ilmu bagi kehidupan

Kehidupan adalah kemampuan setiap orang untuk menyelesaikan permasalahan hidup dengan cara yang se-baik2nya , dari lingkungan hidup yang paling kecil menuju lingkungan hidup yang lebih luas.

Dibutuhkan kemampuan intelektual untuk memahami persoalan2 kehidupan alam semesta raya , agar kehidupan dapat dijalani/ditingkatkan kualitasnya oleh manusia2 yang mengerti bagaimana seharusnya menjalani hidup itu sendiri.

Kemampuan ‘intelektual secara akademik’ , adalah mempelajari rumusan2 teknis yang ter-verifikasi secara ilmiah dari/lewat catatan berbagai proses perjalanan & pengalaman2 orang lain pada masa2 yang telah dilewati sebelumnya.

Sedangkan kemampuan ‘intelektual secara kultural’ adalah melakoni sendiri dan mencatat sendiri rumusan2 seperti diatas lewat perjalanan hidup orang itu sendiri , semenjak orang tersebut dilahirkan dilingkungannya sendiri2.

Menjalani kehidupan yang hanya tunduk berdasarkan panduan ilmu akademis dari hasil catatan2 teknis masa lalu … adalah fascisme modern yang berselubung topeng simbol2 gelar intelektual.

Sebaliknya menjalani kehidupan hanya dengan menggunakan metode kultural ‘absolute’ (primordial) serta orthodoks/fanatisme … orang tersebut hanya menyediakan dirinya untuk digilas oleh peradaban jaman yang akan terus bergerak menerjang dirinya.

Sebab langit yang menaungi kehidupan semesta raya bukan hanya sebatas ‘atap rumah’ milik orang per’orang ataupun “masyarakat spesifik” itu sendiri2 [bangsa tertentu] , namun LANGIT bagi seluruh atap rumah umat manusia di planet bumi yang memiliki berbagai ‘kepentingan’ berbeda .

Jadi apa maksud dari artikel pendek dalam NOTE ini ?

Maksudnya adalah , kekeliruan mendasar tentang pemaknaan memahami ILMU untuk diletakkan dengan benar sesuai kebutuhan lingkungan terkecil hingga lingkungan hidup yang se-luas2nya , bagi orang perorang hingga skala besar menuju sebutan sebuah masyarakat maupun satu Bangsa

Siapakah yang keliru tersebut?

ya mbahmu! … yang ternyata mbahmu itu juga mbahku juga , karena itu pula agar saya tidak dibilang ‘kurang ajar’ (nanti bisa ‘kuwalat’) … tapi juga supaya saya tidak terperangkap ikut2an ‘ketinggalan kereta’ melulu …. maka saya akan selalu berkata ‘NO/TIDAK’ pada kemapanan2 yang membelenggu .

Berkata/say NO pun juga berlaku bagi para profesor2 doktor dan cendekiawan yang baru lahir kemarin … lalu mendadak menjadi ‘pintar’ secara tiba2 . [peramal2 ‘takhayul’ yang lahir dari bangku sekola’an instant]

Rokenrol ,

jsop

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

3 Responses to “ ilmu bagi kehidupan ”

  1. “kemampuan menyelesaikan permasalahan hidup” ternyata merupakan barang yang langka lho mas. Saya baru mengerti ini setelah melihat situasi di kampus saya.

    Mahasiswa yang masuk ke kampus saya tentunya secara IQ sudah teruji, tetapi kenapa banyak yang rontok di tengah jalan? Sebagai wali mahasiswa saya juga belajar mengerti apa yang dihadapi oleh mahasiswa. Ternyata, hampir semua masalah yang membuat mereka rontok bukan masalah mata kuliah, tetapi “permasalahan hidup”. Akibatnya memang kuliah tidak lulus, tetapi bukan itu penyebab utamanya. Ya “kemampuan menyelesaikan permasalahan hidup” itu.

    Ada yang tidak bisa mengatur waktu (kebanyakan main game), ada yang stress karena tuntutan orang tua, ada yang mengalami masalah finansial (harus menanggung adik), dan seterusnya. Begitulah …

  2. sudah lebih dari hitungan tahun kita tidak pernah jumpa mas Budi … rupanya ‘kondisi’ masih tak juga berubah ya :(

    salam hangat

  3. iya mas :(

    nampaknya memang kita mesti menerima kondisi ini sebagai kondisi awal. nah seterusnya mau jadi lebih baik atau menjadi lebih buruk terserah kepada kita-kita bukan? mengharapkan yang lain? rasanya kok gak yakin.

    kita bisa berkarya apa ya mas?

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara