Ini Konser DIANA (jilid:ll)

catatan pribadi:

Kendala ‘non kreatif/artistisk’ hingga 3 bulan menjelang saat pertunjukan adalah beredarnya desas dan desus , issue2 kabar burung yang disampaikan oleh sdri: Enni E (penanggung jawab keuangan acara tsb) bahwa para pimpinan harian KOMPAS tidak 100% merestui kegiatan DIANA yang digagas oleh Bre Redana selaku penulis script . Lalu ‘katanya’ yang bersangkutan menyerahkan segala urusan penyelenggaraan kepada pihak MARCOM (marketing comunication)

Diserahkannya urusan produksi ke MARCOM berarti , segala hal mengenai kegiatan konser DIANA hanya akan ditilik dari kacamata biznis ekonomi industri hiburan pragmatis semata . Itu berarti bahwa diperlukan ‘bintang2′ yang dianggap artis papan atas untuk harus dilibatkan guna bisa menarik penonton dsb. Berarti pula bahwa , para talent2 yang sudah terpilih berdasarkan sistem audisi yang sudah dilakukan sebelumnya oleh team GARIN NUGROHO menjadi tidak legitimate lagi .

Adalah saya , salah satu orang yang menolak dengan tegas keterlibatan si ‘anu’ hanya karena unsur populer di industri hiburan yang ada . Adalah saya juga yg turut mempertahankan keberadaan seorang Sheila Marcia yang dianggap tak layak ekonomis , serta dianggap bisa merugikan ‘citra’ , sebab ybs mengusung berbagai ‘stigma’ yang tidak menguntungkan bagi Industri hiburan.

Adalah saya juga yang memotivasi Sheila Marcia untuk tidak berkecil hati dan bermuram durja sambil menyesali apa yang sudah terjadi. Adalah saya yang dengan jujur dan terbuka mengatakan pada generasi seperti dia … kelemahan adalah sumber kekuatan . Apa yang terjadi pada dirimu , itu pula yang terjadi pada diriku … disaat saya remaja dulu.

Segala kekisruhan / missleading antar berbagai wilayah departemen produksi barulah membuat hati saya (kami semua) lega … disaat 2 minggu menjelang hari2 pertunjukkan … datang team KOMPAS yang dipimpin langsung oleh para CEO nya menengok kami latihan di kota SOLO. Keresahan akan ‘gagal dan batal’ nya konser Drama Musikal DIANA mulai pudar tahap demi tahap.

Namun itu semua belumlah tuntas menjawab semua kendala persoalan yang ada. Sampai menjelang GR di JCC saya berkoordinasi dengan Sutradara , bahwa jobdesc ART DIRECTOR yang kosong melompong terpaksa harus kita tangani secara berdua.

Hal2 yang crusial lainnya adalah … akibat lalu-lintas sistem informasi yang ‘carut marut’ , maka keutuhan mengelola para talent dalam satu wilayah gotong-royong kekeluargaan menjadi terganggu. Kerjasama satu sama lain diantara mereka semua berpotensi retak dan pecah … dan bisa mengakibatkan masing2 orang hanya berurusan dengan kepentingannya sendiri2.

Adalah saya juga yang harus mengatakan dengan KERAS kepada seluruh jajaran produksi beserta para supplier-nya , bahwa: kami ‘seniman2 pelaku artistik’ … jauh lebih berharga dan harus ditempatkan pada posisi yg selayaknya dibandingkan dengan dukungan2 alat2 produksi (hardware) yang canggih serta modern … semodern apapun yang kalian ‘jual’ itu.

Adalah saya juga yang merangkap sebagai musik direktor sekaligus Art dan Talent Management … untuk mencegah terjadinya perpecahan dalam kerja berkesenian diantara para talent2 yang ada.

Ini semua adalah sebuah contoh kasus yang selalu berulang dan berulang lagi di management dunia pertunjukan seni musik di Indonesia. Usia saya kini 56 tahun … sudah tidak ada waktu lagi bagi saya untuk melakukan kompromi2 yang membodohkan . Kita semua harus belajar untuk menjadi manusia modern yang sebenarnya … bukan sekedar julukan yang bisa dibeli di toko2 , salam .

jsop

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara