Digitalisasi Humanity

digital

Salah satu penjelasan tentang era / jaman digital adalah jaman dimana berbagai study analisa dan data bisa tampil diproyeksi-kan secara visual/virtual dalam berbagai bentuk . Singkat kata semua persoalan yang ada disekeliling kita mampu diterjemahkan menjadi hitungan numeric atau bilangan angka. Bilangan tersebut menjadi urutan bagi perintah-perintah untuk digunakan sebagai pengganti bahasa vocal manusia . Bahasa untuk menggerakkan mesin kalkulator / robot agar bisa bekerja menyelesaikan tugasnya , mengganti peran manual manusia.

Disisi lain , manusia adalah makhluk sosial yang terdiri dari organ-organ kelengkapan untuk berpikir secara rasional namun juga subyektif irasional dalam mengolah kualitas kehidupannya . Karakter manusia jelas berbeda dengan karakter robot yang diciptakan bersifat pasti dan stabil . Ketika hilang salah satu diantara “rasional & irasional” diatas , maka manusia tak lagi bisa disebut sebagai manusia yang manusiawi , namun berubah fungsinya menjadi manusia yang roboti .

Oleh karena itu dalam ber-olah pikir apalagi menjalin hubungan berkomunikasi , bahasa kalimat menjadi penting , sebab dari bahasa vocal-lah unsur-unsur manusiawi bisa tampil dipahami (marah/senang/sedih) dan dihadirkan seutuhnya . Unsur rasa dan emosi sangat diperlukan guna menangkap maksud lawan bicara serta membuka cakrawala berpikir secara bersama , agar proses membangun kualitas hidup tidak berhenti dan bisa berjalan kedepan tidak statis ditempat atau bahkan mundur kebelakang .

Suatu ketika , disaat ada sebuah bahasa kalimat hadir tanpa mengusung kelengkapan utuh seperti diatas , maka bahasa kalimat tersebut hanya sebatas sebuah “keterangan” , tanpa menyodorkan amunisi yang berfungsi melahirkan imaginasi interaksi sosial yang baru. Dialog berkomunikasi menjadi kering dan cenderung bersifat langsung selesai ditempat bahkan tak jarang acapkali malah membingungkan . Perhatikan gaya bahasa kalimat dibawah ini :

“iye dung masi klo banjir br kaga kbanjiran pak he..lah emg km uda merid to sis? Iye yakh pdhl qt dlu hampir gag pnh ngobrol yakh..skg mlh uda akrab2an gni.. Maren pemilu plg jkt kah?? ”

Menurut saya ini bukan perbedaan soal kuno atau menjadi modern , namun ter-degradasinya fungsi kalimat baku bagi terwujudnya bahasa-sosial sebagai media komunikasi antar sesama kita . Masa depan penuh kejutan dan berbagai temuan , namun tidak semua unsur baru yang datang layak ditelan mentah-mentah secara begitu saja , bukan?

Jangan mengatakan bahwa ini hanya terjadi pada generasi “pancaroba” saja , nyatanya kaum dewasa dan tua pun sering saya jumpai menulis dengan singkatan2 yang serupa , pusing deh gw ngebacanya ..:P

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara