mufakat budaya

Dalam rangka mengenang WS.Rendra , saya bersama teman2 dari Mufakat Budaya menyelenggarakan sebuah acara yang bekerjasama dengan MetroTeve 16 Agustus pk.22.30 wib . Acara tersebut berusaha menampilkan catatan2 Rendra sepanjang hidupnya , diantaranya terdiri dari tulisan2 puisinya yang akan dibacakan oleh beberapa tokoh / artis yang dianggap memiliki karakteristik individu yang cukup kuat dan unik. Selain juga komentar tentang figur seorang WS Rendra dimata Clara Shinta , putrinya yang 24 jam nonstop tidak boleh sejengkalpun jauh darinya . (semenjak Rendra dirawat di rumah sakit)

Puisi2 Rendra akan dibagi dalam beberapa periode tahun , seperti th 50 , 60’an 70’an hingga puisi2 saat ditulis di era reformasi dan masa2 sesudahnya . Juga ada dialog dengan beberapa tokoh2 yang berkaitan dengan sejarah perjalanan hidup seorang WS. Rendra .

Saya sendiri akan berusaha memainkan & menyanyikan sebuah komposisi yang saya tulis tepat 5 jam setelah dia berpulang kembali dipanggil sang Khalik atau Allah atau Tuhan Yang Maha Esa . Juga sebuah sajaknya yang terkenal “Kesaksian’ yang pernah saya bawakan bersama teman2 Kantata .Dua buah komposisi lagu tersebut akan saya mainkan dalam konsep instrumentasi minimalis , piano tunggal dengan dukungan (layering pad) keyboard yang insyaAllah akan dimainkan oleh rekan saya Edwin Saladin .

Komposisi minimalis tersebut akan didukung dengan 20 piece choir dari Paragita (UI) . Dengan arransemen paduan suara yg akan ditulis oleh Aning Katamsi .

Satu hal yang membuat saya khawatir … dalam bekerjasama dengan televisi di Indonesia . Umumnya mereka tidak peduli dengan kebutuhan artistik seni musik secara detail , kecuali hanya berurusan dengan ‘gambar’ dan waktu yang ketat serta padat . Padahal keyakinan seni yang saya ekspresikan selama ini , tidak bisa hanya dilihat dan didengar hanya dari sudut2 ‘angle’ seperti diatas. Dimana seni hanya dianggap sebagai ‘obyek’ hiburan yang harus menarik bagi penonton/pemirsa2 nya.

Televisi lebih berpihak pada informasi yang ‘menghibur’ , konon sesuai kebutuhan pemirsanya. Televisi sebagai media informasi , sekaligus edukasi … kurang menempatkan diri secara selayaknya …. Ataukah karena pemirsa2nya selama ini sudah dianggap pintar semua … dan hanya butuh hiburan saja ketika switch ‘on’ remote control mereka ..?

Ataukah sudah tidak ada lagi “kemampuan” untuk mempertahankan kesabaran serta ketekunan dalam mendidik masyarakat teve yang notabene … senang memuja khayalan dan ilusi . Entahlah …

Saya hanya memikirkan Rendra … dan apa yang bisa saya perbuat untuk Rendra … walaupun Rendra sudah tak ada lagi didepan saya . Namun pikiran2nya yang terpancar dari wajah dan sorot matanya selalu akan menempel melekat didalam benak saya.

jsop

Terbanglah Rajawali – The Author

kesaksian-jsop.mp3 – The Author

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

2 Responses to “ mufakat budaya ”

  1. Semoga sukses mas acaranya..
    meskipun saya sedikit bingung jg dengan ukuran “sukses”…
    yang terpenting usaha untuk mengenang, menyampaikan pesan2 dr almarhum tetap kita lakukan…

    kami didaerah jg melakukan hal serupa….
    http://www.radartulungagung.co.id/features/396-cara-teater-banyu-melepas-kepergian-ws-rendra-dan-mbah-surip-.html

    Tidak ada yang bisa kami lakukan selain terus membaca dan menyampaikan karya2 mas rendra…

  2. duh gusti… saya absen menyaksikan di televisi…

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara