dunia POP & SERIUS

Dunia POP itu dunia selebrasi yang hanya bergerak ditataran permukaan , dia memang hanya didominasi oleh berbagai hal artifisial guna membangkitkan imaginasi serta daya khayal , dunia POP dibutuhkan sebagai jembatan untuk memasuki dunia SERIUS … dunia POP semustinya menjadi triger bagi lahirnya alternatif serta gagasan2 baru , bukan menghambat apalagi menjadi penghalang

Dunia POP memang harus kooperatif dengan kepentingan industri pragmatis , untuk bergandengan saling membutuhkan. Disatu pihak perlu pertolongan sistem distribusi , dipihak lain memberikan insentif keuntungan secara materi. Namun , di negeri ini regulasi yg mengendalikan aturan2 ber-ekonomi telah memberikan peluang/jalan terbuka bagi kepentingan2 ekonomi hingga meng-hegemoni. Hegemoni industri adalah ‘binatang ekonomi’ yang hanya mau UNTUNG tanpa perlu tau kewajiban sosial dan moral yang harus dipikul , sebagai konsekwensi hidup secara bersama dalam wadah warga atau sebuah komunal/bangsa bahkan Negara.

[facebook: Agus Ferdinand:] …  bagaimana dengan (mudahnya) mem-POP-kan hal-hal yang serius seperti sekarang Mas Jok, seperti fenomena sinetron religi gaul dan lagu2 religi (gaul) musiman.,

-Agus Ferdinand: … cukup dipahami sebagai geliat aktivitas remaja , kodrat remaja memang bersifat paradox sebab kodrat tsb memang hanya ber-main2 diwilayah fantasi. Namun , menjadi sangat merugikan ketika aktivitas anak2 muda remaja tersebut malah mencerminkan pendangkalan yg bertolak belakang dng naluri kodratnya sendiri yg memikul julukan agen2 perubahan. Ini semua ulah ‘operator2′ yang mengendalikan mereka dng iming2 sukses materi dlsb. Ini masalah regulasi yg mengendalikan berbagai sektor2 industri … bukan salah / dosa remaja yg belum tau apa2

Warga Negara kaum keturunan etnis tionghoa , yang secara faktual & kultural memang lebih fasih menguasai pasar ekonomi dan kini menjadi operator2 diberbagai sektor industri vital , harus waspada. Jangan lagi lengah mengulang kesalahan yang sama : “terpedaya oleh naluri ekspansif yang dipersilahkan oleh regulasi serampangan” . Yang pada gilirannya nanti akan dijadikan ‘tumbal’ , sebagai biang kerok kesenjangan yang berpotensi melahirkan kerusuhan2 massal , massive dan berbau ‘rasial’

jadi cina jangan belagu , jawa ojo rumongso , batak jangan berisik dirumah orang , padang jangan mata duitan , ambon jangan nyanyi berantem nyanyi berantem ‘mulu , india jangan niru nazzarudin , elu terusin aja ndiri2 …

Mengelola peradaban itu ibarat mengelola dunia POP dan dunia SERIUS . Dunia POP memberi peluang untuk berpikir ‘avant-garde’ , dunia SERIUS mewujudkan realitas/gagasan [kata dan perbuatan]. Saat ini hedonisme telah menciptakan pola pikir masyarakat kita menjadi stagnan/mandeg ditataran dunia POP. Menjadi ilusif sekedar ber-angan2 , memuja mimpi2 , tanpa dibangunkan kesadarannya untuk berkemampuan menata segala sesuatunya secara konstruktif.

Salah satu contohnya : para pekerja kebudayaan POP seringkali meng-ekspresikan kepeduliannya dalam menyikapi berbagai tragedi atau bencana alam , lewat cara2 yang hanya bersifat ‘selebrasi / seremonial’. Berbondong-bondong orang berkumpul untuk membagi-bagikan ‘materi’ se-olah2 kepedulian selesai cukup di manifestasikan melalui wujud uang. Sementara … setelah ‘acara-panggung’ selesai , mereka ‘bubar-jalan’ , kembali lagi masuk kedalam kotaknya masing2 untuk mengabdi pada hedonismenya masing2 yang hanya memikirkan kesejahteraan bagi dirinya sendiri2.

Terhadap berbagai kesenjangan sosial yang ter-struktur , akibat dari buruknya sistem yang terus berjalan … mereka hanya ‘membungkam’. Karena memang tidak paham … atau juga: peduli setan.

Sampai disini saja sudah bisa kita tarik garis kesimpulan: andaikan yang ‘tidak paham’ atau yg ‘peduli setan’ itu adalah remaja anak baru gede yang masih doyan ‘blingsatan’ … maka itu wajar2 saja , namanya juga ‘darah muda’ :p . Tapi kalau sudah cukup usia , apalagi mendekati ‘bangkotan’ masih juga mendekam berkubang di wilayah2 remaja hura-hura … maka itulah mereka yang saya sebut2 sebagai ‘oportunis jaman’

‎”ah … aku hanya bermusik dan bernyanyi saja , aku hanya mengabdi pada dunia kesenian” (sambil di-elus2 oleh sponsor kacang goreng) ; ini alasan orang2 naif dan cenderung bodoh , serta tidak memahami ‘Ber-Kesenian” itu maknanya apa . Mereka pikir kesenian itu sebatas hiburan , tari2an , nyanyi2an yang tak ada korelasi konsekwensinya pada realita kenyataan. Idem ditto dengan bahasa ‘pemerintah’ dalam memahami KEBUDAYAAN.

jsop

 

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara