Industrialisasi musik?

Saya sadar modernisasi menuntut kemajuan sistem Industri yang memadai. Khusus dibidang industri musik nasional , sektor ini justru mengalami degradasi kualitas untuk menuju masyarakat industrialisasi yang di-cita2kan.

Apa yang kita kenal dengan Industrialisasi adalah berjalannya satu sistem pengelolaan bahan baku material yang dianggap sebagai sumber daya ekonomi potensial. Dimulai dari pengelolaan ditataran hulu dimana materi2 unggulan tersebut diketemukan lalu melewati proses2 pengolahan dibawah kontrol sistim management yang profesional hingga berujung di muaranya menjadi produk2 yang siap untuk men-suply demand bagi pasar.

Perkembangan dunia musik di Indonesia pernah memasuki era dimana sistem Industrialisasi yang saya anggap ideal diatas seharusnya bisa diawali. Tepatnya pada awal-awal tahun 1970’an , dimana paradigma perdagangan ‘toko kelontong’ dan bisa juga dianggap ‘warung toke tradisional’ masih berlaku.

Belum adanya persaingan2 bisnis musik dan lagu yang ketat telah membuka ruang yang luas bagi seluruh seniman dari segala pelosok penjuru tanah air untuk bisa berekspresi & berkarya secara lebih leluasa. Hal tersebut bisa terjadi karena tidak adanya ‘penetrasi’ kepentingan dari kekuasaan ekonomi tertentu yang secara manipulatif mampu merekayasa kehendak pasar itu sendiri.

Bagi saya sebagai seniman hal yang paling penting dicermati bukanlah aspek kemajuan2 dalam sistem management ber-ekonominya. Namun ter-abaikannya kesadaran berpikir membentuk identitas dan karakter secara sosiologis dan antropologis dari para produsen / pelaku seni yang dibidani oleh hegemoni kapital dijaman yg seperti sekarang ini.

Ketimpangan ‘bargaining potition’ antar pemodal dan produsen , telah mengakibatkan para seniman kreatif dinegeri ini tak punya daya / kekuatan untuk melakukan inovasi2 kreatif yang baru. Pelaku2 seni tersebut terpaksa mengabaikan persoalan-persoalan yang menggeluti masyarakat disekitarnya sendiri atau menjadi tidak sensitif terhadap persoalan-persoalan yang terjadi dilingkungan hidupnya sendiri. Sebab mereka ditempatkan pada pilihan ingin mendapat pekerjaan guna menopang kebutuhan hidup … atau akan tersingkir dari arena percaturan biznis musik.

Mereka terpaksa menjadi mesin robot bernyawa untuk menyerap persoalan ‘asing’ yang secara substantif tidak perlu mereka pahami , lalu meng-aplikasikannya dalam bentuk modern kekinian untuk sekedar memprovokasi sensasi obyek bagi mata dan telinga. Nyaris tak ada pilihan dari para produsen seni selain hanya tunduk patuh mengikuti paradigma ‘pasar’ yang diciptakan secara sepihak oleh para broker2 perdagangan musik dan lagu di Indonesia.

Nyaris juga tidak ada keraguan dari saya untuk menyebut mereka sebagai broker-broker yang berkomplot dan menjelma menjadi kelompok ‘tiran’.

Dan kini , disaat panggung-panggung berkesenian di Indonesia dilanda musim kering yang gersang serta berpotensi membunuh daya hidup para seniman kreatifnya , diperlukan terobosan baru yang bukan saja inovatif namun juga berani untuk melawan arus mainstream yang status quo.

Terobosan2 yang idealnya mendapat dukungan dari masyarakat pencinta seni. Apalagi jika bisa menarik perhatian para regulator agar tata-kelola & keseimbangan bagi terciptanya iklim sehat yang fairness lewat cara2 pengawasan optimal pada sektor investasi bisa diciptakan.

Agar juga berarti bahwa Investor potensial tidak leluasa berkehendak sesuka hatinya sendiri. Kesejahteraan sejatinya adalah melengkapi kesempurnaan didalam jiwa … materi adalah sarana pendukung untuk melengkapi .

jsop

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara