Demokrasi alkit

map

Sepuluh tahun lebih reformasi berjalan … , menyediakan ruang bagi bergulirnya sistem demokrasi yang benar-benar demokratis sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan masyarakat bangsa kita sendiri . Masih juga jauh dari sebutan menyepakati ‘track’ (jalur) nya apalagi menemukan solusi pilihannya.

Budaya perilaku suka dengan metode pembenaran diri sendiri , lebih menonjol daripada memikirkan cara bagi kepentingan secara kolektif bersama-sama . Sebuah paragraf kalimat berkadar “keluhan basi” yang sudah harus disingkirkan dari ruang dialog pembicaraan dimana-mana … bosen rasanya mendengar itu melulu….lalu ?

-0-

Sistem Demokrasi yang direbut dari “rejim otoritarian” yang kemudian diadopsi oleh “rejim reformasi” hampir 11 tahun lamanya selama ini , adalah sistem demokrasi yang berbasis individual “one man one vote” yang dianut dan diterapkan dari demokrasi ber-gaya liberal Amerika. Lalu apa-nya dan dimana-nya yang kurang ‘pas’ atau bahkan tidak sesuai atau kita hanya masih butuh waktu lagi saja…. adakah itu ?

Sepertinya Ini masalah “kultur bawaan lahir” bukannya masalah mau atau tidak mau , ibarat memiliki mobil kendaraan otomotif jenis untuk keperluan didarat , namun ingin di up-grade / di-renovasi menggunakan imstrumen spare-part kendaraan jenis keperluan kendaraan laut bahkan udara .

Orang Jawa memiliki sistem demokrasi pilihannya sendiri .., demikian juga orang Bali / Bugis / Aceh / Dayak / Batak dan banyak lagi bangsa-bangsa di jajaran kepulauan Nusantara ini yang sebetulnya independen dengan sistim demokrasi pilihannya masing-masing . Demokrasi masing-masing dari mereka adalah demokrasi berbasis kolektif atau bisa juga dipahami sebagai demokrasi atas dasar kesepakatan bersama antar kelompok masyarakatnya … baik itu melalui faham adat-istiadat / agama / aliran kepercyaan dan lain sebagainya (demokrasi kultural). Artinya tidak dikenal demokrasi individual atau bahkan “one man one vote” [*foot*] seperti dijelaskan diatas. Karena itu pula …tidak dibenarkan seseorang meng-atasnamakan kebiasaan-kebiasaan perilaku kulturnya dengan cara sesukanya sendiri . Hukum adat akan mengadili .

Ketika saya sudah mencoba memahami “demokrasi kultural independen” masing-masing bangsa-bangsa diatas tadi.. lalu saya sandingkan dengan demokrasi individual yang sekarang tengah dicoba untuk diterapkan diseluruh aspek tatanan kehidupan kita ini…tanpa pandang bulu … apakah itu suku ,.apakah itu agama dan lainnya …..apa yang terjadi?

Keinginan dan maksud baik tidak selamanya akan bisa berjalan mulus tanpa mengabaikan aspek “bawaan lahir” yang saya sebutkan diatas. Nah… sampai disini saja saya berani menggali dan berupaya untuk mencari solusi yang terbaik .. sayapun tidak berhak meng-klaim pembenaran yang lahir dari opini pribadi . Lagi pula saya juga tidak bermaksud untuk mencari pembenaran … selain ingin bertukar pikiran dan pendapat. Tetapi satu hal yang jelas saya yakini secara pasti …. bahwa ini hanya masalah sebuah “PILIHAN” bukan untuk ditimbang-timbang dan dicari-cari yang manakah yang lebih sempurna antara satu dan lainnya .

Berikut dibawah ini saya tautkan link , untuk sekedar dijadikan rujukan bagi bahan referensi. Terimakasih saya pada I Made Wiryana atas sedekahnya bagi temuan link tersebut. Selamat berjuang .. o ya , judul artikel diatas Demokrasi alkit adalah bermaksud demokrasi ala-kita.

salam.
jsop

http://www.geert-hofstede.com/hofstede_indonesia.shtml

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

2 Responses to “ Demokrasi alkit ”

  1. om yock tulisan ini nyambung ke tulisan berikutnya ya om ??

  2. wah gitu ya..? mungkin tidak sengaja :)

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara