Politik sebebas-bebasnya

free

Hanya manusia yang hidup terpencil sendiri serta tak berhubungan dengan komunal masyarakat lain , yang boleh sesukanya bertindak semau dirinya sendiri . Dalam tatanan masyarakat yang beradab tidak ada satupun profesi yang bisa dan boleh BEBAS NILAI . Semuanya terikat dalam satu kesepakatan untuk menghormati serta menjunjung tinggi adab-adab yang telah disepakati. Pelanggaran terhadap adab yang disepakati adalah pelanggaran serius pada etika dan tatanan nilai kemanusiaan itu sendiri.

Seniman dan budayawan laksana barisan garda kedua bagi masyarakat beradab setelah kelompok kaum agamawan , merekapun tak luput dari aturan untuk berkewajiban menjaga norma-norma etis tersebut diatas. Sama sekali tidak ada pembenaran bahwa ekspresi seniman ataupun budayawan bebas dari rambu-rambu sosial serta harus dimaklumi kekebalannya dimata ETIKA yang diterjang .

Namun perilaku liar gerakan politik di negeri ini semakin lama semakin mengkhawatirkan saja , satu demi satu seniman-seniman atau orang-orang yang sering mengaku sebagai seniman direkrut , seolah di cuci otaknya untuk akhirnya dibuat menjadi manggut-manggut terlibat dalam konspirasi politik yang sejatinya adalah “musuh” bebuyutan dalam dunia ke-senimanan. Pen-jungkir balikkan makna serta arti dari sebuah kebebasan berekspresi telah dimanipulasi lewat permainan kata-kata yang keluar dari mulut kotor para “intelektual” yang sama sekali jauh dari perilaku orang yang menyandang integritas intelektual itu sendiri .

Keberpihakan pada rakyat yang sedang ‘in’ digembar-gemborkan dengan istilah pro-rakyat , dihadirkan dalam bentuk sikap perilaku yang sama sekali tidak mewakili kalimatnya . Mereka memahami istilah pro-rakyat hanyalah sebatas urusan ekonomi . Namun ‘ruh’ yang bisa melahirkan system ekonomi pro-rakyat tersebut , diterjangnya habis-habisan .

Ruh itulah yang disebut ETIKA , etika menghormati sesama pemeluk agama yang berbeda , etika berbangsa , etika hukum , etika berpolitik , barulah etika ber-ekonomi dan sebagainya . Saat ini ketika masyarakat kembali menolak sistem penjajahan ekonomi oleh bangsa asing (ketergantungan) maka bisa disimpulkan bahwa masyarakat dan kita semua resisten menolak terhadap segala bentuk kepentingan asing yang menindas beserta antek-anteknya yang membodohi pikiran.

Penjajahan yang lain adalah penjajahan pikiran yang menyelewengkan maksud dan arti dari sebuah kalimat agar bisa sejalan dengan “maksud kalimat” bagi kepentingan kelompok gerakan politik atau target tercapainya kekuasaan tertentu , bagi saya hal seperti itu adalah perilaku pengkhianatan kepada Negara [kepercayaan yang diberikan rakyat] . Kebebasan meng-interprestasikan makna dengan cara sesuka hati dan mempermainkannya adalah sebuah kejahatan moral yang serius .

Bila itu semua disebut dan dimaknai sebagai ‘demokrasi’ , maka demokrasi yang semacam itulah yang seharusnya di ganyang habis dari muka bumi Indonesia . Seperti kutipan di awal tulisan ini diatas , bahwa tidak ada satupun profesi ditengah masyarakat beradab yang BEBAS NILAI . Apalagi profesi seniman … yang justru harus menjadi benteng terdepan bagi terjaganya martabat , etika dan segala kepatutan .

Jangan pernah mengaku-aku sebagai seniman jika perilakumu hanya tau bagaimana caranya berjualan sambil “menebar muslihat” , layaknya pedagang opportunis yang licik dan culas .

BAH! kalian telah mencoreng dan menodai martabat profesi yang sangat kuhormati

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara