lampu kuning

saya tidak akan berbasa-basi panjang dan lebar untuk mengungkapkan kegelisahan yang semakin memuncak.

Semua orang tentu berharap bisa meraih kesejahteraan yang terbaik didalam hidupnya , namun dalam struktur bermasyarakat Pancasila , yang disebut terbaik adalah pilihan2 bersikap dalam ber-ekonomi yang membela kepentingan hajat kesejahteraan hidup orang banyak lainnya.

Pilihan untuk bisa memiliki mobil yang terbaik tentu ada “rolls royce – daimler – porche – lamborghini dlsb” , walaupun anda mampu untuk membeli ataupun meng-kredit , namun tidaklah elok dipandang mata ketika sejajar disamping anda berbaris deretan angkutan umum yang sesak pengap dengan himpitan orang2 yang jauh dari kemampuan ekonomi , melirik dan memandang sikap pongah anda duduk di kursi megah tersebut.

Pilihan untuk memiliki rumah2 yang mewah tentu adalah ideal2 yang terbayang dalam benak setiap insan , namun tidaklah etis ketika anda membuka jendela kamar maka yang tampak dihadapan adalah hamparan gubuk2 kumuh beserta penghuni2nya yang masih kerapkali dihimpit permasalah2 yang mendasar , kelaparan dan lain2 akibat dari kemiskinan.

Pilihan untuk menikmati hiburan musik megah elok dan dianggap bermutu tentu bukan alasan yang perlu diperdebatkan untuk mengeluarkan 25 juta rupiah hanya untuk 2 (dua) jam hidangan tontonan sebuah pertunjukan. Namun sungguh tidak etis dan beradab ketika tontonan tersebut berlangsung ditengah kondisi masyarakat yang semakin terpuruk dalam segala bidang segala hal , termasuk semakin terkikisnya pemberdayaan industri2 lokal kontent untuk bisa bangkit dan bisa mandiri . Pemusik David Foster tentu saja bagus dan bermutu … namun menyelenggarakan acara dan mencari keuntungan melalui konser seorang David Foster yang berbiaya MAHAL disebuah Negara yang semakin terkapar … bukanlah pilihan yang bermartabat.

Kebetulan sekali anda yang gemar menutup mata dan telinga adalah orang2 yang mempunyai privilage akses menguasai ekonomi di Negeri ini , secara kebetulan juga anda semua adalah terdiri dari golongan minoritas keturunan tionghoa yang mungkin saja lebih pintar dan cerdas dalam mengelola bilangan angka2 . Saya bukan RASIALIS dan tak hendak memicu sentimen eksklusivitas ras … namun sepertinya kalian sendirilah yang mengerjakannya dengan tekun .

Semoga tulisan singkat ini bermanfaat , salam

jsop

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara