Renungan Kemerdekaan Bangsa 1945
Di tahun 2010 ini harus dan tidak lagi ‘hanya’ semoga menjadi titik kulminasi terendah dari kemerosotan nilai-nilai kemerdekaan 17 Agustus yang diawali enam puluh lima tahun yang silam. Lihatlah , tidak ada satupun yang bisa dibanggakan dari karya sistem birokrasi pemerintahan kita dalam mengelola Negara Bangsa-Bangsa Nusantara .
Negara Republik Indonesia yang terdiri dari berbagai suku2 bangsa Nusantara yang konon ber-cita2 mendirikan satu ‘fatsun’ tersendiri sesuai dengan kebutuhan aneka keberagaman , yang tertuang diatas goresan tinta emas Bhineka Tunggal Ika , kini semakin jauh dari realita kenyataan serta berpotensi menjadi propaganda politik yang kosong belaka.
Lambang Garuda Pancasila beserta muatan falsafah yang diusungnya , sudah ditelikung di ‘rekayasa’ oleh sebuah kepentingan besar yang berhasil membuat lambang tersebut menjadi mandul menderita impotensi akut. Dan kita semua saat ini adalah sebuah generasi yang terdiri dari orang2 yang harus mempertanggung jawabkan hal tersebut.
Dimulai dari proses amandemen undang-undang dasar pasca reformasi 1998 , bola api liar tersebut meluncur dengan kencangnya menggilas dan membakar semua tatanan-tatanan yang sudah terpatri sejak 17 agustus 1945 sebelumnya . Sebuah tatanan yang konon melahirkan apa yang disebut sebagai Kekuasaan Absolute , yang dianggap tidak memberikan ruang dan kebebasan bagi seluruh warga bangsanya untuk berpartisipasi dengan adil dalam mengabdi kepada Negara-nya.
Masih hangat dalam benak saya , saat Bung Karno ‘hancur’ dalam pertarungan politik yang ditandai dengan peristiwa (juga rekayasa politik) Gerakan 30 September , maka Soeharto hadir ke atas panggung kekuasaan sebagai ‘the smiling General’ yang briliyan dan yang di-elu2kan oleh seluruh warga bangsa Indonesia. Kita semua berharap Soeharto mampu membawa bangsa ini lepas landas secara ekonomi , agar segera bisa menjadi Bangsa Besar yang mandiri , seperti juga janji2 Bung Karno dalam setiap pidato/orasi politiknya namun tak jua kunjung terpenuhi.
Soeharto memasuki ruang kemudi sebuah ‘kapal induk besar’ yang bernama Republik Indonesia (Nusantara) dan membawa tumpukan tugas & kewajiban , mengusung serta harus melaksanakan MISI besar , membawa bangsa ini mengarungi lautan luas ganas di samudra raya . Bukan sekedar untuk bergantian menduduki kursi Istana Negara sebagaimana lazimnya tuntutan sebuah pemerintahan negara yang demokratis.
Maka dicanangkanlah berbagai skala prioritas yang harus tertuang dalam sebuah konsep / cetak biru bagi perjalanan Bangsa ini kedepan. Konsep pembangunan tersebut dia sebut sebagai “Rencana Pembangunan (dalam) Lima Tahun” atau disingkat menjadi REPELITA. Soeharto sadar betul dan briliyant seperti dugaan orang ketika awal dia memegang tampuk kekuasaan , disebut briliyant karena Soeharto tahu betul problematik yang harus dihadapi , baik mengatasi politik dari dalam negeri sendiri maupun menghadapi serangan dari pihak luar , yang semua orang juga sudah tau siapakah mereka.
Konsekwensi2 pilihan politik inilah yang pada akhirnya membuat Soeharto juga ‘tersandung’ , sehingga membuat berbagai kesalahan dan kekeliruan di tataran kebijakan politik yang pada akhirnya menghancur leburkan kebijakan lanjutan ekonomi dalam konteks tahapan Repelita lanjutan diatas.
Kembali kepada paragraf tulisan awal saya diatas , maka seyogyanya kita semua saat ini bukan lagi sekedar berharap atau ber-semoga-semoga ketika ‘kapal induk besar’ yang sudah ber-ganti2 nakhoda ternyata masih juga mogok ditengah samudra , di-hempas2 , di ombang-ambingkan oleh gelombang kepentingan politik LAUTAN RAYA DUNIA.
Soeharto mungkin menyesali segala kesalahannya atas kebijakan2 politik mempersatukan Nusantara dengan ‘cara paksa’ yang meminta korban sebagaimana Soekarno juga pernah berkata “dalam sebuah revolusi … korban itu biasa”. Revolusi Politik Soeharto memang patut dianggap sebagai keprihatinan luar biasa yang sangat dalam , sebab bertentangan dengan azas demokrtais yang di cita2kan dan disepakati oleh seluruh penghuni planet bumi ini.
Namun sepertinya , Soeharto di akherat lebih menangisi “Revolusi Ekonomi” nya yang pada akhirnya hancur berantakan , bahkan membawa bangsa ini kian jauh / kian dalam terpuruk , terperosok kedalam jurang yang semakin sulit dijalani.
Dan saya disini seperti juga warga Bangsa Indonesia yang masih ‘waras’ … cuma bisa menatap dengan sorot mata beku melihat ‘kancil-kancil’ politik di kebun Bangsa yang semakin liar seenaknya berak dimana-mana.
MERDEKA! Jayalah Negeriku Jayalah Bangsaku segera
jsop


















Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.