analisa psikologi secara historik

Akupun pernah menjadi bagian dari generasi ‘tuyul’ , satu istilah yg terjadi saat manusia melewati dekade usia2 tertentu , dimana kondisi disekitarnya tidak memberikan dukungan informasi2 minimal sebagai solusi yg berfungsi untuk membantu proses2 pencarian ke-iidentitas-an bagi jati diri.

Perlawanan serta pemberontakan2 terhadap kemapanan yang membelenggu , acapkali terjebak dalam paradigma ‘anti establishment’ yang seseungguhnya artifisial bahkan terkadang absurd , sebab slogan2 tersebut ditiru / ditelan dengan begitu saja secara mentah2 dari paradigma budaya asing yg tak ada korelasinya dengan objektivitas dari persoalan2 yang ada disekitarnya. Namun begitulah semangat ‘militansi’ generasi tuyul itu terbangun disaat akupun relatif masih berusia sangat muda.

Tetapi , perlawanku terhadap segala bentuk perilaku ‘feodalistik’ yang diwariskan kepada paradigma adat jawa yang membelenggu , melahirkan ‘langkah-langkah’ penting dalam sejarah kehidupanku sebagai anak Indonesia. Dari mulai sikap ‘mbalelo’ terhadap ketentuan2 baku dalam keluarga jawa , hingga melebar kepada lingkungan masyarakat yang ada disekitar hidupku sendiri. Semuanya itu menciptakan konsekwensi2 sosial yang suka tak suka harus kuhadapi serta kujalani sendiri , tanpa pertolongan / advokasi dari pihak2 lain atau siapapun juga.

Membuat perjalanan hidupku harus bersentuhan dengan berbagai kenakalan remaja atau lebih tepatnya disebut  ‘penyakit sosial’ , yang satu demi satu harus kulalui sebagai sebuah pembelajaran hidup yang penting , walaupun …. sebenarnya seharusnya cukuplah kita pelajari ilmu kehidupan tersebut lewat catatan2 dalam diktat2 saja , artinya tidaklah harus setiap orang wajib menjalani secara nyata [fisik] baru bisa disebut ‘TAU’ … andaikan sudah ada generasi sebelum generasiku yang mengalami  sebelumnya.

Disaat yang bersamaan , banyak generasi dibawah usiaku yang juga terlibat dalam masa2 pancarobanya , serta ingin pula melakukan hal yg serupa . Namun banyak diantara mereka yang tak kuasa (takut) untuk berani ‘keluar’ dari jerat budaya primordialistik dari masing2 paradigma sub-kultur kebudayaan ndoro-ndoro mereka  , seperti yang saya maksudkan diatas. Akhirnya mereka menjadi  anak2 muda yang ber-keperibadian ganda (maaf) banci. Aku menyebutnya “anak2 mami” yang alih2 sekedar jadi nyentrik. Anak2 menteng yang manja , demikian istilah yg diberikan oleh Rendra , selain ibu2 menteng yg kegiatannya cuma arisan sambil membicarakan kekurangan orang2 lain.

Generasi yang getol bicara modernitas harus diawali dari kebebasan berekspresi , tapi tidak bisa menerima kebebasan orang lain (terutama dari kelompok masyarakat miskin), generasi yang getol bicara kepedulian / kemiskinan namun hidupnya terus menetek orang tua yang relatif berlimpah fasilitas dan kekayaan , padahal kesejahteraan orang tuanya diperoleh lewat jabatan2 oligarki & bisnis2 yg bersifat ‘bimsalabim’. Generasi yang pada akhirnya tanpa rasa sungkan2 memperkokoh identitasnya sebagai epigon atau tiruan dari berbagai tokoh2 idola yang tidak ada hubungannya dng persoalan sosio-kemasyarakatan yg sedang berlangsung di-tengah2 mereka sendiri.

Inilah proses berlangsung dan terpeliharanya mesin2 rekayasa budaya yang menciptakan ‘Generasi Tuyul’ yang saya maksudkan , hingga sampai hari ini.

Saat ini , ketika jaman semakin memfasilitasi hadirnya hegemoni kekuasaan dari bangsa2 asing yg kuat & kaya untuk mengeruk seluruh sumber daya yang kita miliki , maka Generasi Tuyul diatas tidak lagi sebatas menjadi ‘peniru’ agar bisa gagah2an . Namun tanpa disadari mereka semua telah terperangkap menjadi agen2 yang berfungsi untuk memperlancar hadirnya imperialisme baru lewat penjajahan Ekonomi.

Sebagaimana kita ketahui , bahwa cara2 yang diperlukan kaum imperialisme di abad ini tak lagi menggunakan kekuatan senjata untuk menghancurkan lawan2nya seperti yg sudah tercatat dalam peristiwa sejarah2 perang dunia [world war] . Namun , menguasai kebudayaan dari bangsa2 yang ingin ditaklukkan dengan menindas/menghancurkan produk2 kebudayaan mereka yang menjadi unggulan. Dan Generasi Tuyul pun tampaknya semakin menikmati dengan slogan2 dan propaganda yg telah mereka ciptakan , seperti: “enjoy2 aja..lah” dlsb . Fuck The Mainstream!

jsop

 

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara