apa itu kandungan komposisi?

badut

Memainkan kembali sebuah lagu yang terlahir dari sebuah komposisi kolektif yang saling terkait , berbeda dengan upaya / cara untuk mengekspresikan sebuah lagu ketika lahir dari penggunaan komposisi instrumentasi (ataupun lingkungan) yang minimalis (hasil individual). Hal tersebut diatas menjadi acuan saya , untuk mendeteksi sejauh mana tingkat kemampuan ‘daya’ mengapresiasi seni di level masyarakat kita pada umumnya . Atau bahkan lebih ‘menyempit’ ke tingkat si penyanyinya atau bahkan arranger2 musiknya itu sendiri .

Produsen seni (pelaku seni) di Indonesia dan masyarakat penikmat seni kita pada umumnya , memandang sebuah karya populer (lagu) … diukur hanya dari tingkat keberhasilan si penyanyi memterjemahkan pesan lirik dalam notasi , yang diselaraskan dengan timbre vocal karakter masing2. Lalu sepenggal proses tersebut menjadi ukuran yang sudah bisa dianggap ‘menyeluruh’ bagi ditempatkannya “persyaratan2″ bagi lahirnya sebuah lagu yang bisa populer dikemudian hari. Perilaku pemahaman tersebut , bisa saya anggap benar … apabila sebuah lagu adalah hasil elaborasi pikiran / imaginasi seorang komposer (pencipta) secara tunggal .

Namun ada perbedaan yang sangat signifikan , ketika ada sebuah lagu yang terlahir dari gagasan bersama atau kerja kolektif antara pribadi2 yang mewakili profesi sebagai komposer sekaligus juga bertindak sebagai arranger. Bisa saja melibatkan lebih dari satu individu (disebut: group/kelompok) atau bisa juga hanya diwakili oleh satu pribadi yang bekerja/bertindak/berpikir merangkum semua jabatan2 tersebut diatas. Sebab , dalam hal ini lagu adalah keterkaitan antara unsur melody , lirik , bunyi2an instrumen layering pada notasi , maupun environment/lingkungan (suasana) yg terbangun dari komunitas yang unik.

Perilaku dan kepentingan Industri , jelas tidak mau ber-susah2 payah untuk memikirkan persoalan kerja kreatif yang rada2 ‘njelimet tersebut . Mereka hanya berkepentingan bahwa sebuah lagu sebagai produk seni yang disebut karya , harus bisa segera dilansir untuk digelontorkan menjadi item2 dengan ‘tag’ komersial , that’s it !

‘Behavior’ ini kemudian ditularkan maupun menular dengan sendirinya secara tidak disengaja kepada seluruh jajaran produsen seni … bahkan sampai ke level masyarakat luas sebagai penikmatnya. Akibatnya , orang hanya tau … bahwa lagu menjadi populer itu karena kemampuan sang penyanyi secara individual , dan wajar bila akhirnya menciptakan perilaku “nge-fans” yang cenderung fanatisme kepada para penyanyi2 tersebut , sebab mereka dianggap ‘super dooper’ dan patut di puja2. Di “tikungan” inilah … industri memanfaatkan momentum dengan memetik hasil produk seni , untuk ditempatkan sebagai ‘item2′ komersialisasinya .

Adakah yang salah ? dengan perliaku industri tersebut ? , tentu saja jawabannya adalah: tidak . Sebab memang begitulah rumusan bagi sebuah industri ekonomi , dimana harus bekerja dan mencari celah2 opportunity yang bisa di ‘tangkap’

Yang bisa disebut ‘salah’ dan keliru adalah espektasi “naif” masyarakatnya … yang ketika memasuki jenjang ‘apresiasi-intelektual’ … mereka ber-tanya2 didalam hati dan saat mendengar ada sebuah lagu dinyanyikan penyanyinya , mereka bertanya-tanya … koq tidak seperti harapannya .

“koq lagunya nggak ada ‘ruh’ nya … koq dia tidak bisa membawakan sebaik pada rekaman2nya … atau… ahh … memang penyanyi asli lagu tersebut tak bisa ditandingi …dst…dst…”

Lebih parah lagi , bila fanatisme sempit sudah bicara ….. capek deh

*Hiduplah Indonesia Raya* :”

jsop.

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

One Response to “ apa itu kandungan komposisi? ”

  1. bagaimana supaya pasar Indonesia yang kupingnya rata-rata nggak “ngeh” mutu sebuah karya bisa diubah, pakde?

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara