Rendra dan kemerdekaan

aren
Belajar dari pengalaman bukan berarti harus sampai pada lembaran kitab-kitab yang penuh dengan tulisan sejarah dimasa lalu. Namun bisa diawali dengan peristiwa terdekat yang terjadi disekeliling kita sendiri.

Mengapa bangsa ini masih saja terseok-seok di hilir persoalan ber-bangsa yang sama , baik ditataran ekonomi maupun masalah2 yang terkait dengan issue penegakan supremasi hukum / aturan dan lainnya. Mengapa secara politik bangsa ini belum juga mampu menunjukkan ke-mandirian-nya .

Mungkinkah , ini masalah mentalitas yang tak juga berubah ketika kemerdekaan sudah diraih?

Hampir semua orang pasti sepakat dengan perkiraan dan dugaan itu , tetapi ironisnya pula … mereka juga terus larut dalam ‘sistem mentalitas’ tersebut , tanpa punya keberanian ataupun daya tahan untuk berani melawan arus mainstream yang menyesatkan . Ada apa dengan kita semua .. ini ? Kelompok orang2 yang munafikkah ? Yang tega untuk saling menyakiti sesama , seperti layaknya orang yang tak pernah mengenal ajaran agama .

Tentu saja tidak dan bukan seperti itu …, bangsa Indonesia adalah manusia2 beradab yang selama ratusan tahun menjunjung tinggi kemanusiaan dan mengenal Ke-Tuhanan Yang Maha Esa . Lalu … bagaimana kita masing2 harus menjawabnya …?

Analisa sekelebat .., yang saya rasakan sepanjang hidup selama ini adalah , bahwa yang masih bisa disebut ‘tulen’ bangsa Indonesia itu adalah mereka2 yang hidup terpencil dan tinggal di pelosok2 daerah yang belum dikuasai oleh ganasnya imperialisme gaya baru , yang selalu tampil dalam bentuk dan wujud ‘penjajahan’ ekonomi yang ber-beda2 .

Kita semua yang hidup di kota2 besar , sudah semakin rentan untuk mengenali wajah kita sendiri … benarkah kita masih berujud manusia Indonesia (luar/dalam) atau tanpa disadari kita sudah berubah menjadi zombie .

Rendra sepanjang 11 tahun lebih di akhir2 hidupnya …, diberbagai kesempatan yg memungkinkan , saya sering berada disampingnya . Kami berdua kerapkali berusaha melakukan implementasi2 kerja kemanusiaan yang lahir dari gagasan2 dalam pikiran . Rendra bahkan sering berucap pada saya : kita ini udah kayak “tape recorder” yang setiap kali harus ngomong lagi … ngomong lagi ….ngomong lagi …dengan topik yang sama , seperti radio saja .

Begitulah ketekunan yang diajarkan pada saya , untuk tidak mengenal berhenti menyerah kalah , ketika dorongan lawan lebih kuat dari keinginan dan cita2 yang diperjuangkan.

Rendra juga mengajarkan saya , untuk tidak dengan mudah begitu saja menerima imbalan atau uang . Rendra juga membuktikan , bahwa seumur hidupnya dia tak pernah mau sekalipun untuk berkomplot dengan materi yang akan memenjarakan hidupnya kelak. Rendra selalu sensitif dalam menerima rejeki ataupun imbalan-imbalan dari hasil jerih payah karya2 nya

Seberapa pedulikah masyarakat , baik elit maupun golongan ekonomi lainnya terhadap upaya yang diperjuangkan Rendra ? Seberapa tau kah masyarakat umum lainnya … bagaimana Rendra harus kebingungan mencari uang dan dana untuk tetap berkemampuan bisa membayar listrik / telepon dan tagihan2 bagi urusan dapur rumah tangganya ?

Rendra selalu ditanggapi ‘nyinyir’ oleh mereka yang hidup di zona nyaman , Rendra selalu dianggap sebagai orang tua yang sudah jauh ketinggalan jaman dan cenderung hanya menjadi penghambat , bagi perjalanan kelompok masyarakat tertentu.

Dan ketika Rendra berpulang ke Rahmatullah … , mereka semua … orang2 yang saya kenali selama ini ‘sinis’ di belakang punggung Rendra , sekonyong-konyong menampilkan wajah duka , dengan mata sembab tersedu-sedan , bahkan ada yg ter-isak menangis sambil mengatakan di berbagai media “Kita telah kehilangan tokoh penting masyarakat Indonesia” .

Rendra , satu lagi kau ajarkan kepadaku , sebuah contoh dalam kehidupan nyata yang masih kutekuni hingga saat ini …. Tak akan sejengkalpun kakiku akan surut melangkah mundur dan mulutku akan berhenti berkata TIDAK pada kesewenangan lalu melakukan kompromi2 dengan kemunafikan2 itu ,

Rendra … musuhmu adalah juga musuhku … adalah juga musuh kita semua , Merdeka!

jsop

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

4 Responses to “ Rendra dan kemerdekaan ”

  1. merdeka…

    Masih jauh perjuangan yang harus dilakukan, bahkan makin semakin bertambah panjang ketika orang-orang hanya bisa menganggap kata nasionalisme dan budaya luhur sebagai sebuah permaknaan klise, tidak membumi dan tidak dapat dilakukan.

    Sudah berada dalam posisi yang saling meruncing beberapa saat ke depan, saling mendepak dan hanya kesejahteraan antar pribadi yang bisa menjadi result penilaian…

    kok bisa jadi begini ya… mengapa, terlalu banyak faktor awal yang sudah dikesampingkan.

    aduhai sedihnya…

  2. mengutip pernyataan Gus Muh (Menkominfo):

    Apa yang bisa kita harapkan dari jurnalisme kita yang kerdil untuk dapat menghargai manusia sebesar Rendra? Mereka baru sampai taraf bisa menghargai orang semacam Manohara. Bahkan dalam takziah seniman yang mengidolakan Rendra mereka tak teringat Rendra.

    Di tengah kerumunan pelayat Sang Pujangga besar kita itu,
    Seniman Butet Kartaredjasa bahkan terhenyak marah mendengar pertanyaan ‘wartawan infotainment’ negeri ini: “Apa sih arti penting seorang Rendra kok orang-orang ngasih penghormatan luar biasa seperti ini?”
    “Jika kekerasan dibenarkan,” tulis Butet, “rasanya ingin menapuk cangkem lancang itu.”…

    Industri pers khusunya pertelevisian kita sudah sejak lama berjuang memperbodoh dan merusak selera masyarakat kita..

    sumber: http://pasoepati.blogdetik.com/2009/08/10/in-memoriam-rendra-tanahku-hutanku-kuburanku/#more-415

  3. […] oleh Jockie Suryoprayogo […]

  4. Capek lihat kelatahan. Moga-moga gak ikut latah. Semoga tak jual lidah, jilat ludah.
    Selamatkan bangsa ini, ya, Allah…

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara