Selamat Jalan Samurai Bangsa

Diawali dengan “inna lillahi wa inna ilaihi rajioon , semoga arwahnya berada disisi Tuhan YME, amien”

Bangsa Indonesia harus bercermin dari cara bangsa2 lain , khususnya bangsa yang ada diwilayah asia pacific dalam mewujudkan kesejahteraan untuk menjawab kemerdekaan yang telah dicapai , kita ambil saja satu contoh kebudayaan yang mendekati [‘similar’] dengan paradigma kebudayaan lokalitas masyarakat2 yang ada di Indonesia , yaitu kebudayaan Bangsa Jepang.

Bangsa Jepang di era EDO dikenal dengan bangsa yang ultra tradisional , ketat dalam menjaga adat-istiadat serta dengan tegas menolak segala bentuk akulturasi yang diusung oleh peradaban dari luar. Jaman dimana Ke-Shogun-an sangat menjunjung tinggi jiwa ke-satria-an yang direpresentasikan melalui sikap pengabdian / melayani tanpa pamrih , sikap berperilaku yang disebut “samorau” lalu berubah menjadi ”saburau” dan kini kita kenal menjadi SAMURAI.

Reformasi yang terjadi di Jepang dimulai pada tahun 1866 hingga kurang lebih tahun 1869 , tahun dimana Kaisar Meiji melakukan penataan ulang pranata sistim pemerintahan Jepang , melahirkan kebijakan2 baru sebagai panduan garis besar haluan Bangsa Jepang , dikenal dengan Restorasi Meiji .

Restorasi Meiji berbiaya tinggi , yakni menelan ‘korban’ , para pemuka2 adat istiadat yang masih bersiteguh kokoh untuk mempertahankan nilai2 tradisional tanpa ‘reserve’ . Namun disisi lain ada satu hal yang menjadi sangat penting untuk ditiru dan diikuti dari kebijakan Kaisar Meiji diatas. Ialah kesadaran totalitas Kaisar Meiji untuk menjaga KARAKTER bangsa Jepang yang justru diproduksi oleh adat-istiadat tradisionalnya itu sendiri .

Kita semua mengenal apa yang disebut dengan Local Wisdom atau Kearifan Lokal , itulah fondasi mutlak yang dipertahan oleh Kaisar Meiji untuk menata reformasi bagi bangsa Jepang. Caranya dengan tetap menjunjung tinggi dan menghormati adat-istiadat yang menjadi kultur bangsa Jepang , sambil melakukan langkah2 modern untuk menghadapi tantangan jamannya sendiri , lewat berbagai sistem pendidikan yang membuka cakrawala pikiran bagi seluruh warga bangsa Jepang.

Mbah Marijan , adalah contoh similar dari para Samurai dijamannya , seyogyanya menjadi pembelajaran yang berarti dan sangat penting bagi sejarah perjalanan Bangsa Indonesia . Kita wajib menghormati eksistensi adat-istiadat yang melahirkan perilaku SETIA , LOYAL dalam mengabdi pada Nusa dan Bangsa . Disisi yang bersamaan , Bangsa Indonesia sudah sangat membutuhkan sistim pendidikan modern yang bisa menjawab tantangan jamannya sendiri . (mengelola paradoks)

Sistim pendidikan yang berangkat dari kesadaran untuk mengelola resources , sumber daya spesifik yang dilahirkan dari kesadaran mengelola hamparan tanah dan luasnya air yang membentuk karakter NUSANTARA secara geologis , demografis dimana masyarakatnya itu sendiri berada . Bukan sistem pendidikan yang hanya meng-improt ilmu dan mesin2 modern yang diproduksi oleh bangsa2 yang memiliki karakter dan kebuituhan lain yang berbeda .

Pada titik itulah Kaisar Meiji berseru : “Buang yang jelek (yang tidak sesuai) , ambil dan kembangkan yang baik (yang cocok) . Selamat jalan mbah Marijan … pahlawan kultural Bangsa yang tidak butuh lencana , salam

jsop

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara