pasien itu orang sakit

aku1

Jika ada pertanyaan umum “mengapa musik Indonesia nggak maju2″ . Jawaban2nya harus di pilah2 dan diletakkan secara proporsional pada tempatnya masing2.

Musik ataupun berbagai ekspresi dalam berkesenian lainnya , adalah cermin aktual yang jujur dari kualitas peradaban yang berlangsung ditengah masyarakat. Mereka hanya bisa dikatakan berkembang dengan baik , bila terjadi dialektika antar keduanya yang juga berkualitas baik , dialog yang berlangsung secara simultan – aktif antar para produsen kreator2nya dengan para pendengar / penikmat atau para kritikus dan apresiatornya .

Secara sederhana , ditataran permukaan saya menyebutnya ada 2 hal penting yang menopang terjadinya situasi tersebut . Dua hal yg saya sebut sebagai hubungan timbal balik secara emosional maupun dalam konteks sosial ekonomi.

Secara emosional , ekspresi2 kesenian tersebut seharusnya terlibat dalam persoalan hidup dan mewakili aspirasi mayoritas masyarakatnya , yang hidup dengan persoalan2 yang terjadi disekeliling masyarakat itu sendiri.

Secara sosial ekonomi masyarakatnya harus berkesadaran serta berdaya-kemampuan untuk turut menghidupi / membeli / membayar / mengeluarkan biaya , bagi tumbuh suburnya kegiatan ber-ekspresi tersebut . Intinya ada paradigma “subsidi silang” , yang terjadi karena hubungan saling membutuhkan dan menguntungkan , antara kedua aspek tersebut diatas.

Ketika medium bagi terjadinya interaksi antar keduanya dipotong atau diambil alih oleh ‘kepentingan-pragmatis’ lain (industri) . Maka para produsen2 yang ada , secara otomatis dibuat tergantung tak berdaya apa2 untuk bisa melanjutkan proses kreatif tanpa keterlibatan kepentingan pragmatis diatas . Pembenaran2 bahwa daya beli masyarakat yang tak memadai menjadi alasan yang legitimate untuk melakukan intervensi moral / material , adalah disebut politik dagang .

industri secara sadar maupun tidak , turut meng-amini munculnya ‘bandrol-bandrol’ harga yang jauh dari realita kualitas yang memadai , selama kepentingan dagang mereka tak terusik.

Dipihak yang lain , masyarakat yang memang semakin tak berdaya karena laju ‘bandrol’ yang semakin tak terjangkau , ditambah lagi dengan tidak hadirnya ruang2 “interaksi sosial” yang aktif antara produsen dan apresiator2nya … telah melahirkan ‘kemandekan / pendangkalan’ intelektual yang melanggengkan cara berpikir ‘cuek-acuh tak acuh’ , atau yang penting bagaimana caranya agar mereka bisa sedikit ‘terhibur’ … diantara himpitan dan kepungan2 persoalan hidup praktis yang ‘sumpek’ lainnya.

Mengapa musik Indonesia tampak seperti nggak maju2 …. sama hal nya dengan kondisi pasien ketika berada di rumah sakit . Mereka akan selalu bergantung kepada suntik dan obat2an yang diberikan oleh para dokter2nya .

Untuk menjadi sehat , orang harus belajar tertib . Tertib makanan , apa yang layak dikonsumsi dan apa yang disebut ‘sampah’ … apa yang harusnya dibuang ke tong sampah dan bukan malahan dimasukkan kedalam mulut ,

salam
jsop

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara