Musik juga bisa menjerumuskan”

Profesi seni musik itu ibarat pisau bermata dua . Disatu sisi wajib membumi dan seyogyanya tak boleh ada jarak persoalan (antar produsen dan pendengarnya). Disebut musisi , karena memang dikarunia kemampuan ‘membaca persoalan’ lewat bahasa musik , lalu menyimpulkan pendapatnya lewat musik yg dia mainkan.

Artinya , kadar subyektivitas bagus atau jelek karya musik itu tinggi sekali , tergantung kualitas hubungan interaksi yang diciptakan oleh keduanya , dan tidak bisa diukur hanya lewat pembenaran2 secara teori semata . Memang terkadang subyektivitas bermusik tersebut bisa saja ‘linked’ dengan kebutuhan realita masyarakat yg ada (secara kebetulan) . Namun harus disadari , bahwa itu semua lahir dan muncul karena ada interaksi “input/masukan” dari masyarakat disekelilingnya sendiri (kondisi sosial kemasyarakatan) . Tanpa masyarakat .. bukan hanya musik , namun profesi apapun tidak akan ada arti & manfaatnya sama sekali. Bagi saya , itu alasan mengapa kita harus selalu berhati-hati dalam bersikap , dan sadar untuk tetap harus “tau diri” .

Kedua , ada kepentingan industri yang bertugas memfasilitasi bagi pendistribusian karya2 musik tersebut , agar bisa digapai dan dinikmati / didengar / disosialisasikan ke semua orang , dengan target jangkauan yang se-luas2nya . Industri punya paradigma kerja sendiri , antara lain dengan menciptakan “image-image” atau icon bahkan situasi2 tertentu yang memikat … agar barang dagangannya [lewat musik] bisa tampak eksklusif , layak dibeli dsb..dsb .

Hal kedua ini yang saya katakan bisa “menjerumuskan” … karena publikasi / ketenaran bahkan materi … kita rentan dan mudah “lupa diri” , lalu tanpa sadar terasing dari komunal masyarakat sendiri . Ketika kita “terlepas” dari konteks persoalan masyarakat … maka ‘selesailah’ profesi musisi yang sebenarnya , dia berubah menjadi tukang-musik nya industri.

Walau musik saya juga tak hebat-hebat dan bagus-bagus amat …namun, Musik saya adalah saya itu artinya saya emoh jadi … “tukang” :)

salam
jsop

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara