sistem moral

Tidak ada jaminan dari langit , ada satu komunal masyarakat yang bisa mengatasi persoalan2nya dalam ber-Bangsa dan ber-Negara secara gratis begitu saja … capaian2 itu hanya bisa diraih jika mereka mampu mengenali eksistensi keberadaan dirinya terhadap lingkungan dan alam disekitarnya sendiri. Lalu menemukan jawabannya sendiri apa sebetulnya yang sedang mereka cari

Dari sisi budaya harus bisa membedakan perilaku sosio-kultural masyarakat maritim yg terlahir dari wilayah Nusantara dan perbedaan2 nya dengan perilaku bangsa2 lain secara spesifik dari peradaban daratan. Bahwasanya masyarakat maritim di Nusantara adalah masyarakat gotong-royong , yang secara spesifik bisa saja dipahami dengan cara2 yg sangat sederhana , antara lain:

saat kita menempuh perjalanan diberbagai pelosok penjuru perkampungan atau desa2 , saat anda merasa haus , maka umumnya tersedia air minum didalam kendi yg diletakkan diberbagai balai desa atau disetiap rumah adat tertentu untuk bisa dikonsumsi oleh siapa saja yg membutuhkan , ketika anda ingin menginap , ketika anda merasa lapar dan tak memiliki uang , maka kebersamaan & gotong-royong masyarakat akan mengatasi persoalan2 kemanusiaan tersebut diatas. Berbeda dengan peradaban individualistik yg berkembang pesat di perkotaan yang diadopsi dari budaya individualistik materialistik yang mewajibkan fasilitas2 tersebut hanya bisa diperoleh jika kita punya uang.

‘CLUE’ nya adalah bahwa paham materialistik yg keikut-sertaannya hadir bersama modernisasi yang diterjemahkan oleh hadirnya temuan2 tehnologi dan industrialisasi serta lain2 nya , seyogyanya tidak dibiarkan merusak tatanan kultural yang sudah menjadi falsafah hidup selama ribuan tahun , yang telah mengawali keberadaan masayarakat Nusantara dalam menata cara2 untuk mengelola sistim ber-peri-kehidupannya.

Tatanan2 kultural dari masing2 masyarakat adat tersebutlah yang membidani lahirnya Sistem Nilai yg kemudian ber’metamorfosis’ menjelma menjadi sistem moral yg dianut secara lokalitas oleh masing2 adat istiadat-nya.

Negara yang terdiri dari berbagai lokalitas suku2 bangsa / masyarakat adat beserta tradisi2nya … sudah sewajibnya mampu mengadopsi parameter2 sistem moral dari masing2 lokalitas adat istiadat masyarakatnya , untuk dijadikan rujukan bagi terciptanya ‘kesepakatan moral’ secara nasional yang berfungsi untuk menopang berdiri dan tegaknya sandaran Hukum Negara.

Mekanisme kerja kebudayaan diatas seharusnya menjadi falsafah dasar untuk menerapkan berbagai metoda sistem Pendidikan bagi masyarakat Indonesia. Pendidikan yang berorientasi untuk menciptakan sumber daya manusia yang akan berpihak pada kepentingan2 bangsanya sendiri.

Saya hanya seniman biasa yang ber-opini sebatas daya jelajah alam pikiran saya sendiri . Melalui forum dunia maya ini hanya memberikan semacam introduksi atau kata pengantar . Jika ingin berdiskusi secara detail , teknis , ilmiah , validatif dan akademis , silahkan bergabung dalam ruang2 diskursus Mufakat Budaya , salam

jsop

  

About the Author

Bukan jurnalis bukan pejabat bukan juga politikus apalagi tentara....wong cuman seniman. Ibarat cermin bagi elok rupa maupun cermin bagi buruk rupa. Jangan membaca tulisan saya bila tampilan buruk rupa anda enggan dibaca.

3 Responses to “ sistem moral ”

  1. Very brilliant. It’s so meaningful. Thank you so much.

  2. Thank you so much.

    เกมส์

  3. Nice share info friv.com

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara