Musikku

Pendekatan untuk menata sebuah komposisi musikpun harus dibedah dengan katagori atau definisi yang berbeda sesuai dengan kebutuhan ruang dan tempatnya masing2 … ada katagori ilustratif – operatic – atau bahkan pamflet sampai dengan verbalisme , artinya musik bukan hanya sekedar urusan mengusasi instrumen lewat metode… secara tekstual ataupun lisan … itu kalo bagi saya lho :p

oleh karena itu , ketika ada seorang presiden bermain musik tanpa memahami ‘posisi texture’ musikal yang korelatif dengan lazimnya cara berpikir intelektualitas seorang pemimpin … maka dia terdengar ‘wagu’ atau menyengat telinga :p Se-mata2 bukan karena masalah bagus atau tidak bagus … namun pantas dan kurang pantas.

dialektika antar masyarakat penikmat (pengkonsumsi) dengan para seniman/produsen (artis dsb) … itulah yang seharusnya dijembatani oleh disiplin profesi ‘pengamat’ maupun ‘kritikus’ musik . Barulah bisa diharapkan musik Indonesia bisa maju berkembang dengan lebih pesat.

Jangan seperti kondisi sekarang ini … pengamat hanya bicara mewakili selera yang disponsori oleh industri dagang . Sementara KRITIKUS MUSIK … tidak ada :(

tulisan ini semustinya bisa menjawab pertanyaan … mengapa saya sering tidak ‘betah’ berada dalam satu ikatan kelompok musik tertentu .

Sebab ketika saya menjumpai ‘kebekuan dialektik’ maka saya jadi ‘BORING’ .

Meng-aplikasikan bunyi2an (musik) itu urusan mudah dan sepele … namun merancang GAGASAN BARU adalah substansi dari kreativitas yang tidak boleh selesai.

jsop

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara