Mengembalikan Etika

shadows

Di suatu ketika saya bertemu dengan seorang pejabat tinggi di sebuah pemerintahan . Beliau menyampaikan pada saya , perihal keinginannya untuk melakukan kerjasama musik dengan wilayah instansi / departemen dimana beliau berwenang . Kerjasama tersebut rencananya akan dituangkan dalam sebuah pergelaran , dalam rangka memperingati hari besar yang ber-skala nasional.

Kami semua sepaham , bahwa era globalisasi juga turut membawa dampak tidak ‘positioning’ nya lagi norma-norma , etika dan tata nilai yang selama ini ditaati oleh masyarakat Indonesia pada umumnya . Implikasi dari benturan antar persoalan “kemiskinan-ketertinggalan” dengan “harapan-realitas kemajuan jaman” yang di-ikuti lagi dengan paham “kebebasan” yang belum terukur , telah memporak-porandakan tata-laku antar masyarakat satu dengan masyarakat yang lainnya.

Ada tiga puluh tiga kamar (33 propinsi) yang harus selalu dijaga hubungan sosial kemasyarakatannya , demikian beliau menceritakan kegundahannya pada saya secara panjang lebar dan terinci . Saya sependapat dan bisa memahami realitas jaman yang terjadi sebagai satu keniscayaan yang harus disikapi dengan cerdas dan tidak lagi melalui mekanisme otoriter seperti masa-masa lalu .

Lalu saya katakan sekaligus saya tanyakan pada beliau: Bagaimana bisa berpikir untuk menghubungkan komunikasi 33 kamar tersebut , lewat pintu-pintu dan jendelanya masing-masing ? Mengapa..beliau balik bertanya …

Bukankah didalam satu kamar saja .. kita sudah terasa sulit untuk membina komunikasi dengan baik ? Apakah bapak masih bisa berkomunikasi yang baik dengan putra dan putri bapak seperti masa lalu ? Apakah putra-putri bapak juga masih menjunjung tinggi etika perilaku sebagai anak Indonesia dengan segala sopan dan santun-nya kepada orang tua seperti dulu?

Demi perubahan , hubungan komunikasi memang harus selalu di-update disesuaikan dengan kebutuhan jaman . Namun…apakah kita masih merasa “RUMAH” sebagai institusi pendidikan selain di sekolah-sekolah ? Jika sekolah dianggap kurang berhasil menanamkan “budi pekerti” yang diharapkan … kemanakah anak-anak akan mencari sandaran ?

Melalui media dunia maya ini … sayapun terpanggil untuk turut membangun kembali “kerusakan-kerusakan” yang terjadi diantara sesama kita sebagai FB’ers maupun lainnya .
Mari kita tanamkan kembali kesadaran untuk saling menghormati dan menjaga ucap kata , kalimat yang bisa berpotensi melahirkan kesalah-pahaman .

salam sejahtera ,

jsop

About the Author

jsop

Bukan jurnalis bukan pejabat bukan juga politikus apalagi tentara....wong cuman seniman. Ibarat cermin bagi elok rupa maupun cermin bagi buruk rupa. Jangan membaca tulisan seniman bila tampilan buruk rupa anda enggan dibaca.

2 Responses to “ Mengembalikan Etika ”

  1. om jockie kembalikan identitas budya bangsa om,salam kenal

  2. begitulah pikir saya .. atau adakah cara lain untuk mengajarkan bagaimana caranya agar bisa kembali ber-sopan dan ber-santun?

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.