Ini Konser DIANA (jilid:l)

Catatan pribadi :

Di awal tahun 2010 berbagai pertemuan antara saya , mas Bre dan Garin intens dilakukan untuk mendapatkan rumusan tentang konsep pergelaran musik yang ingin dicapai.Saya memutar otak dan harus berpikir keras untuk bisa menemukan ‘simpul’ tali perekat bagaimana menyatukan berbagai disiplin paradigma yang berbeda antar beberapa unsur yang musti saling terikat/berketergantungan dan mendukung satu sama lainnya.

Pertanyaan sederhana saya adalah : “bobot muatan yang akan dibangun dalam pertunjukkan nanti berbentuk drama atau musik”

Menjadi sandaran dan pijakan ‘start’ yang sangat penting bagi saya untuk bisa memulai bekerja dengan baik , andaikan saya telah menemukan apalagi menguasai ‘hulu’ persoalan yang akan saya hadapi.

Hari2 dan bulan selanjutnya adalah ‘ketegangan2 non kreatif’ yang mau tidak mau harus disikapi dengan kepala dingin dan hati yang jernih … walaupun sulitnya ‘luar biasa’. Ketegangan2 itu adalah … akibat dari tersedianya sumber daya manusia yang pas2an dan jauh dari pengalaman2 seperti apa yang saya harapkan.

Hal tersebut harus saya maklumi … mengingat kerja kolaborasi yg akan dikerjakan nanti adalah kerja secara management yang sama sekali belum pernah dilakukan dibumi negeri tercinta ini.Saya dan teman2 diatas harus mampu membangun ‘PARADIGMA BARU’ yang sesuai dengan kebutuhan , dan itu berarti kami harus MELAWAN paradigma2 lama kiat2 sistem management yang selama ini terbentuk karena PATUH melayani industri hiburan yang ada.

Saya bisa memaklumi … namun saya menolak ‘ogah’ untuk tunduk secara begitu saja.

Dari sejak awal mula sudah ber-kali2 saya ‘garis bawahi’ bahwa tantangan paling mendasar adalah kolaborasi temuan tehnologi yang harus optimal diberdayakan … namun juga sumber daya manusia kreatif yang harus mampu menyeimbangi TEMUAN2 diatas , artinya jangan menjadi BUDAK tehnologi , ini konser drama musikal yang harus ditampilkan secara LIVE! , tidak ada ‘kepalsuan2′ untuk menyiasati kelemahan dan kekurangan2 yang bisa naik ke panggung. Kekuatan sebuah keberhasilan harus menghadirkan berbagai unsur ‘kelemahan’ secara manusiawi yang ada .

Tidak ada bunyi2an orkestra / musik yang ‘steril’ , lalu dijadikan unsur penguat yang manipulatif dalam komputer untuk di ‘playback’ saat pertunjukkan (seperti lazimnya konser2 yang biasanya ada di Indonesia) Demikian juga dengan vocal2 utama – choir maupun band . Semuanya WAJIB bekerja sama secara manual dan ber DAYA HIDUP. Belum lagi kerjasama tehnis ‘yg relatif baru’ antara saya dengan DSS (sound System) berkaitan dengan urusan audio surround di JCC. Sebuah tantangan luar biasa mengingat ini baru pertama kali bisa saya terapkan …. disebuah gedung yang sistem akustiknya tidak memadai pula :(

Tantangan kedua , adalah ketika saya harus menerima talent2 yang ada hasil seleksi dari sistem audisi yang dilakukan oleh teamnya Garin Nugroho. Team tersebut hanya ‘concern’ dalam urusan GESTUR tubuh , wajah yg diharapkan agar sesuai dengan bangunan karakter. Hampir tidak ada kaitannya dengan kemampuan daya mengolah ekspresi dalam bernyanyi. Dan saya harus ‘tunduk’ bekerjasama dengan orang2 terpilih diatas.

Apa lacur … tak ada satupun diantara mereka yang saya kenal sebelumnya … darimana asal usulnya dsb (terkecuali Andy/Riff yg sudah pernah bekerjasama dengan saya di Rock Opera). Maklum saya nggak ‘gaul’ dalam urusan industri musik hiburan yang ada akhir2 ini, selain juga karena rentang jarak perbedaan faktor ‘u’ yang cukup signifikan menjadi realitas keniscayaan.

Maka , langkah dan strategi yang saya lakukan saat pada pertama kali bertemu mereka (di SOLO) , bukannya nge-test vocal dan urusan lainnya yg berhubungan dengan musik. Namun mengajak mereka semua pada pk.21.00 malam di SOLO untuk ‘hang out’ keluar dari hotel dan menuju kesebuah hotel lainnya. Satu hal yang membuat semua talent ber-tanya2 “lho koq malah keluar dari hotel? … bukannya kita mau dilatih vocal dsb oleh jsop?”

Hehehe … pada intinya sampai lebih dari pukul 02.00 subuh , saya dan mereka hanya duduk2 dan ngobrol ngalor ngidul semaunya/seenaknya … berkawan deretan botol RED WINE sampai pada tipsy. Maka … nyerocos-lah dari semua mulut dan bibir para talent diatas berbagai hal2 privat/pribadi dengan segala keruwetan problema hidup serta keunikannya masing2. Disanalah awal mula saya mengenal mereka melalui ‘cara’ saya untuk menembus batas dimarkasi jarak pergaulan bathin antara generasi tua dan generasi yg jauh lebih muda (imut2)

Lalu tahap berikutnya saya tinggal mengelola apa yang harus saya kelola dengan baik … dan itu menjadi urusan mudah yg sepele karena saya paham dan tahu betul apa yang akan saya kelola :)

Kembali kepada paragraf diatas tentang tema dan muatan Drama Musikal DIANA.

DIANA … [sesuai kesepakatan bersama] , bukan sebuah pertunjukkan drama serius yang harus menghadirkan dan melengkapi ‘kredo2′ disiplin pertunjukkan drama sebagaimana lazimnya. DIANA adalah upaya kami bersama untuk menampilkan ‘realitas’ generasi ‘postmodern’ dengan segala kelakuannya. Tidak ada yang linier / teratur apalagi menuntut kemampuan2 ekspresi seorang AKTOR yang harus memenuhi syarat2 bagi pertunjukkan sebuah drama. DIANA bagaikan MALL di Indonesia (yang bertebaran seenaknya saja) dengan segala penjungkir-balikkan ‘logika’ paradigma2 baku yang biasanya dipatuhi oleh para ‘ORANG TUA yang ‘mapan’ alias stagnan dalam cara berpikirnya.

Tingkat kesulitan yang patut saya sampaikan disini adalah , keterbatasan2 yang dimiliki sistim ‘HUMAS’ kami , agar dapat memberikan gambaran perspektif yang menyeluruh dan utuh …. apa itu DIANA . Kendala2 keterbatasan yang pada akhirnya mengakibatkan banyaknya orang2 yang ber-pretensi dan ber-espektasi sesuai selera pikirannya masing2. Saya tidak akan ‘menggubris’ mereka2 yang melakukan kritik2 dengan cara2 seperti itu …. semua sah2 saja .

Hanya satu pesan yang ingin saya sampaikan dengan segala kerendahan hati … “anda lakukan saja sendiri … lalu buktikan pada kami mudah2an anda mampu berbuat lebih baik” , salam

jsop.

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara