nya di ruang-ruang kebudayaan , namun kini nampak “beringas berlarian di jalanan”.
Semoga lewat curhatan artikel ini .. teman-teman yang membaca bisa memahami serta menghormati sikap politik saya .
salam ,

















saloute om kami jd lebih paham dan ngerti, selamat berjuang
terimakasih..selamat berjuang juga .. jangan mudah tergoda kemilaunya sinar dari seberang .
mampir mas, kapan nih suara rakyat kembali bergema. Selamat berjuang demi kebaikan banyak orang.
mas guawijaya , hehe kita ketemu ditempat yang berbeda .. padahal langitnya masih sama . salam