lapangan kerja

Ada dua aspek yang semustinya dipahami oleh penyelenggara Pemerintahan Negara serta masyarakatnya sendiri , perihal ‘lapangan kerja’ guna menjaga keberlangsungan hidup sebuah bangsa.

Yaitu lapangan kerja bagi tenaga secara praksis dan lapangan kerja bagi yang non praksis. Aplikasi2 bagi ke-tenaga-kerjaan secara fisik (praktis) seyogyanya lahir dari rumusan konsep2 berjangka panjang yang dilahirkan dari ruang2 ke-tenaga-kerjaan secara visioner (non pragmatis) . Tanpa berpikir holistik seperti itu , maka ke-tenaga-kerjaan yang ada hanya akan cenderung menciptakan ‘barisan kuli2′ yang ujung2 nya rawan berseteru dan bersengketa dalam memperebutkan hak2nya.

Khusus di ranah ber-kesenian , maka dengan mudah kita bisa meneropong dari sudut yang jernih … bahwa tidak diberdayakannya atau ketidak tersediaanya ruang2 lapangan kerja bagi para seniman2 Indonesia telah membuat dunia seni hanya dilihat dari perspektif ekonomi secara pragmatis. Dampaknya adalah kondisi yang hanya melahirkan tukang2 seni untuk mensuply kebutuhan industri pragmatis sesuai dengan tuntutan selera masyarakat yang dibentuk hanya untuk sesaat.

Pemerintah Indonesia harus lebih jeli dan tanggap dalam memahami issu kebutuhan lapangan kerja … jangan hanya menciptakan ‘level buruh’ , namun juga level ‘riset’ dan tenaga2 ahli lainnya. Dalam konteks diatas …. secara pribadi saya menggugat hak2 saya sebagai Warga Negara , bukan mengemis atau minta tolong supaya dikasihani sebab mindset saya bukan ‘mindset kuli’ , oleh karena itu pula saya tak sudi terperangkap lalu ‘diadu domba’ untuk bersaing apalagi bersengketa berebut lahan dengan para pekerja seni pragmatis.

jsop

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara