Kemunafikan manusia

Artikel ini tergolong ‘sensitf’ . Mengapa saya sebut sensitf? . Sebab kita / mayoritas masyarakat saat ini cenderung “malas” dengan budaya MEMBACA dengan baik . Seperti juga yang tercermin melalui perilaku pragmatis yang suka menempuh jalan pintas , dan mengabaikan hal2 yang dianggap bertele-tele . Maka dalam membacapun acapkali kita luput menangkap kandungan atau pesan dan maksud yang tertulis didalamnya secara komperehensif .

Menurut saya , artikel ini karya ilmiah intelktual sebagaimana yang tercantum dibawahnya ditulis oleh seorang profesor doktor . Sama sekali jauh dari ‘kehendak’ untuk menggiring orang terpicu dalam konflik ‘sara’ atau sejenisnya .

Namun , tetap saya anggap perlu untuk saya beri kata pengantar tambahan … agar orang yang akan membaca artikel ini lebih mawas serta teliti dalam mengikuti kaimat demi kalimatnya.

Maklum , sekali lagi hal tersebut saya lakukan bukan karena meremehklan kemampuan serta intelektualitas anda masing2 . Namun semata karena fakta yang saya temui dimana-mana …. yaitu budaya “malas” membaca . Judul artikel/tulisan ini yang sebenarnya adalah :

MASIH PERLUKAH AGAMA?

1. Dalam suasana kultural modern agama telah sering jadi bahan tertawaan, olok-olok dan sinisme. Voltaire menganggap para pemuka agama tak lebih dari tukang sulap yang menggelikan. Bagi Nietzsche agama hanyalah melestarikan mentalitas budak. Dan Nietzsche telah membunuh Tuhan. Freud menganggap agama sebagai gejala mental kekanak-kanakan yang tak mau tumbuh dewasa dan bahkan sumber penyakit jiwa. Marx menganggapnya semacam narkoba yang menggerogoti daya hidup. Kaum positivis macam A.Comte cs. meyakini bahwa bagaimana pun era agama (dan metafisika) akan lewat, digantikan oleh pengetahuan ilmiah positif yang lebih jernih dan obyektif. Hegel menganggap agama hanya sebagai tahapan sementara dalam peradaban, yang akan digantikan oleh filsafat sebagai puncak kesadaran diri rasionalitas. Bertrand Russell menulis buku “Why I am not a Christian”. Ibn Warraq menulis “Why I am not a Muslim”. Di Indonesia seorang penyair bukan hanya menganggap Tuhan sudah mati, ia bahkan menganggapnya sudah menjadi fosil. Daftar macam ini bisa diperpanjang lagi, tentu. Masalahnya; apa yang menyebabkan agama menjadi bahan olok-olok begitu? Mungkin kehidupan beragama mengidap idealisme-idealisme yang dalam kenyataan lebih terasa bagai ilusi-ilusi, yang pada gilirannya justru membuatnya kehilangan kehormatan dan keanggunan.

Ilusi-ilusi tentang agama

2. Agama diyakini mengurus perkara rohani, soal Tuhan dan realitas transenden. Dalam kenyataannya, agama justru dialami sebagai otoritas paling nyinyir tentang hal-hal fisik yang remeh-temeh dan sangat duniawi, jauh dari keluasan cakrawala transendental. Ia menentukan apa yang boleh atau tidak boleh dimakan, kapan mesti sembahyang, bagaimana cara mencuci diri, berapa persis penghasilan seseorang mesti disumbangkan, kapan orang perlu merasa berdosa, bahkan apa yang boleh dimpikan/dihayalkan, dsb. Di sini agama tampil lebih sebagai kekuatan politik.Terutama politik dalam arti Foucauldian, yakni strategi diskursif yang membentuk pola pengalaman, pemahaman diri/identitas individu, lewat praktik “kekuasaan pastoral”. Tapi sekilas pun orang tahu, agama sebagai institusi memang sering identik dengan kekuasaan dan uang. Yang namanya “transendensi” dan “Tuhan” di situ sering tak lebih dari alat legitimasi untuk dua hal terakhir.

3. Agama konon berurusan dengan kesucian, merupakan benteng nurani dan jalan ke arah kewarasan jiwa. Dalam kenyataannya, institusi-institusi keagamaan, dengan konotasi absolut dari kekuasaan yang diwakilinya, sangat rentan untuk menjadi benteng KKN paling parah alias semacam sanctuary paling aman bagi tikus, belatung dan segala jenis binatang pengerat. Padahal, kejahatan dari agama, kejahatan yang mengatasnamakan kesucian, tentunya lebih buruk daripada kejahatan biasa, seperti kata R.Niebuhr, the worst corruption is a corrupt religion.. Alih-alih benteng nurani, institusi keagamaan lebih sering dialami sebagai benteng hipokrisi, identik dengan perilaku yang artifisial. Alih-alih sumber otentisitas, agama lebih tampil sebagai, meminjam istilah Marx, benteng “kesadaran-palsu” (false consciousness), kesadaran yang sedemikian kuat hingga mudah menimbulkan fanatisme, namun sesungguhnya tak realistis, naif dan tidak otentik. Maka bukannya membimbing ke arah kewarasan jiwa seringkali agama malah seperti menghasilkan yang disebut Leo Strauss “retail sanity, but wholesale madness”, kewarasan ketengan namun kegilaan massal grosiran.

4. Diyakini bahwa agama adalah energi ke arah pembebasan dan demokrasi. Namun saat kita membuka-buka kembali sejarah ternyata praktik-praktik keagamaan di masa lalu adalah lahan subur bagi penindasan, eksploitasi, ketidakadilan, penyiksaan, diskriminasi dan genosida. Kita tahu, di abad pertengahan hingga abad 18, penyiksaan adalah prosedur normal interogasi dalam Gereja dan negara-negara Eropa (yang erat berkaitan dengan kekuasaan Gereja). Pada abad 19, orang-orang kristen Amerika merasa sah saja memperlakukan budak-budak semena-mena. Sekitar abad itu hampir setengah dari semua pembelaan terhadap perbudakan muncul di Amerika dan umumnya melegitimasikan perbudakan atas dasar visi agama. Berbagai bentuk penjajahan, seperti pembantaian orang-orang Indian oleh bangsa Spanyol (misalnya, saat Columbus menginvasi Amerika), dilakukan antara lain untuk motivasi agama. Sementara orang suka berpikir tentang inspirasi kristiani yang telah melahirkan deklarasi HAM PBB, sebenarnya lebih tepat bila ia dilihat sebagai bagian dari semangat sekular yang justru lelah dan hendak melepaskan diri dari penindasan, praktik-praktik bengis dan bentuk-bentuk diskriminasi akibat agama (kristiani) saat itu. Dan dokumen-dokumen awalnya pun disusun dan ditandatangani oleh para pemimpin politik, bukan pemimpin agama. Alih-alih membebaskan manusia menjadi lebih dewasa, agama lebih sering melestarikan kecenderungan kekanak-kanakan dengan cara memberi ilusi tentang keabsolutan yang memuaskan ego-infantil. De facto dalam dan dengan agama pulalah biasanya individu harus betul-betul bergulat, dan sering tidak mudah, untuk sampai pada otonominya yang dewasa dan kedirian lebih otentik.

5. Agama konon juga memberikan pengetahuan sejati dan mendorong pencarian ilmu terus-menerus. Kendati biara-biara abad pertengahan adalah pusat ilmu pengetahuan,dan Baghdad serta Cordoba sempat menjadi simbol pencerahan awal keilmuan , bahkan sebaliknya, dunia keilmuan sendiri pun hari ini sibuk melacak dimensi spiritual dalam sains, sulitlah memungkiri kenyataan bahwa kehidupan beragama umumnya sering tetap saja diwarnai oleh kenaifan, kebodohan, kedangkalan dan kekanak-kanakan. Itu pula yang menyebabkan orang-orang modern sering menganggap agama sebagai sisa-sisa keprimitifan dan keterbelakangan, jauh dari ilmu pengetahuan. Agama seperti identik dengan kemandegan, sensor berlebihan, dan rasa puas-diri yang naif.

6. Konon pula agama adalah jalan menuju keselamatan, perdamaian, ketenangan dan kasih sayang. Anehnya, sebagian cukup besar dari seluruh peperangan dalam dunia manusia dipicu atau berkaitan dengan soal agama. Bukannya sumber keselamatan dan ketenangan, agama lebih merupakan sumber persoalan yang lebih ganas dan mengerikan daripada persoalan sekular. Hari ini saja hal itu demikian gamblangnya. Yahudi lawan Muslim di Timur tengah, Hindu lawan Budhis di Srilangka, Katolik lawan Protestan di Irlandia, Kristen lawan Muslim di Armenia dan Azerbaijan, Budhis lawan Komunis di Tibet, dst. Dan kini urusan AS-Taliban bisa menjadi klimaks tragis dari itu semua dan berskala planeter. Klimaks yang menunjukkan impotensi agama untuk berperan konstruktif. Kita sudah punya cukup banyak agama untuk saling menyiksa dan membunuh, namun rupanya belum cukup untuk saling mengasihi.

Tantangan dan peluang baru

7. Hari ini, ketika berlapis-lapis krisis akibat kemodernan menggumpal menjadi upaya besar-besaran di segala lini untuk meredefinisi diri sehubungan dengan berbagai fenomena baru, sebetulnya agama pun menghadapi peluang baru. Apalagi dunia sains pun kini sedang antusias menelaah wilayah yang dulu tak dimengertinya: wilayah spiritualitas (Gaia Hypothesis, Anthropic Principle, Process studies, SSQ, dst.).

8. Impotensi agama di hadapan demikian banyak gejolak sosio-kultural, dan bahkan hal yang menyebabkan agama menjadi salah satu sumber utama gejolak tersebut, sebagian terletak pada dilema tak terelakkan yang harus ditanggungnya: di satu pihak, seperti dikatakan Foucault dan Huntington, agama adalah dasar kultural segala perkembangan pengetahuan, di sisi lain, dalam perkembangannya ilmu pengetahuan menjadi kelewat mandiri, menciptakan kebudayaan sendiri, budaya modern-sekular, hingga keterkaitannya dengan agama dirasa menjadi kendala bagi pertumbuhannya. Ibarat anak yang telah menjadi mandiri, sulit memahami orang tuanya, dan orangtua itu pun terseret-seret kebingungan saat hendak memahami anaknya. Budaya sang anak, kemodernan-sekular itu, misalnya, akhirnya melahirkan demikian banyak gejala yang sama sekali baru dan tak bisa dipahami dengan menggunakan kerangka pikir dan budaya agama, sang orangtua. Untuk sekadar menyebut beberapa hal baru yang menimbulkan konflik internal: gejala demokrasi, rasionalitas ilmiah sekular yang ateistik namun sangat percaya diri, HAM, kebebasan berekspresi yang tak kenal sensor, eksperimen ilmiah terhadap kehidupan dan manusia, kemakmuran material yang mempesona, dst. Gejala yang lebih langsung berhadapan dengan agama adalah misalnya: tuntutan pernikahan kaum gay, ganti kelamin, menyebut Tuhan sebagai perempuan, Keluarga berencana, aborsi, Euthanasia, dst. Dan salah satu yang paling telak adalah: keyakinan baru bahwa “kebenaran” bukanlah sesuatu yang sekadar ditemukan, melainkan sesuatu yang dibentuk, di kondisikan. Segala klaim kita tentang “kebenaran” adalah “bikin-bikinan”. Di hadapan itu semua, agama seringkali kebingungan dan tidak siap. Kecenderungan marah dan memusuhinya seringkali tak lebih dari isyarat ketakberdayaan yang putus asa. Pada titik ini, sepertinya salah satu kunci penting yang tak terelakkan bagi agama untuk bisa bangkit dan tampil baru secara realistis adalah memodernisasikan diri, bahkan ketika saat ini kemodernan itu sendiri dianggap telah lewat.

9. Dari perspektif individual, salah satu kearifan yang menarik dan penting dari mentalitas modern adalah kemampuannya melakukan pemilahan-pemilahan secara mental, kecanggihan berabstraksi, dalam berhadapan dengan modus-modus pengalaman yang demikian beragam, serta kemampuan untuk hidup dalam perbedaan secara realistis. Dalam interaksi dengan dunia dan orang-orang lain, hidup dijalani dalam berbagai modus atau konteks, yang kendati de facto tumpang-tindih, toh menuntut kemampuan memilah dan kepekaan terhadap nuansa perbedaan. Orang modern mungkin saja berkaos singlet dan celana pendek ke tempat rekreasi, tapi mengenakan jas atau gaun saat pergi ke pesta. Prinsip “kebenaran harus ditegakkan” akan berbeda-beda makna dan konsekuensinya ketika seseorang berhadapan dengan isterinya, anaknya, muridnya, atasannya, tetangganya, dst. Sayangnya orang-orang yang kelewat antusias dengan agama sering tak melihat perlunya distingsi-distingsi sangat sublim itu. Keyakinannya bahwa Tuhan itu mutlak dan agama itu total meresapi segala lapisan kehidupan yang tak boleh dipilah-pilah (yang secara prinsipiil bisa dimengerti) sering membuat mereka tidak sensitif terhadap pemilahan-pemilahan secara mental yang perlu itu. Seolah bagi mereka harus hanya ada satu modus, satu konteks pengalaman, hanya satu makna dan satu sistem pemahaman. Bahkan tafsiran-tafsiran berbeda atas doktrin yang sama pun jadi tak mungkin, kendati tafsiran itu dituntut oleh modus-modus dan konteks pengalaman real yang memang beragam. Bahkan seolah tak perlu menafsir sama sekali. Celakanya, kekacauan identitas dan pluralisme radikal dalam interaksi global hari ini bisa demikian membingungkan hingga justru sangat menggoda untuk memegang erat-erat sikap fundamentalis, absolutis, anti tafsir macam itu, sebab sikap ini memang memberi kepastian dan rasa aman. Dilema yang dihadapi agama memang sungguh tak mudah.

10. Dari perspektif sosial, pergolakan dan benturan antara dunia modern-sekular dan agama seringkali erat terkait pada masalah ketidakadilan. Meskipun modernitas itu sendiri mengandung kecenderungan-kecenderungan tak adil yang inheren dan struktural dalam dirinya, toh tak seluruh kesalahan mesti ditimpakan kepadanya. Ketidakmampuan kaum beragama sendiri untuk mengintegrasikan kesejahteraan material maupun kecanggihan rasionalitas dan sistem-sistem modern ikut melahirkan kepincangan-kepincangan itu. Akibatnya, perasaan gagal dan kurang harga-diri mudah sekali melahirkan ilusi yang menghibur, bahwa sesungguhnya mereka adalah manusia-manusia istimewa pilihan Tuhan, sedang dunia sekular-modern adalah setan yang menggoda dan perlu dibasmi. Ini semacam kecenderungan narsistik dalam perspektif Freudian: bila menyangkut hal-hal yang bagus, maka dirinya menganggap itu aslinya dia, tak ada kaitan dengan dunia luar; bila menyangkut hal buruk maka yang buruk adalah dunia luar, dirinya hanyalah akibat daripadanya. Sayangnya narsisisme seringkali juga menunjukkan kekosongan mendasar, perasaan bahwa dirinya sebenarnya bukan apa-apa, nobody, kurang harga diri.

11. Di bidang worldview dan epistemologi, “Kebenaran” adalah sesuatu yang terlampau luas untuk bisa dipenjarakan dalam satu doktrin tertentu. Kebenaran tentang apa persis maksud Tuhan sendiri dengan kehidupan dan semesta ini bisa saja sangat berbeda dengan yang sempat kita yakini dan baca. Wahyu, bagaimana pun, memiliki keterbatasan-keterbatasannya sendiri (batas bahasa, geografis, konteks sosial politis, dst.). Wahyu tak pernah ekshaustif membeberkan siapa Tuhan dan apa persis kehendak-Nya. Wahyu adalah isyarat-isyarat yang menunjuk ke arah-Nya, tapi bukan cerminan satu banding satu. Dari sudut manusia, “Kebenaran” adalah kategori sementara saat kita berhadapan dengan keterbatasan kita (seperti dalam omongan “sampai saat ini saya tak bisa lain selain meyakininya begitu”). Bagaimana pun tiap orang cuma meraba-raba atau mengintip siapa/apa Tuhan itu lewat kacamata Kitab Suci. Sayang kacamata itu pun karena sudah berumur sangat tua, seringkali begitu buramnya, dan tak mudah untuk menjernihkannya kembali. Pada titik ini, sikap merelatifkan diri adalah ungkapan kerendahan hati dan kedewasaan pribadi. Sebaliknya kecenderungan mengabsolutkan keyakinan adalah kecenderungan kekanak-kanakan yang naif. Absolutisme memang menyenangkan sang ego-kanak-kanak, dan karenanya relativitas sering terasa menakutkan dan menggelisahkan. Tapi “keyakinan” tidaklah sama dengan “kepastian”. Keyakinan adalah sesuatu yang tumbuh dan berkembang lewat interaksi dan pengalaman, tapi lebih lagi: lewat keraguan. Keyakinan memberi rasa aman, tapi keraguan mendidik,memperdalam dan mendewasakan. Bagaimana pun dunia manusia adalah dunia yang dikelola oleh keterbatasan, yang kearifan-kearifannya fragmentaris, yang keutamaan-keutamaannya sering mengidap konsekuensi-konsekuensi buruk juga, yang kekuasaan-kekuasaannya rapuh mudah lenyap. Dalam dunia macam ini memaksakan sebuah sistem dan menganggapnya absolut adalah merusakkan dunia itu. Karena itulah Kolonialisme runtuh, Komunisme hancur, dan dominasi sains yang memaksa memahami dunia secara satu dimensi pun kini mengalami krisis berat.

12. Agama memang mengandung berlapis-lapis unsur. Ia bisa dilihat sebagai sistem organisasi sosial-politik, sistem doktrin dan hukum, sistem ritual, sistem etis dan sistem kesadaran mistis. Ketika yang diberi tekanan adalah 3 sistem pertama: sistem organisasi, sistem doktrin dan hukum serta sistem ritual, maka kecenderungan eksklusivistik sulit dielakkan (“saya tidak sama dengan kamu”, “Kamu orang luar”). Di situ agama selalu berpeluang besar menjadi unsur pemecah-belah dan sumber konflik terus menerus. Sebaliknya, bila yang ditekankan adalah sistem etis dan mistis, maka kiblat orang akan lebih ke soal nilai dan kesatuan, ke prinsip-prinsip yang lebih hakiki dan inklusif ( “orang lain adalah sesama saya, bahkan tanggung jawab saya”), tak mudah terjebak dalam hal-hal yang tidak hakiki. Di sini agama akan tampil arif dan agung. Kalau terus menerus agama dialami sebagai sumber pertikaian, apalagi kalau terjadi betul PD III saat ini karena hal itu, maka zaman sendiri akan makin menganggap agama yang dihayati macam itu tak ada gunanya. Bahkan berbahaya. Dan orang akan berujar seperti Luis Bunuel sang sutradara filsuf: “Puji Tuhan, saya masih seorang ateis”. Daripada membunuh banyak orang demi surga, kadang lebih agung memilih melindungi banyak orang kendati masuk neraka.

(Prof. Dr. Bambang Sugiharto)

  

About the Author

Bukan jurnalis bukan pejabat bukan juga politikus apalagi tentara....wong cuman seniman. Ibarat cermin bagi elok rupa maupun cermin bagi buruk rupa. Jangan membaca tulisan saya bila tampilan buruk rupa anda enggan dibaca.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara