kolonialisme absolute

ndoro2
foto saya pinjam dari: http://sepeda.files.wordpress.com

Penjajahan yang paling sempurna dalam kehidupan adalah pola pikir dari setiap orang dalam sebuah komunal masyarakat , yang berhasil menakut-nakuti serta membatas-batasi dirinya sendiri dengan ketakutan2 hasil nalar pikirannya sendiri . Umumnya hal tersebut dahulu kala kita jumpai pada tingkat tatanan masyarakat adat kuno yang menerapkan azas feodalisme / paternalistik diseluruh pelosok nusantara ini .

Kesepakatan ber-negara dan menciptakan satu otoritas pemerintahan untuk mengelola bangsa-bangsa tersebut dibawah kendali satu sistim administrasi , tanpa dibarengi dengan kemampuan ‘membaca’ paradigma kebudayaan yang terlahir dari adat istiadat diatas , telah membuahkan satu kondisi yang paradoks .

Modernisasi memang menuntut keterbukaan , persamaan hak serta kebebasan untuk berpendapat dan lain sebagainya , kondisi tersebut takkan bisa tumbuh dengan baik apabila paradigma kawula atau abdi dalem masih terus dilanjutkan . Oleh karena itu tatanan adat-istiadat lokal yg kuno tak bisa lagi dipertahankan di era modern yang menuntut kesetaraan seperti dijaman modern sekarang ini .

Namun disisi lain , tatanan adat istiadat dengan segala paradigma yang melatar belakangi kita semua diatas telah pula melahirkan perilaku / karakter manusia Indonesia dengan berbagai ragam etika serta perilaku2 budayanya , yang menjunjung tinggi nilai2 kesopanan , sopan santun bahkan nilai2 kemanusiaan yang universal itu sendiri . Dengan kata lain jauh sebelum barat mensponsori issue demokrasi , masyarakat akar rumput indonesia sudah lebih dahulu mempraktekkan secara universal azas demokrasi itu sendiri . Menghormati hak2 orang lain lewat etika perilaku yang santun , hasil dari tatanan adat istiadat yang paternalis bahkan feodalis diatas .

Inilah yang saya sebut sebagai “paradoks” , kita memerlukan hasil positifnya yang kemudian saya sebut sebagai produk2 kearifan lokal masyarakat nusantara … namun jelas menolak segala bentuk aturan dan tata cara kuno , yang memposisikan manusia dibagi atas perbedaan2 lewat ras , golongan darah biru , status sosial , turunan , bahkan jabatan.

Kembali pada topik permasalahan diatas , pemerintahan yang tak berkemampuan membaca situasi tersebut telah pula menyepelekan bahkan ‘melecehkan’ ajaran2 perilaku leluhurnya sendiri secara ‘mata gelap’ (menyamaratakan) , dan menganggap semua yang terkait dengan masa lalu adalah “dongeng” sejarah yang tak ada gunanya di-ingat2 kembali , sama sekali tidak tau bagaimana caranya melanjutkan ‘amanat’ para leluhur bangsanya sendiri.

Akibatnya ‘pembantaian’ pun terjadi , atas segala jenis peninggalan/warisan adat istiadat disemua lini tatanan hidup , lewat berbagai macam ‘pembiaran2 penganiayaan’ oleh berbagai ajaran2 antiteori dari paham2 asing yang masuk , berbagai hal tersebut telah pula menciptakan sebuah tragedi bagi konsekwensi yang tak pernah diduga … yaitu matinya “mesin” pencetak manusia2 dengan karakter ber-etika , sopan santun , tata krama ‘khas’ indonesia (orang timur) … yang justru hal tersebut adalah menjadi ciri2 serta identitas kita semua di peta masyarakat dunia (internasional) .

Kini , karena nilai2 yang mencerminkan perilaku etika serta karakter semakin ter-degradasi / terkikis …. maka , diantara sesama kita sendiripun komunikasi serta toleransi yg bersifat kesepakatan umum (gotong-royong) juga turut pula terancam keberadaannya . Pemerintahan Republik Indonesia terbukti ‘mandul’ dan tak punya daya untuk mengatasi problem sosiokultural tersebut … , dalam kondisi yang seperti ini pulalah … pada akhirnya membuat masyarakat kita dihantui kembali dengan hadirnya “mimpi2 buruk” masa lalu … yaitu “eforia” bangsa kuli , babu atau kacung , kaum kere , yang hanya bertugas harus patuh wajib manut apa kata juragan atau kaum ndoro2 nya .

Secara sadar maupun tidak , mereka kembali mendelegitimasi dirinya sendiri2 dengan menciptakan tembok2 artifisial yang membatasi pikirannya masing2 .

Menjadi pasrah , tak berdaya , orang kecil , bukan penguasa , bukan turunan bendoro2 berdarah biru yang bisa merubah keadaan bahkan nasibnya masing2 . Lalu justru mengulang kembali perilaku nenek moyang kita yang saat itu masih terjajah … , perilaku yang seharusnya ditinggalkan dan disimpan saja baik2 di lemari / buku2 sejarah …

“sudah suratan takdir” , katanya … bah! lalu kapankah kita bisa benar2 merdeka ?

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara