Montecristo … mantaf jek!

Ada sekelompok orang muda (jika dibandingin dng usia saya yang menjelang ke 56) tepatnya tahun lalu , sering bertandang ke studio rumahan ya dirumah saya , untuk saling bertukar pikiran guna mewujudkan keinginan balance lagu2 mereka yang hendak di mixdown. Diawali perkenalan saya dengan Eric Martoyo disebuah cafe di Senayan City Jakarta Selatan. Seorang laki2 keturunan setengah baya dan berdandan sebagaimana lazimnya seorang pengusaha. Orang pasti paham yg saya maksudkan dengan parameter ukuran2 dandanannya pengusaha … pastinya berbaju rapi atas bawah dan dimasukin serta bersabuk lengkap ‘pulak’.

Saya langsung berpikir , ini ada lagi ‘orang gila’ yang nggak tau bagaimana caranya buang2 duit … ketika saya mendapat info bahwa ybs adalah seorang penyanyi yang punya obsesi musik dan sudah siap dengan segudang gagasan2 untuk diterjemahkan dalam bentuk ekspresi musikalnya. “Hm … dia salah ketemu orang nih …” ; begitu reaksi spontan saya seketika dari dalam hati.

Sebab apa? sebab saya adalah orang yang malas untuk meladeni kemauan2 orang2 Indonesia yang merasa punya duit , lalu merasa bisa ‘membeli’ apa saja yang mereka maui.

Saat itu tepatnya juga di bulan puasa 2009 , kami bertemu sekitar jam.15.00 siang … artinya saya harus menemani dia ngobrol sambil berpuasa , sementara ybs bukan seorang muslim yang tentu saja bebas dan punya azasi untuk saya persilahkan srupat-sruput dan me-nyedot2 lisongnya :) Tak terasa obrolan saya dengan Eric berlangsung cukup lama sampai kira2 mendekati pukul 20.00 .

Dan ternyata yang kita perbincangkan bukan inti permasalahan yang memotivasi terjadinya perkenalan tersebut … yaitu masalah musik , namun masalah2 kultural / sosial dan budaya . Ini yang akhirnya membuat saya jadi betah duduk dan suka sekali serta membantai semua dugaan2 awal saya tentang seorang Eric Martoyo yang terlanjur nemplok di benak saya sebelumnya. (Cina kaya yang gokil alias ‘gila’) .

Perlu saya tegaskan bahwa penggunaan sebutan2 keturunan/ras/kesukuan disini bukan dalam konteks ‘negatif’ serta diskriminatif seperti lazimnya yang terjadi dijaman orde baru , namun justru mengekspresikan keterbukaan serta perbedaan yang tidak jamannya lagi untuk dipertentangkan , Kuno ketinggalan jaman ! … bila masih ada orang yang ‘sinis bahkan marah’ tapi tidak tau bagaimana mendeskripsikan kemarahannya secara obyektif rasional , lalu menggunakan issu yang paling mudah , yang orang tak ber’pendidikan’ sekalipun dengan mudah bisa melakukannya.

Singkat kata , obrolan santai diatas menghasilkan kesepakatan untuk saling berbagi pikiran guna mewujudkan obsesi mereka. Lebih dari satu minggu lamanya setelah itu … saya mendengarkan pre-mix yang diberikan pada saya. Saya mencoba menyimak mencermati satu demi satu ‘pesan’ melody , arransemen musik maupun lirik yang diusung didalamnya . Dari ketiga komponen itu hanya satu yang sering membuat saya ‘disorientasi’ alias puyeng . Yaitu soal bahasa …. lagu2nya semua pake bahasa inggris men! . Bukan english comunnication language ‘harian’ yang ane’ tau … yang seringkali bunyinya ” i know you lah…you know me tho?” , makdikipreet dah … saya jadi ingat seringkali mengkernyitkan dahi … “ini lagi ngomong apa ya?”

Tapi … jangan salah bung! , setelah masa2 itu bahasa inggris saya jadi lebih baik , (karena sering buka kamus) hehe … Dan satu hal yang tak terduga , karena seringnya lagu2 tersebut saya putar bolak-balik , maka disatu saat … saya mendengar kedua anak saya (reza dan sarah) di kamar mereka teriak2 melafalkan melody serta lirik ber-ulang2 . Surprise … ketika saya menyadari anak2 saya emang lebih pinter bahasa inggrisnya :( *makdikipret lagi dah*

Pokoknya … setelah masa2 itu , tiga bulan lamanya saya bersekutu dengan gerombolan yang namanya MONTECRISTO bercanda , bekerja , ngobrol lintas sektoral musik , nge-wine dan lain sebagainya …. yak! proses mixing dirumah saya dengan fasilitas yang jauh dari memadai jika diasumsikan dengan studio mixing professional yang seharusnya . Tapi disitulah ‘tantangan’ saya selama ini … menolak untuk diperbudak tools , selama akal masih dianggap bisa mengatasi hingga mencapai batas2 toleransi maka “peduli setan” dengan agen2 / toko2 yang gencar menawarkan dagangannya.

Singkat kata lagi *yg kedua kalinya ye’* … tepatnya semalam atau kemarin malam , saya diundang untuk menghadiri pre / soft launching album MONTECRISTO disebuah cafe dibilangan Kemang sambil merayakan hari ulang tahun si ‘keturunan’ dan yang berkantong lumayan tebal itu … Eric MArtoyo yang ternyata tidak seperti dugaan / asumsi2 saya tentang bagaimana paradigma orang kaya yang seringkali saya temui di Jakarta … yang banyak maunya dan sering nggak puguh .

Eric Martoyo bukan hanya seorang pengusaha , namun juga seorang pemikir budaya … sekaligus baru belajar nyanyi tahun lalu tetapi mampu mengatasi keharusan2 dalam disiplin intonasi serta ekspresi musikal dengan baik. Seperti inilah seharusnya proses2 untuk menggapai keberhasilan itu dilakukan … yaitu lewat mekanisme bekerja secara konkrit , lalu menguasai persoalan , bukan dengan ‘membeli’ lewat status sosial ekonomi yang dimiliki .

Dan seperti ini pulalah seharusnya modernisasi serta keberagaman di bumi Indonesia ini dilakukan dengan kesadaran ber-Kebangsaan yang nyata. Bukan meng-import mentah2 budaya barat untuk ditelan habis2an … namun diserap hal2 yang positifnya untuk di aplikasikan sesuai kebutuhan permasalahan yang kita hadapi sendiri.

Singkat kata *yang ketiga nih ye’* … saya tidak perlu komentar gembar gembor memprovokasi orang untuk menyimak / membeli rekaman musik/lagu dalam bentuk CD mereka . MONTECRISTO yang digawangi oleh Fadhil Indra sebagai arranger dan composer , menghadirkan kepekaan2 sosial (poem) dalam kemasan suguhan musik rock progressive yang BAGUS bgt! , dahsyat men! … (kata anak muda sekarang)

*tapi ya bahasa inggrisnya itu lho …mbok bikin versi indon nye’*

Montecristo … mantaf jek! is:

Eric Martoyo – Fadhil Indra – Rustam Effendi – Alvin anggakusuma -Haposan Pangaribuan – Keda Panjaitan

jsop

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara