falsafah dalam peranannya

Semuanya selalu diawali dari keteguhan hati dalam memelihara dan menjaga falsafah hidup didalam kehidupannya. HIDUP adalah manusianya sementara KEHIDUPAN adalah alam disekitar & se-isinya yang membentuk karakter dan cara bersikap hasil pola berpikir manusianya itu sendiri.

Masyarakat Nusantara mengenal dengan baik falsafah sebagai pegangan hidup yang diwariskan oleh suku2 bangsanya , namun sebagai Bangsa Indonesia falsafah Pancasila memerlukan proses2 penjabaran yang lebih konkrit dan ber-keadilan , agar Pancasila benar2 mampu mengadopsi dan mewakili seluruh kepentingan falsafah2 yang dimiliki oleh suku2 bangsa disepenjuru Nusantara. Tanpa dilakukannya dialektika budaya secara berkelanjutan serta hanya memaksakan kehendak2 berdasarkan kepentingan politik berjangka pendek , maka Pancasila tidak lebih dari propaganda manipulasi wujud dari penjajahan dengan model yang baru.

Kesulitan yang dihadapi oleh Bangsa Indonesia dibanding dengan tingkat kesulitan2 bangsa2 lain di seluruh dunia , dalam memelihara falsafah kehidupannya masing2 adalah jumlah keberagam falsafah hidup yang harus di akomodasi oleh Pemerintah sebagai representasi dari kehadiran sebuah Negara .

Bung Karno maupun Pak Harto , dua pemimpin bangsa yang bisa dianggap berhaluan ‘keras’ , adalah dua tokoh yang pernah memimpin Bangsa Indonesia dengan menggunakan falsafah darurat yang bisa saya analogikan menjadi falsafah gaya Soekarno serta falsafah gaya Soeharto. Dua pemimpin bangsa tersebut sepertinya menyadari , betapa masih menumpuk pekerjaan2 rumah , tugas revolusi yang harus dihadapi dan diselesaikan oleh bangsa Indonesia sendiri . Yaitu menterjemahkan Pancasila sebagai falsafah dan ideologi Bangsa dengan se-baik2nya .

Soekarno menghadapi kendala2 masalah yang spesifik sebagai masyarakat dari satu bangsa yang baru merdeka . Konfrontasi fisik dan perlawanan2 politik kepentingan sektoral adalah masalah utama di era Soekarno . Sedangkan Soeharto memetik pelajaran dari kenyataan bahwa HARAPAN UTAMA masyarakat sebuah bangsa yang disebut merdeka , adalah: segera terselenggara dengan secepat-mungkin kesejahteraan yang dijanjikan oleh proklamasi Kemerdekaan itu sendiri. Selebihnya apapun cara yang digunakan dan kebijakan yang ditempuh oleh kedua tokoh tersebut … adalah PILIHAN politik yang tak bisa dihindari dengan segala akibat dan konsekwensi masing2 yang ditimbulkan.

Hari ini pasca reformasi yang hanya melahirkan kegamangan2 baru disegala aspek dan bidang kehidupan , maka bangsa Indonesia dihadapkan pada tantangan2 yang barunya lagi. Keniscayaan globalisasi yang mengusung liberalisasi semakin membuat bangsa Indonesia gagap dan ter-gopoh2 , dikala bangsa ini masih dibebani saratnya problem2 mendasar tentang falsafah dalam ber-bangsa.

Liberalisasi yang tidak mampu dikendalikan telah melahirkan apa yang dikenal dengan neo-liberalisme . Neo-liberalisme pada intinya adalah menempatkan [kekuasaan] Akumulasi Modal/ Kapital atau materi sebagai pra-syarat untuk bisa terlibat dalam pergaulan ekonomi Global. Sebuah ideologi sistim ekonomi yang bukan saja bertentangan dengan lembaran2 kalimat janji2 yang ditulis dalam kesepakatan falsafah ber-Pancasila , namun juga sebuah kenyataan yang nonsens bisa dilakukan oleh ekonomi bangsa Indonesia yang terbilang disebut ‘anak bawang/pemain pemula’ .

Neo-liberalisame dalam prakteknya kini gencar memfasilitasi tawaran2 baru tentang makna kesejahteraan dan modernisasi . Melalui kapitalisi2 yang meng-hegemoni mereka menghadirkan berbagai informasi2 dan tehnologi2 yang mendorong mindset bangsa Indonesia mengikuti pola2 parameter bagi terbentuknya falsafah masyarakat dari dunia baru [new world] yang arahnya mereka tentukan sendiri. Dan masyarakat urban yang menyebut dirinya kaum modernis di negeri ini , sepertinya sedang tekun melakukan pengingkaran2 terhadap eksistensi falsafah masyarakat NUSANTARA secara menyeluruh .

Ada pepatah berbunyi : untuk menjinakkan lawanmu jadikanlah dia sahabatmu . Maka tidak ada cara lain selain membangunkan kesadaran Orang Indonesia untuk memberdayakan tehnologi apa saja yang ada dihadapan kita , dengan muatan kontent yang sesuai dengan karakter spesifik , sesuai dengan harapan dan cita-cita kemerdekaan bagi Bangsa Indonesia sendiri … itulah gunanya kita merdeka

Oleh sebab itu ‘nation and character building’ memang betul … sudah tak bisa di-tawar2 lagi. Bangsa yang akan hancur adalah mereka yang tidak lagi berpijak dan bersandar pada falsafah kehidupannya sendiri . Ibarat ayam kampung yang dagingnya gurih tidak akan bisa diternakkan di daerah dengan musim salju , demikian sebaliknya dengan beruang kutub yang akan mati kepanasan jika harus berjemur badan di pantai bina ria , salam

jsop

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara