mau maju?

Alat tolak ukur kemajuan dari sebuah Bangsa dilihat dari sejauh mana Kebudayaan Bangsa tersebut mampu melahirkan produk2 budaya-nya secara riil dalam menopang kesejahteraan bagi masyarakat bangsanya itu sendiri .

[Yockie itu koq marah2 melulu sih di fesbuk ; selalu saja saya menjumpai orang2 yang ‘nggerendeng’ dibelakang punggung saya. Saya jawab: “mungkin memang sy cenderung marah … karena akumulasi dari daya kritis yang tak juga mendapat perhatian yg serius dari orang2 disekeliling saya sendiri”. ]

orang2 seperti itu memang kelompok2  ‘minoritas’ , mereka2 yg cuman mikirin dirinya sendiri saja , sialnya mereka yg sedikit itu justru mereka cepat bisa jadi kaya karena ‘aji mumpung’ nya , hingga dijadikan semacam ‘referensi’ / alat tolak ukur dari perilaku yg modern.

è … produk hukum kita = memble , produk ekonomi  bangsa ini = semakin tergantung  produk asing , produk politik dalam sistim ke-tata-negara-an = acak adut , produk seni budaya ? … nehi nehi anca anca

Itu semua terjadi karena KEBUDAYAAN hanya dipahami oleh generasi ‘es-mambo’ saat ini ,  sekedar berarti : “tari2an … pemandangan … pariwisata … kenangan2 tradisional” dan sejenisnya . Pada hakekatnya ‘kebudayaan’ adalah peristiwa2 yg bersifat terjadi di masa2 yang lalu/silam , tidak ada relevansinya dengan kebutuhan hari ini dan masa depan. Padahal Kebudayaan secara ‘panoramik / gambar besar’ , adalah:

a. kebudayaan perorangan: perilaku semenjak lahir , lalu melewati proses pendidikan , lalu bermasyarakat , bekerja dan menghasilkan produk2 karya individu/pribadinya.

b. kebudayaan dalam keluarga: perilaku tata kelola rumah tangga berdasarkan kebiasaan2 turun menurun (adat) yang mengajarkan etika sopan santun secara internal (terhadap bapak/ibu/kakak/adik dsb)

c. kebudayaan dalam bermasyarakat: perilaku berkomunikasi terhadap tetangga dan golongan masyarakat lainnya dalam ber-empati , kepedulian sosial , gotong royong dlsb

d. kebudayaan dalam ber-Bangsa/ber-Negara: akumulasi dari ‘a b c’ yang menghasilkan produk hukum , ekonomi , politik , sosial budaya

Espsktasi produk modern yg diharapkan lahir dari Kebudayaan Indonesia saat ini , adalah produk modern yang serba salah kaprah. Produk Modern yg diharapkan , bukan muncul dari proses2 Kebudayaan yg saya ‘lukiskan’ diatas. Tetapi melalui cara2 ‘PENCANGKOKAN’ kebudayaan asing untuk dijejalkan/dipaksakan atas nama Tehnologi hasil temuan Kebudayaan Bangsa2 Asing yg sudah maju lainnya. Tehnologi maju ciptaan bangsa Asing , adalah cermin dari perilaku Kebudayaan Bangsa asing itu sendiri. Kebudayaan masing2 bangsa dimuka bumi ini tidak ada yang sama . Mustinya kita belajar dari sejarah yg dicontohkan oleh perilaku peradaban Nenek Moyang / leluhur kita sendiri  … Ambil outputnya saja yang baik2 dan sesuai , jangan ditiru perilaku kebudayaan “a b c” diatas , sebab memang tidak sama.

[komentar:]

Juga menjadi sebuah keharusan untuk menyediakan media perantara yang baik pengenalan bagi anak2 muda sekarang akan arti kebudayaan yang sesungguhnya, seperti yang mas katakan. Media perantara yang mampu menjelaskan dengan cerdas namun menarik kondisi rill kebudayaan kita beserta aspek2nya yang sebenarnya/apa adanya, serta segala sesuatu yang mesti dipertahankan, diubah maupun diketemukan (kembali) di masa datang. Banyak anak2 muda maupun beberapa generasi tua yang meremehkan arti penting pemahaman arti pengenalan kebudayaan dan isi kebudayaan itu sendiri karena merasa memahami kebudayaan adalah membuang2 waktu dan tidak mengandung tujuan pragmatis di dalamnya. Kalau sudah begini jangankan memahami hakekat kebudayaan, memikirkan apa media yang baik guna melakukan itu akan dikesampingkan. Jadi ibaratnya, boro2 kita mampu “menyeberang jembatan” kalau “jembatannya” saja tidak ada yang tertarik membuat. Menurut saya, membuat jembatan itu tadi juga mesti dipandang sebagai pekerjaan yang tidak kecil karena pembuatnya mestilah memahami mentalitas/kegelisahan anak2 muda generasi MTV ini. Mereka telah terbiasa melihat segalanya hanya sebatas “kotak” TV dan memandang itu sudah sebagai realitas yang ada (jadi itulah pengertian kebudayaan bagi mereka). Untuk membawa anak2 muda ini melihat dengan gambar besar kebudayaan dan mengenali hakekatnya dibutuhkan media pendidikan dan pendidik (dalam arti luas) yang tangguh dan cerdas. Jembatan pengenalan ini juga harus dibangun dengan fondasi yang kuat dan jujur (kepercayaan diri yang tebal) dari para pembangunnya. Jangan terjadi lagi manipulasi media perantara (pendidikan) yang berujung pada manipulasi apa yang ingin dijelaskan (kebudayaan), seperti yang terjadi tempo dulu; berlarut2 dan akhirnya membaurkan fiksi dan realitas (misalnya: saya memahami, di sekolah, bahwa pengendara kendaraan harus menghormati penyeberang jalan yang menyeberang di tempat yang sebenarnya; tapi kenyataannya pengendara di jalanan sama sekali tidak menggubris ini semua; dan masih banyak contoh2 lainnya)

betul , ‘MEDIA PERANTARA’ yang anda maksudkan itu disebut ‘social engineering’ atau mesin rekayasa budaya . Social engineering tidak bisa diserahkan pada dinamika masyarakat yg berkembang dng cepat secara begitu saja tanpa campur tangan NEGARA. Negara adalah manifesto dari satu Kebudayaan yang diterjemahkan lewat aturan2 dan hukum yang diselenggarakan oleh sistem pemerintahan. Artinya Pemerintah dalam artian disini , wajib mengawal Hukum yang melindungi sistim ber-Kebudayaan Bangsa Indonesia itu sendiri. Itu pula yang dipahami sebagai Ideologi dalam ber-Bangsa/Negara. Jika ada sebuah komunal manusia tidak mampu merumuskan peran2 Kebudayaan-nya , maka jelas bahwa masyarakat tersebut juga tidak akan mampu menciptakan sebuah tatanan hidup bersama yg baik (dibawah sistem pemerintahan) yang juga akan melahirkan HUKUM serta mengawal HUKUM2 tersebut lewat berbagai regulasi2 yang berfungsi untuk mengawasi Social Engineering termaksud diatas (MEDIA PERANTARA)

 

jsop

 

 

 

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara