ternyata …

Sungguh bukan tugas ringan untuk mengatasi ‘beban perasaan’ yang saya pikul hampir di sepanjang karier dalam hidup saya. Saya selalu menemui hambatan dan kendala pragmatis ketika ingin berekspresi secara lebih bebas dan merdeka. Dunia ke-profesian saya sebagai pemusik semakin tersekat tergiring untuk sekedar menjadi mesin2 pabrik industri perdagangan yang ber-durasi pendek . Hal tersebut menjadi sedemikian rupa karena memang jaman semakin menggiring kita untuk hanya patuh berkiblat pada nilai materi yang harus diraih se-cepat2nya dengan cara yang se-mudah2nya dalam menjalani hidup.

Manusia saling berdesak di-lorong2 yg semakin sempit untuk berebut memperoleh kesempatan yang terbaik bagi dirinya sendiri. Orang menjadi lupa akan kebersamaan & kepedulian , bahwa mereka ada dilorong2 tersebut memiliki kewajiban dan hak yang harus sama . Bukanlah gerombolan massa tanpa identitas serta entitas yang tidak jelas datangnya darimana.

Apa yang bisa saya lakukan … dan apa yang harus saya lakukan adalah semacam ‘anti theory’ bahwa mayoritas adalah bandul pendulum semacam kompas penunjuk arah yang harus diikuti. Dan pilihan2 sikap seperti itu bukanlah tanpa konsekwensi yang harus saya pikul sendiri. Apa boleh buat … itu harga diri saya yang tidak bisa dibeli oleh materi.

Banyak contoh kejadian dimasa lalu yang bisa saya ungkap disini , misalnya bagaimana ketika pada tahun2 1970’an hingga 1980’an … ketika saat itu saya dengan gigih sendirian mencoba melakukan ‘perlawanan’ terhadap kesewenangan para pemilik modal yang saat itu disebut produser musik. Terlalu panjang untuk bisa saya tulis disini secara detail , namun akan saya singgung secara garis2 besarnya saja.

Kala itu nurani saya ingin menyuarakan berbagai keresahan2 sosial yang terjadi disekeliling … maka ‘sopan-santun’ saya adalah tidak menggunakan ORANG LAIN sebagai ‘media’ penyampaian saya . (saat itu saya selalu bekerja musik bersama alm. Chrisye , sahabat saya)

Orang2 disekeliling sayapun saat itu langsung ‘judgement’ bahwa saya mau menyaingi popularitas seorang Chrisye dalam bernyanyi . Takaburnya saya apabila saya tidak menyadari keterbatasan ‘vocal’ yang saya miliki sendiri . Namun … disaat itu banyak himpitan persoalan2 yang harus saya sampaikan sendiri , persoalan yang memotivasi diri hingga menjadi jalur pilihan hidup bagi saya sendiri … bukan bagi orang lain.

Begitupun dengan kelompok2 musik yang pernah saya gagas bersama teman2 musisi lainnya … kami selalu terpecah dan terpaksa ‘berpisah’ …. karena selalu terbentur dengan persoalan yang tak jauh berbeda , yaitu urusan materi atau popularitas pragmatis.

Saya tidak pernah ‘ikut2an’ untuk me-niru2 si A atau si B atau si C …. saya adalah saya dengan segala kelebihan yang lebih banyak kekurangan2nya. Saya hanya ingin berbagi pikiran … bukan langsung berbagi keringat untuk berburu harta.

*hm … ini curhat rupanya* …. baru saya sadar setelah membaca ulang sebelum saya publish.

jsop

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara