saya dulu dan sekarang

Tahukah anda alasan yang membuat saya menyadari bahwasanya saya harus peduli dengan urusan2 diluar bermusik atau sekedar bikin lagu ketika ada persoalan2 serius (politik) disekitar saya.

Dulu diawal tahun 70’an saya hanya bisa menggerutu dan menggerutu tanpa punya kemampuan untuk menganalisa apa yang sebenarnya membuat kondisi disekitar menjadi serupa itu. Betul bahwa pada saat itu ada kekhawatiran yang ‘serius’ yang membuat kita takut merasa tidak aman jika kita melakukan kritik2 secara terbuka kepada para penguasa. Itulah salah satu sebabnya mengapa saya hanya bisa menggerundel atau berkeluh kesah di tataran bahasa berkesenian yang relatif bisa disebut ‘terlalu santun’. Bukan bahasa kritik pamflet sebagaimana seniman besar kita melakukan protes2 sosialnya yang meledak-ledak (ws rendra).

Namun seiring perkembangan waktu yang berjalan … bentuk kegelisahan saya lebih fokus pada hak2 kesejahteraan saya sebagai warga negara / musisi atau seniman . Sudah terlalu banyak tumpukan2 kasus yang berkaitan dengan hak2 ekonomi saya yang dirugikan tanpa saya punya instrumen untuk dapat digunakan sebagai alat perlindungan dan melakukan pembelaan dimata legal hukum. Almarhum Harry Rusli bahkan pernah satu ketika menjuluki saya sebagai orang yang selalu teraniaya , namun langsung saya telpon yang bersangkutan dan mengatakan padanya “jangan gitu dong..” saya tidak suka bila orang nanti menganggap saya perlu dikasihani .Terus terang saja … kesombongan saya terlalu besar untuk itu .

Semenjak pergaulan saya didalam kelompok / komunitas Kantata Takwa atau tepatnya saya mengenal mas Willy secara lebih dekat , dari titik itulah saya mulai belajar untuk berani extrovert dari sebelumnya yang sangat introvert dalam segala hal. Bulan demi bulan dan tahun yg berganti , saya intens dan sebisa mungkin berusaha agar selalu ada disampingnya atau didalam setiap aktivitas kegiatan2nya , dari semenjak digagasnya Gerakan Lingkaran Persaudaraan sampai dengan Gerakan Kepatutan yang saya usulkan sendiri.

Hasilnya adalah , kesadaran yang muncul dalam diri saya bahwa segala hal ikhwal tentang lingkungan hidup , kesenjangan sosial apalagi hak2 kesejahteraan saya dulu yang seringkali saya tak bisa menemukan simpul2 untuk bisa mengurainya … ternyata kandas dan mentoknya ada di sektor kebijakan politik yang melahirkan Hukum aturan & tata cara ber-ekonomi. Artinya , yang menindas saya ya sistim hukum itu sendiri , sistim hukum yang dibidani oleh sistim politik. Maka semenjak itu pulalah saya tahap demi tahap belajar dari Rendra … apa itu politik dan sebagainya. Rendra bahkan satu saat pernah menyarankan saya dan mau membantu untuk mencarikan sumber dana dari asing (bantuan luar negeri) , agar saya bisa mendirikan organisasi secara struktural (lsm) , agar saya bisa lebih leluasa melakukan ‘perlawanan’ . Sebab menurutnya saya berkemampuan untuk ber-organisasi lebih baik dibanding dengan dia sendiri yang memang sangat anti ber-organisasi. Saran tersebut saya tolak , bukan karena saya mau ikut2an meniru jejak langkah2 pilihannya … namun saya juga menyadari bahwa tanpa independensi , maka kemerdekaan akan mudah diatur bahkan dipermainkan oleh orang lain.

Kini setahun lewat setelah Rendra berpulang … seringkali saya tak bisa membendung air mata ketika romantisme2 masa lalu bersama Rendra hadir disaat kita masih menghadapi kasus2 persoalan2 yang tak beranjak dari tempatnya semula. Hidup berjalan kedepan … saya harus menghadapinya sendiri , apa yang saya dapat selama ini adalah amanah dari bisikan hati nurani saya sendiri … dan Rendra membantu saya untuk menemukan metode , dari simpul2 sebelah mana saya harus mengurai benang kusut yang dulu kala saya tak mampu menemukan caranya. Hal itu hanya bisa saya lakukan jika saya tetap terjaga merdeka , berdiri diatas kaki saya sendiri terlepas dari segala bentuk ketergantungan ekonomi pada pihak2 tertentu maupun politik praktis , serta golongan2 yang ada di tengah2 masyarakat .

jsop

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara