Ini Konser DIANA (penutup)

*inilah hidup*

Menginterprestasikan ulang karya lagu2 yang pernah populer sebelumnya bukan sebuah pekerjaan yang mudah dan gampang dikerjakan. Berbeda ketika kita ingin membuat sebuah konsep arransemen bagi sebuh komposisi lagu yang relatif masih baru. Bagi saya apa yang saya lakukan dalam membungkus ulang lagu2 KoesPlus kemaren , adalah kerja maksimal yang bisa saya kerjakan. Lepas dari berbagai pendapat2 yang mungkin akan timbul … itulah arransemen musik maksimal apa yg mampu saya tampilkan ke publik.

Selanjutnya , meletakkan unsur2 vocal bagi lagu2 yang beragam jenisnya diatas … juga memiliki tingkat kesulitan tersendiri , mengingat tidak semua penyanyi2 yang diserahkan kepada saya memiliki ‘kapasitas’ dan disiplin intonasi bahkan standar harmony yang semuanya sudah bisa dianggap memadai. Apalagi ini adalah ‘live music’ bukan recording yang bisa disiasati dengan berbagai temuan2 tehnologi (auto correction pitch) dsb. Bahkan ada diantara mereka yang sama sekali bisa dianggap ‘nggak tau’ cara bagaimana bernyanyi . Namun itulah semua yang menjadi tantangan bagi saya untuk men-design mereka semua , agar seolah menjadi sebuah kelompok band yang sudah lumayan fasih menguasai lagu2 KoesPlus .

Selanjutnya ,

Obsesi saya dalam menaklukkan tehnologi Audio menjadi terlaksana dengan baik . Saya memiliki kesempatan yang luas nyaris tak terbatas , untuk bisa meng-eksplore gagasan2 ‘surround’ dan pembagian dimensi ruang , bagi setiap kelompok sistem instrumentasi untuk diterapkan di JCC yang notabene secara akustik adalah sebuah gedung yang memiliki problem akustik yang sangat fatal. (tidak memenuhi syarat akustik)

Kerja memanfaatkan tehnologi yang patut diberikan apresiasi cukup tinggi bagi DSS beserta teamwork-nya.

Di sektor SDM musisinya tak kalah membanggakan hati , saya bekerjasama dengan musisi2 muda yang nyaris profesional dibidangnya masing2 . Sebut saja Oni Krisnerwinto beserta Sa’Unine Orkestra atau bahkan Indro Hardjodikoro yang mengomandani sektor combo / band (andre dinuth – edwin saladin – rayendra) . Dan tentu saja Aning Katamsi sebagai konduktor Paragita Choir . Mereka semua adalah musisi2 briliyant yang dimiliki oleh Indonesia .

Tohpati dan Eet Syahrani serta Once ‘dewa’ …. tak perlu lagi dibicarakan lebih jauh , sebab semua orang sudah tau eksistensi mereka didunia musik kita. Khusus mengenai Tohpati … secara pribadi membuat saya sangat kagum … dia bukan hanya sekedar player , namun dari cara dia memahami sebuah komposisi …. dia adalah seorang arsitek yang menyimpan kekayaan2 luar biasa yang belum ter-eksplor .

Konser Drama Musikal DIANA berakhir dengan sukses serta tanpa hambatan2 kreatif seperti yang diharapkan semula. Kalau toh ada yang bisa saya sebut sebagai ‘masalah’ … maka masalahnya ada di: TIDAK ADANYA jabatan Produser yang bertanggung-jawab untuk mengelola ‘lalu-lintas’ komunikasi kerjasama diantara sesama departemen yang bekerja. Akibatnya … informasi2 yang seharusnya tertampung dan ter-akomodasi dng baik … menjadi ‘LIAR’ bergerak kesana kemari , dan berujung menjadi gosip2 kasak-kusuk tidak produktif dan sama sekali jauh dari urusan kreatif.

Dampak lainnya adalah pemegang otoritas/pengendali pengeluaran atau biaya menjadi tumpuan penyelesaian masalah , sekaligus memikul akibat yg menimbulkan beban2 yang sebenarnya bukan ‘domain’ urusan & tanggung jawabnya.

Inilah cermin kecil dari sebuah kekayaan yang dikelola dibawah management sistem/gaya INDONESIA RAYA tercinta . Memang masih jauh dari baik apalagi sempurna … namun bagi saya inilah realitas Indonesia sampai hari ini , dan aku tetap cinta padamu , salam

jsop

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara