duh … mr.Budiono bikin aku bingung deh!

Mr.Budiono bilang jangan merubah sistem demokrasi yg telah dipilih semenjak 12 tahun lalu . Sebab beresiko tinggi dan berbiaya mahal . Kalimat diatas saya kutip dari sebuah harian terkemuka pagi ini.

Sekilas paragraf singkat diatas bisa saja terbaca secara wajar , namun ketika saya coba dalami maknanya bahwa kalimat tersebut keluar dari pernyataan salah satu pejabat penting Negara maka persoalannya menjadi lain lagi.

Menurut saya , Demokrasi memang bukan untuk di-ubah2 , sesuai nalar dan logika sederhana saya demokrasi itu ya demokrasi yang tidak bisa diubah atau dikutak-katik. Demokrasi itu sarana sebagai alat kontrol agar tidak terjadi kesewenangan dari pihak2 yang berada diposisi atas yang bisa merugikan posisi yang berada dibawah. Mekanisme praktisnya adalah: berdialog lewat cara2 dalam sistem ber-politik yang disepakati sesuai aturan2 yang ada dalam Konstitusi.

Kalau dalam realitasnya bahwa semenjak 12 tahun yang lalu sampai dengan hari ini tatanan bernegara masih belum sempurna dan kesejahteraan yang diharapkan masih jauh dari harapan , maka menurut saya bukanlah Demokrasi sebagai faktor yang patut dipertahankan atau bahkan sebaliknya dipersalahkan , atau juga karena dianggap mengakibatkan tatanan sistem ekonomi kita belum bekerja seperti harapan.

Namun , Hukum yang harus segera dilengkapi . Hukum yang dalam teks / kalimat2 ambiguitas-nya harus dipersempit ruang disparitasnya. Caranya melalui dibuatnya aturan2 dan perundangan2 ditataran implementatif yang lebih tegas serta jelas .

Dan yang paling penting disadari adalah , HUKUM itu bangunan yang bisa tegak berdiri jika ada landasan SISTEM NILAI yang disepakati. Hukum tanpa sandaran Sistem Nilai (etis-etika) , hanya kumpulan bualan yang ditulis diatas kertas.

Sedangkan Sistem Nilai , hanya bisa ditemukan melalui cara2 dalam menyelenggarakan sistim ber-peri-kehidupan melalui sistim ber-Kebudayaan yang baik dan benar. Tanpa sistem ber-Kebudayaan yang terkawal mustahil ada Sistem Nilai yang bisa dijadikan rujukan/ acuan bagi landasan dasar untuk merancang dan ditetapkannya sistem Hukum diatas.

Ketika segala pranata dasar tersebut diatas sudah dilengkapi dan disepakati , maka barulah Demokrasi bisa dijalankan untuk mengantisipasi segala kemungkinan2 lain yang diperlukan Hukum bagi perubahan2 sesuai tuntutan2 dijamannya masing2. Artinya Demokrasi adalah sekedar ALAT atau TOOLS untuk mengantisipasi perubahan yang diinginkan dan harus dihadapi.

Demokrasi ya demokrasi … tidak bisa di-ubah2 … apanya yang mau diubah?

Kembali kepada ‘statement’ mr.Budiono yang notabene adalah pejabat tinggi sekaligus seorang Intelektual Akademisi yang Ulung , maka kalimat2 dalam paragraf diatas bagi saya yang cuman rakyat biasa yang juga kebetulan bisa ‘tang-ting-tang-tung’ mencet2 piano ini jadi bingung . Mungkinkah memang saya sendiri yang sebetulnya tidak paham demokrasi? , CMIIW.

[tambahan:]

Disisi lain ….kalimat mr.Budiono yang paling mencemaskan saya adalah: “bagi saya demokrasi adalah sistem yg dapat memenuhi falsafah Manunggaling Kawulo Gusti , menyatunya kehendak rakyat dengan kehendak penguasa”

Wah … ini bisa2 balik ke jaman RAJA2 dong? , Dalam urusan ‘spitirualism’ menurut saya tidak relevan untuk menggunakan falsafah jawa tersebut guna diterapkan dalam urusan ke-tata-negaraan , Falsafah tersebut sangat personal dan bersifat individual serta vertical antara manusia dengan Tuhan-nya secara sendiri2 atau masing2. Posisi manusia memang menjadi hamba Tuhan , tidak sama dengan posisi rakyat yang harus menjadi ‘hamba’ pemerintah.

Posisi ‘penguasa’ justru sebagai abdi , tidak sama dengan rakyat sebagai pemilik … bukankah Kemerdekaan itu bermakna Daulat Rakyat dan bukan lagi Daulat Penguasa. Daulat Rakyat itu bermakna “menyatunya gerak penguasa sesuai kehendak & keinginan RAKYAT” , artinya Rakyat adalah pemilik NEGARA (stake-holders) , sedangkan Pemegang kendali otoritas sistem pemerintahan yang disebut ‘penguasa’ adalah orang2 yang mengurus secara administrasi urusan tata kelola yg mengelola aturan ber-Negara . Sesuai amanah RAKYAT , apa saya keliru?

jsop.

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara